Jakarta, NU Online
Wacana perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dari pemilihan langsung menjadi melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) masih dibahas menjelang Muktamar ke-35 NU.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengatakan usulan tersebut masih digodok oleh tim materi Muktamar ke-35 NU dan selanjutnya akan dibahas dalam Komisi Organisasi.
Menurutnya, keputusan mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU akan dikembalikan kepada peserta Muktamar.
“Iya, nanti di dalam Muktamar di Komisi Organisasi, dipilih langsung atau oleh AHWA itu nanti di Muktamar,” kata Kiai Miftach kepada wartawan di Depok, Minggu lalu.
Kiai Miftach mengatakan NU menghadapi berbagai tantangan memasuki abad kedua, termasuk perkembangan era digital yang semakin kompleks. Karena itu, persiapan dan musyawarah dengan mengedepankan tradisi mufakat diperlukan dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan.
“Banyak tantangan dan syarat-syarat yang harus bisa dipenuhi,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jawa Timur, itu.
Dua Opsi Pemilihan Ketum
Senada dengan Kiai Miftach, Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil mengatakan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU akan dibahas dalam Komisi Organisasi Muktamar ke-35 NU.
“Ada dua opsi yang muncul, yakni Ketua Umum dipilih langsung oleh muktamirin atau dipilih oleh Rais Aam yang telah terpilih,” kata Gus Ulil.
Menurut Gus Ulil, mekanisme yang akan digunakan masih menunggu keputusan pleno Komisi Organisasi dalam Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
“Muktamar dapat menggunakan metode yang selama ini berlaku atau menetapkan metode baru jika usulan perubahan AD/ART disepakati,” katanya.
AHWA Beranggotakan Sembilan Ulama
Musyawarah AHWA pada Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, yang berada di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan nilai sejarah serta semangat Mbah Wahab dalam menggerakkan dan membesarkan NU.
AHWA merupakan forum musyawarah yang beranggotakan sembilan ulama sepuh. Forum tersebut nantinya menyepakati ulama yang dipandang mampu mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah berikutnya.
Pada Muktamar ke-34 NU di Bandarlampung, sembilan ulama sepuh dari berbagai wilayah di Indonesia mengisi keanggotaan AHWA. Mereka dipilih berdasarkan perolehan suara terbanyak dari nama-nama ulama yang diusulkan PCNU dan PWNU se-Indonesia.





Comments are closed.