Suasana Masjid Raya An-Nur Pekanbaru siang itu terasa begitu tenang setelah imam menutup ibadah salat Jumat dengan zikir dan doa. Gema bacaan tasbih masih terdengar berirama lembut dari shaf-shaf para jamaah yang mulai bergeseran.
Di tengah keheningan itu, seorang pria berpakaian serba putih nampak memindahkan sebuah meja kecil ke bagian tengah shaf pertama tepat dibelakang sajadah imam.
Dalam hitungan detik, ratusan pasang mata jamaah mulai menatap ke arah meja itu. Sudah biasa saban Jumat, selepas penutupan ibadah akan ada sesuatu yang sakral di sana, momen ketika saudara baru dalam Islam–mualaf–mengucap dua kalimat syahadat yang menandai lembar baru laku hidupnya.
Tak lama berselang, seorang pria berwajah teduh berjalan mendekat. Senyumnya mengisyaratkan ketenangan. Matanya lembut tapi penuh keyakinan. Dialah Ustaz Rubianto, sosok yang telah membimbing ratusan mualaf menapaki perjalanan baru hidup mereka sebagai seorang muslim.
Setiap kali prosesi itu berlangsung, Rubianto selalu duduk di depan para mualaf bukan sebagai ustaz tapi sebagai saudara, ayah, dan sahabat. Ia memastikan tidak ada paksaan, tidak ada janji duniawi, melainkan hanya keikhlasan hati.
“Ada yang memaksa? Ada yang menjanjikan sesuatu?” begitu pertanyaan yang tidak pernah luput diucapkan ustaz kelahiran 56 tahun lalu itu sebelum membimbing calon muslim bersyahadat.
Dan ketika dua kalimat syahadat itu diucapkan, suasana masjid seketika berubah. Banyak mata yang basah, banyak hati yang tersentuh. “Allahu Akbar,” teriakan para jemaah menyambut para mualaf itu.
Dari Dunia Perikanan ke Jalan Dakwah
Tidak banyak yang tahu, suami dari Rosmalinda yang kini dikenal luas di kalangan para pendakwah Riau ini sebenarnya seorang insinyur perikanan. Ia menempuh pendidikan di bidang yang jauh dari ilmu agama. Namun takdir sering kali membawa seseorang ke arah yang tak terduga.
“Dari muda saya sudah aktif di kegiatan remaja masjid. Saat kuliah, saya tetap mencari waktu untuk belajar agama lewat berbagai organisasi,” kenangnya, lalu melanjutkan, “tapi ternyata, makna hidup yang sesungguhnya justru ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Lahir di Pekanbaru, 7 Januari 1969, ayah empat anak itu ternyata sudah tumbuh dalam lingkungan religius. Meski lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unri, ia sudah mengenal Alquran sejak belajar di MDA Masjid Taqwa Muhammadiyah.
Di sekolah keagamaan yang berlokasi di Jalan Pepaya, Kecamatan Sukajadi Kota Pekanbaru itu merupakan tempat di mana benih cintanya pada ilmu agama pertama kali dipupuk dan tumbuh.
Masih segar dalam ingatan Ustaz Rubi, pada 2015 aktif di berbagai kajian dan menjadi pengurus di sejumlah masjid termasuk di Masjid Al – Falah di Jalan Sumatera dan Masjid Annur Riau. Namun baru pada 2018 hidupnya benar-benar bertambah indah.
Ia menceritakan, saat itu ia diajak Ustaz Zulkarnain Umar terlibat aktif di Mualaf Center An-Nur Pekanbaru. “Prinsip saya tidak akan pernah menolak selama itu untuk kebaikan. Tetapi kita juga harus ahli di bidang yang kita tekuni dan hadapi,” ungkapnya dengan tegas.
Tak sampai di situ saja, Ustaz Rubi juga mengatakan bahwa baginya di mana pun berada harus bermanfaat untuk orang lain, dan harus ahli di bidang itu. Sejak saat itu, ia mengabdikan diri membimbing para mualaf dengan sabar dan kasih sayang.
Bahkan tak jarang ia merogoh sakunya sendiri untuk sekedar memotivasi mualaf untuk belajar dan bertahan hidup. “Awalnya berat, banyak air mata, banyak kisah yang menyayat hati. Tapi saya selalu pastikan, setiap mualaf masuk Islam karena kesadaran, bukan tekanan,” katanya.
Menuntun dengan Hati
Bagi Rubianto, menjadi mualaf bukan sekadar berpindah keyakinan, tapi juga berjuang menemukan rumah baru. “Banyak yang datang bukan hanya mencari agama, tapi juga mencari tempat berlindung. Karena setelah masuk Islam, mereka sering dikucilkan, bahkan kehilangan keluarga,” ucapnya lirih.
Setiap tahun, Mualaf Center An-Nur menerima sekitar 90 hingga 100 mualaf baru, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum. Prosesi syahadat hampir selalu dilakukan di shaf pertama Masjid Raya An-Nur, disaksikan jamaah salat Jumat. Tidak jarang pula di ruang sekretariat, itu bagi mereka yang meminta dirahasiakan.
“Itu momen yang sangat menggetarkan. Setiap kali kalimat syahadat diucapkan, suasana masjid seakan dipenuhi cahaya,” ujarnya dengan senyum haru.
Rubianto menyimpan banyak kisah yang menggugah hati tentang mualaf. Salah satunya tentang seorang remaja Tionghoa berusia 17 tahun yang diam-diam datang ingin belajar Islam. Setelah bersyahadat, keluarganya marah besar. Ia dipukul, diusir, sampai akhirnya mencari perlindungan di Pekanbaru.
“Ayahnya mencarinya sampai ke sini. Kami sempat bersembunyi, berpindah-pindah, sampai akhirnya ia aman. Kini anak itu hidup dengan tenang dan terus belajar agama,” tuturnya pelan.
Ada pula seorang pemuda yang begitu cepat memahami Islam hingga bertekad menjadi pendakwah dalam dua tahun. “Saya sering bilang, tugas saya hanya menuntun. Hidayah itu milik Allah. Islam baru bagi mualaf, maka wajib hukumnya belajar. Tetapi tetap patuhi orang tua kecuali disuruh meninggalkan islam,” ucapnya dengan senyum damai.
Selain membimbing mualaf, Rubianto ternyata juga aktif membina generasi muda. Ia saat ini aktif sebagai pembina di Pondok Pesantren Darul Khair Pekanbaru di Kulim Kecamatan Tenayan Raya. Di sana tempat ratusan santri belajar kitab kuning, bahasa Arab, tahfiz, dan akhlak mulia.
Tak berhenti di situ, ia juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Haramain Darul Khair Kota Pekanbaru yang merupakan lembaga bimbingan manasik haji yang telah mendampingi ribuan jemaah menuju Tanah Suci.
“Kita harus menyelesaikan tanggung jawab ini. Capek itu biasa, tapi kalau lihat jamaah yang tadinya bingung, lalu lancar beribadah di Tanah Suci, itu kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan,” ungkapnya.
Mimpi yang Belum Selesai
Meski telah membimbing ratusan mualaf dan ribuan jamaah, Rubianto masih menyimpan satu mimpi besar yaitu mendirikan rumah singgah bagi para mualaf.
“Saya sering menangis kalau tahu ada mualaf yang tidak punya tempat tinggal. Kadang saya ingin bawa mereka ke rumah, tapi terbatas. Saya ingin ada tempat mereka bisa aman, belajar, dan merasa diterima,” ucapnya lirih.
Baginya, rumah singgah itu bukan sekadar bangunan, tapi simbol kasih sayang umat Islam kepada saudara baru mereka. “Banyak mualaf yang dikucilkan, diputus bantuan, kehilangan pekerjaan. Kita harus bantu mereka sampai kuat aqidahnya,” tegasnya.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkiprah dalam dakwah, Ustaz Rubianto tetap setia menuntun siapa pun yang mencari cahaya.
“Capek itu biasa,” ujarnya sambil tersenyum, “tapi ada kebahagiaan luar biasa ketika bisa menolong orang. Itu kepuasan batin yang tak tergantikan. Saat orang lain bahagia, capek itu hilang seketika,” ujarnya menegaskan. (Eko)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama




Comments are closed.