Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

lebih-beragam,-lebih-hijau:-mengubah-dunia-lewat-kepemimpinan-beragam-gender
Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender
service

Mubadalah.id – Krisis lingkungan yang kita hadapi sekarang, mulai dari perubahan iklim, hingga sampah yang menumpuk. Membutuhkan cara berpikir baru dalam mengelola perusahaan dan organisasi. Salah satu ide yang belakangan ramai oleh para peneliti adalah soal siapa yang duduk di kursi pemimpin. 

Sebuah kajian yang terpublish dalam jurnal Environment and Social Psychology mencoba menjawab pertanyaan sederhana dan penting ini. Apakah organisasi yang terpimpin oleh lebih banyak perempuan cenderung lebih peduli. Dan lebih berhasil menjaga lingkungan dibanding organisasi yang jajaran pemimpinnya dominasi laki-laki. 

Penelitian tersebut menganalisis lima puluh organisasi dari berbagai sektor, mulai dari energi, manufaktur, jasa lingkungan, teknologi, sampai logistik. Tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan kawasan Asia Pasifik. Hasilnya cukup menarik untuk kita bahas bersama dengan bahasa yang lebih santai.

Ketika Perempuan Naik ke Kursi Pemimpin

Selama bertahun-tahun, dunia kerja masih menghadapi kesenjangan yang lebar. Antara jumlah laki-laki dan perempuan yang duduk di posisi pengambil keputusan tertinggi. Padahal, perempuan sudah lama berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam di tingkat komunitas. Misalnya dalam menjaga hutan, mengelola air, atau membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana. 

Sayangnya, peran besar itu belum sepenuhnya tercermin di ruang rapat perusahaan besar. Para peneliti melihat ini sebagai celah yang perlu diisi, karena keragaman pandangan dalam tim pemimpin dipercaya bisa memperluas cara organisasi melihat masalah dan mencari solusi.

Studi ini menggunakan pendekatan campuran. Yaitu menggabungkan data angka dari laporan lingkungan perusahaan dengan wawancara mendalam kepada sepuluh eksekutif senior. Data soal emisi karbon, konsumsi energi, tingkat daur ulang sampah, dan efisiensi penggunaan air dikumpulkan dari laporan keberlanjutan resmi perusahaan.

Lalu dicocokkan dengan data dari lembaga independen seperti Carbon Disclosure Project dan basis data ESG dari Refinitiv serta Bloomberg. Cara tersebut dipakai supaya angka yang dianalisis benar-benar bisa dipercaya. Sesuai dengan standar pelaporan internasional seperti Global Reporting Initiative.

Organisasi dalam penelitian ini kemudian dikelompokkan menjadi empat kuartil berdasarkan persentase perempuan di jajaran pemimpin. Mulai dari kelompok dengan proporsi perempuan paling rendah sampai kelompok dengan proporsi perempuan paling tinggi. Pembagian kelompok semacam ini membantu peneliti melihat pola secara lebih jelas. Apakah semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin baik pula performa lingkungan organisasi tersebut.

Angka-angka yang Berbicara

Hasil dari penelitian ini memperlihatkan pola yang cukup konsisten di seluruh indikator yang diukur. Organisasi dengan proporsi perempuan pemimpin paling rendah rata-rata melepaskan sekitar 25.000 ton karbon dioksida per tahun. Sedangkan organisasi dengan proporsi perempuan pemimpin paling tinggi melepaskan sekitar 14.800 ton, atau turun sebanyak 40,8 persen.

Pola serupa juga terlihat pada konsumsi energi, di mana kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi mampu menekan pemakaian energi hingga 28,6%. Lebih rendah daripada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah.

Selain soal emisi dan energi, penelitian ini juga melihat pengelolaan sampah dan air. Tingkat daur ulang sampah pada organisasi dengan keterwakilan perempuan tertinggi mencapai 72 persen. Jauh lebih tinggi dibanding 60 persen pada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah. Untuk penggunaan air, kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi mencatat penghematan sekitar 24,1 persen dibanding kelompok lainnya. 

Ketika seluruh indikator ini digabungkan menjadi satu skor gabungan yang kita sebut indeks keberlanjutan komposit. Kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi meraih skor 84 dari 100. Jauh mengungguli skor 65 pada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah.

Dampak Presentase Keterwakilan Perempuan

Peneliti juga menghitung seberapa erat hubungan antara persentase perempuan pada jajaran pemimpin dengan setiap indikator lingkungan menggunakan metode statistik yang disebut korelasi Pearson.

Hasilnya menunjukkan hubungan yang cukup kuat. Keterwakilan perempuan berkaitan erat secara terbalik dengan emisi karbon dan konsumsi energi. Artinya semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin rendah kedua angka tersebut. 

Sebaliknya, keterwakilan perempuan berkaitan erat secara searah dengan tingkat daur ulang sampah dan efisiensi penggunaan air. Artinya semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin baik pula kedua indikator itu.

Seluruh angka ini muncul dengan tingkat kepercayaan statistik yang tinggi, sehingga peneliti cukup yakin bahwa pola ini merupakan pola yang konsisten. Dan kemungkinan kebetulan dalam pengambilan sampel sangatlah kecil.

Analisis statistik lanjutan yang dilakukan peneliti juga menguatkan pola tersebut. Setelah memperhitungkan faktor lain seperti ukuran organisasi, sektor usaha, dan wilayah geografis. Persentase perempuan di jajaran pemimpin tetap menjadi faktor yang berkaitan erat dengan performa keberlanjutan secara keseluruhan. Dan mampu menjelaskan sekitar 61persen.

Para peneliti sendiri berhati-hati dalam menyimpulkan hasil ini. Mereka menekankan bahwa hubungan yang ada bersifat keterkaitan, dan perlu penelitian jangka panjang untuk memastikan arah sebab akibatnya.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah, mengapa organisasi dengan beragam gender atau keterwakilan perempuan lebih tinggi cenderung memiliki performa lingkungan yang lebih baik. Dari wawancara dengan para eksekutif, peneliti menemukan beberapa pola menarik. Tim pemimpin yang lebih beragam gender cenderung membangun budaya kerja yang lebih mengutamakan tanggung jawab jangka panjang. Daripada mengejar keuntungan jangka pendek semata. 

Para eksekutif yang terwawancarai juga menceritakan bagaimana pemimpin perempuan sering mendorong pendekatan yang lebih hati-hati, konsisten, dan terstruktur dalam menyusun kebijakan lingkungan. Misalnya dengan membangun sistem pemantauan yang lebih rapi atau menjalin kerja sama jangka panjang dengan mitra daur ulang.

Selain itu, keragaman pandangan yang terbawa oleh tim pemimpin yang lebih beragam gender juga membantu organisasi melihat masalah lingkungan dari berbagai sudut. Sehingga solusi menjadi lebih menyeluruh. Hal tersebut terlihat dari angka standar deviasi pada setiap indikator, yang cenderung lebih kecil pada kelompok dengan keterwakilan perempuan tinggi. Artinya, performa lingkungan pada kelompok ini lebih stabil dan konsisten dari waktu ke waktu, daripada kelompok lain yang variasinya lebih lebar.

Catatan yang Perlu Kita Kritisi

Meski begitu, penelitian ini juga mengingatkan kita untuk tetap kritis. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum kita menarik kesimpulan terlalu jauh mengenai kepemimpinan beragam gender. Pertama, keragaman gender di sini masih terukur secara sederhana, yaitu perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan saja, sehingga belum mencakup identitas gender yang lebih luas seperti kelompok non-biner. 

Kedua, penelitian tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan perbedaan tekanan regulasi pada setiap sektor dan wilayah. Padahal aturan pemerintah juga besar pengaruhnya terhadap performa lingkungan sebuah organisasi. Ketiga, penelitian ini masih bersifat potret sesaat, sehingga belum bisa menjelaskan apakah pola tersebut akan bertahan dalam jangka panjang, misalnya ketika terjadi pergantian pemimpin pada masa depan.

Terlepas dari berbagai catatan tersebut, hasil penelitian ini tetap memberi gambaran yang berguna bagi siapa pun yang peduli pada masa depan lingkungan kita. Ketika perusahaan dan organisasi mulai serius membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk memimpin, ada kemungkinan besar bahwa langkah kecil ini akan berdampak besar bagi lingkungan sekitar kita. 

Mendukung Keterwakilan Perempuan

Kebijakan yang mendukung keterwakilan perempuan pada posisi strategis, misalnya melalui program pengembangan kepemimpinan atau sistem penilaian kinerja yang menghargai pencapaian keberlanjutan. Layak kita pertimbangkan oleh para pengambil kebijakan dan pemimpin organisasi pada berbagai sektor.

Selain data angka, waancara dengan para eksekutif juga memperlihatkan gambaran yang lebih hidup soal bagaimana proses pengambilan keputusan berjalan di lapangan. Beberapa eksekutif menceritakan bagaimana kehadiran pemimpin perempuan sering membawa cara pandang yang lebih peka terhadap dampak jangka panjang sebuah kebijakan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap karyawan dan masyarakat sekitar. 

Cara pandang semacam ini, menurut para peneliti, membantu organisasi membangun sistem tata kelola lingkungan yang lebih rapi, mulai dari pelatihan karyawan soal isu lingkungan, penyusunan target emisi yang lebih terukur, sampai kerja sama dengan mitra eksternal untuk mendukung praktik ramah lingkungan.

Hasil dari kajian ini tentu perlu kita baca dengan pikiran yang terbuka dan kritis. Sampel lima puluh organisasi memang tergolong cukup untuk menemukan pola statistik yang jelas, meski jumlah ini masih terbatas jika kita bandingkan dengan puluhan ribu perusahaan yang beroperasi di seluruh dunia. Setiap sektor usaha juga punya tantangan lingkungan yang berbeda beda. Sehingga perusahaan pada sektor energi misalnya, punya tekanan regulasi yang jauh berbeda daripada perusahaan pada sektor teknologi. 

Refleksi

Penelitian ini mengajak kita untuk melihat keberlanjutan lingkungan juga sebagai soal siapa yang duduk pada meja pengambil keputusan (selain soal teknologi atau anggaran). Semakin beragam suara yang kita dengar dalam sebuah organisasi, semakin besar pula peluang munculnya kebijakan yang lebih peka terhadap kebutuhan bumi kita. 

Penelitian lanjutan tentu masih kita butuhkan, terutama untuk melihat pola ini dalam jangka waktu yang lebih panjang dan pada berbagai wilayah dengan latar belakang budaya serta aturan yang berbeda. Meski begitu, keberagaman kepemimpinan dan kepedulian pada lingkungan bisa berjalan beriringan, saling menguatkan satu sama lain menuju masa depan yang lebih hijau. []

Sumber:

Saad Ahmed, O., Saad Jasim, D., Mohammed, Z.M., Abduljabbar Al-Dargazaly, R.A. and Abbas, H.A. (2025). Gender Diversity in Environmental Leadership and Its Impact on Sustainability. Environment and Social Psychology, 10(11). doi:10.59429/esp.v10i11.3977.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.