Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Tidak Menikah, Gak Apa-apa, Kan?

Tidak Menikah, Gak Apa-apa, Kan?

tidak-menikah,-gak-apa-apa,-kan?
Tidak Menikah, Gak Apa-apa, Kan?
service

Mubadalah.id – Ada sebuah takarir pendek di media sosial, berbunyi: “Sebab kata orang-orang, pernikahan bukan ajang perlombaan”. Takarir itu melengkapi pelbagai foto yang, bagi saya, cukup berani untuk tampil di jagat media sosial. Musabab, bahasannya, bagi sebagian orang mungkin cukup tabu untuk dibahas-persoalkan.

Postingan itu berupa ajuan pertanyaan di sebuah papan tulis kecil yang dialamatkan kepada para khalayak. Pertanyaan berbunyi: “Gak nikah gapapa, kan?”. Lantas kepada setiap orang pertanyaan itu dialamatkan dengan menyembulkan pelbagai jawaban. Mereka yang menjawab pada saat didokumentasikan, identitasnya disembunyikan dengan menutup wajahnya menggunakan kantong plastik hitam.

Satu orang menjawab, “Gapapa, soalnya ibu sakit, nanti dia sama siapa?”. Membaca jawaban ini dengan mengalaskan pada kehadiran sosok ibu membikin saya terenyuh. Bagaimana dia mengorbankan (waktu) pernikahannya demi rasa peduli pada keluarga. Sebuah keputusan yang berat dan legowo yang tak semua bisa menunaikannya.

Orang berbeda menjawab: “Gapapa, soalnya  bayar kos aja masih nunggak”. Siratan ini menjawab berarti ada dari sebagian kita yang masih—dan mungkin akan terus—bergulat dengan persoalan ekonominya. Dia menepikan sejenak sebagian haknya (termasuk menikah), hanya demi memrioritaskan hak asasinya mendapat tempat tinggal, sesuai UUD NRI 1945 Pasal 28H ayat (1).

Poros Kesetaraan

Jawaban berbeda dari seorang perempuan duduk di atas  sepeda motor: “Gapapa, soalnya kapok diselingkuhi lima kali”. Persoalan semakin rumit, justru seseorang enggan menikah karena faktor hubungan percintaan itu sendiri yang berkali-kali terkhianati. Cinta, satu sisi, menjadi fondasi keharmonisan seseorang, tapi di sisi lain, juga menjadi bumerang yang memberi kefatalan.

Masih berasal dari jawaban seorang perempuan: “Gapapa, soalnya susah cari laki-laki yang gak patriarki”. Jawaban semakin mengerucut, artinya bisa jadi penyebab turunnya angka pernikahan ialah karena perempuan lebih berhati-hati memilih pasangannya. Maksudnya, memilih sesuai dengan kesamaan visi dan tujuan hidup. Keduanya tidak berperan sebagai superior-inferior, melain berkedudukan secara egaliter.

Dua orang lelaki di pinggir jalan menjawab: “Gapapa, soalnya gaji masih UMR”. Menandakan bahwa urusan menikah tak melulu soal cinta dan kasih sayang. Memang dua hal tadi perlu, tapi pasangan juga mesti siap menghadapi problema lain yang nyata: ekonomi, umpamanya. Kita tak menafikan bahwa rezeki dan gaji itu berbeda. Namun, di negara ini, apa-apa harus ditebus menggunakan uang. Saya jadi teringat tulisan di bokong truk yang mutakhir tengah ramai: “Legal or illegal, money is money. Di negara ini yang haram hanya babi”.

Datang jawaban dari pedagang keliling mengenai psikologi: “Gapapa, soalnya belum bisa kontrol emosi”. Kadang rasa cinta itu bisa menyakitkan manakala terbaluti rasa ketergesa-gesaan. Saya setuju dengan jawaban ini, jika memang belum cukup bisa mengontrol emosi, sebaiknya tidak (terburu-buru) menikah. Bayangkan, hanya karena egoisme pribadi, pasangan kita mesti tersakiti luapan emosi tanpa batas.

Saya ingin setiap kita yang hendak menikah introspeksi dan perbaiki diri lebih dulu sebelum benar-benar ingin mengajak orang terkasih hidup bersama. Jangan sampai kebersamaan itu menyakiti salah satunya. Ingat, dalam buku Hukum Perkawinan dalam Islam (1956), Mahmud Junus menulis bahwa pernikahan yang banyak kemadaratannya, menyakiti pasangan salah satunya, itu haram.

Terkahir datang membawa atas nama pejuang keluarga: “Gapapa, soalnya masih jadi tulang punggung keluarga”. Dimensi kehidupan setiap orang itu amat berbeda dan beragam. Tak semuanya mulus dan lancar. Kadang kala, di sebelum waktunya, seseorang mesti berperan ganda. Seorang kakak, misalnya, harus menjadi tulang punggung keluarga menghidupi adik-adiknya sebab orang tua mereka sudah tidak ada. Alasan itulah yang, kira-kira, tersirat dalam jawaban terakhir ini.

Di Ambang Renjana

Membaca sampel jawaban-jawaban pertanyaan “Tidak menikah, nggak apa-apa, kan?” di atas membuat saya sadar bahwa betapa berat cobaan hidup setiap orang. Sampai pada taraf privat, urusan menikah, pun segala perkara mengitarinya.

Memang secara normatif (das sollen) dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan aturan fikih, pelaksanaan pernikahan semata menjalankan seperangkat rukun-rukunnya. Padahal dalam kenyataan (das sein) tidak sesederhana dan semudah itu. Banyak bala-rintang inhibisi yang mengganjal.

Pernikahan biasanya memang memberi berjuta impian. Namun, mimpi itu juga mempunyai dua sudut: indah atau buruk. Sesiapapun dari kita tak ingin impian pernikahannya berada di sudut buruk karena terkendala pelbagai hal dan persoalan. Dalam kanon sosial, kita hidup tidak di zaman sempurna yang mengharuskan setiap orang berpasangan. Lain hal manakala meminjam kacamata agama.

Bahwa ternyata pernikahan bagi sebagian orang itu lantas tak menjadi prioritas hidup. Apakah salah? Belum tentu. Mari menormalisasi, bukan menghakimi, dengan maksud menghargai mereka yang belum menikah. Atau, jika ada, yang memutuskan untuk “gak nikah”, harus mesti kita hormati juga.

Kita tidak tahu alasan “pasti” mengapa mereka belum menunaikan jalan ibadah terpanjang itu. Jangan pernah menghakimi sepihak jika tak tahu persoalannya. Kita tak pernah tahu bagaimana keadaan mental, ekonomi, dan hal genting lainnya setiap orang bagaimana.

Barangkali mereka yang tak lekas atau tidak mau menikah menyadari ada hal yang mesti mereka selesaikan terlebih dahulu. Setelah semuanya  membaik semoga jalan suci pernikahan dimudahkan oleh Tuhan. Amin. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.