Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Yang Baru

Yang Baru

yang-baru
Yang Baru
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Kemajuan apa saja yang terjadi selama 20 tahun terakhir di bidang transplantasi hati? Yang terbaru: penggunaan robot di saat pengambilan hati milik pendonor yang akan diberikan kepada pasien. Yang Baru Sembilan bulan lalu Nisa menjadi orang pertama di RS Persahabatan Beijing. Separo hati Nisa dipotong untuk dipasang di badan suaminyi sendiri. Kemarin saya bertemu Nisa dan suami. Dua-duanya sangat sehat. Belum begitu lama pulang dari haji.

Tiga bulan lalu, di RS Fatmawati Jakarta, dilakukan transplantasi hati dengan teknik yang juga baru –meski tidak sebaru robot. Yakni pengambilan hatinya dilakukan dengan tehnik laparoskopi. Baru sekali itu dilakukan di Indonesia. Perut pendonor tidak perlu disayat panjang. Cukup 15 cm.

Kok masih 15 cm? Tidak cukup dikeluarkan lewat lubang selang untuk memasukkan kamera dan pisau?

Laparoskopinya sendiri memang tidak perlu sayatan panjang. Begitu kamera dan pisau dimasukkan lewat ujung ”selang” dokter melakukan pemotongan hati pakai tuas di komputer seperti dalam permainan game. Masalahnya, separo hati yang sudah terpotong itu harus dikeluarkan: untuk dipasang di tubuh pasien. Mengeluarkan separo hati tidak bisa lewat lubang seukuran selang. Harus tetap dilakukan sayatan. Hanya saja tidak perlu lagi sayatan yang sampai 25 cm. Untuk mengeluarkannya tidak perlu pakai tangan dokter.

Yang terjadi di RS Fatmawati –RS milik pemerintah pusat di Jakarta Selatan seperti halnya RS dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat– adalah penerapan apa yang sudah biasa dilakukan di Korea Selatan. Yakni oleh Prof Lee dari Seoul National University Hospital (SNUH). Prof Lee sendiri datang ke RS Fatmawati mendampingi pelaksanaan transplantasi: separo hati seorang anak (26 tahun) diberikan kepada ayah (52 tahun).

Rasanya baru dua kemajuan itu yang terjadi selama 20 tahun terakhir. Tentu termasuk teknik cara mengeluarkan sepotong hati itu. Tidak lagi pakai tangan. Setelah hati terpotong, potongan itu dibungkus dengan plastik steril. Tentu jenis plastik khusus. Bukan tas kresek. Yang melakukan pembungkusan pun alat. Setelah hati terbungkus barulah bungkus itu ditarik keluar lewat sayatan sekitar 15 cm.

Anda sudah tahu: organ hati sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun cukup. Yang penting saat ditarik tetap utuh. Tidak remuk. Yang mudah remuk itu kalau hati sudah dibakar jadi sate.

Sesulit apa pun penarikan dari perut pendonor, lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter lebih hebat dari insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel super komputer. Kabelnya masih bisa dilihat oleh mata. Yang dilepas dalam pemotongan hati adalah syaraf-syaraf halus, tidak terlihat oleh mata, jumlahnya luar biasa banyak –saya tidak punya kemampuan menghitungnya. Juga harus memotong saluran-saluran darah yang tidak kalah lembutnya dan banyaknya.

Tentu lebih sulit lagi memasangnya di tubuh pasien: menyambungkan seluruh syaraf dan pembuluh darah saat hati dari pendonor dipasang di pasien. Sangat rumit. Jauh lebih mudah keluarkan saja fatwa: itu haram!

“Nisa, coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?” tanya saya ke Nisa lewat WA. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin mengukurnyi sendiri: Mas Olik, suaminyi bisa melotot.

“10 cm Pak,” jawabnyi.

Nisa adalah S-1 keperawatan alumnus Universitas Airlangga. Pasangan dari Mojosari (猫草沙利) Mojokerto ini masih berumur 40 tahun lebih. Nisa kian langsing dan cantik. Itu karena, setelah sehat lagi, suaminyi tambah segar, terlihat lebih muda dan lebih ganteng.

Berarti sayatan dalam teknologi robot lebih minimalis dari yang terjadi di RS Fatmawati. Itu tidak terlalu penting. Yang penting sudah kian bertambah rumah sakit di dalam negeri yang mampu melaksanakan transplantasi.

Yang Baru

Seorang dokter mengoperasikan robot untuk melakukan transplantasi –WashU Medicine-

RS Cipto Mangunkusumo sudah beberapa kali melakukannya. Tim dokter transplannya sudah bisa dibilang matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan. Kini RS Fatmawati mulai mencobanya dengan pendampingan dari Korea.

Kalau ditanya orang yang ingin transplan hati –tidak sedikit yang menanyakan itu– biasanya saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya berikan juga nama dan nomor HP orang yang sudah sukses menjalaninya. Misalnya seorang perwira menengah polisi yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya masih kapten. Sekarang sudah kolonel polisi (Kombespol). Beliau selalu bersedia ketika saya tanya apakah nomor HP-nya boleh saya berikan ke orang yang ingin transplan. Hanya saja saya kehilangan nomor orang yang sudah sukses di RSCM. Yang nomor teleponnya masih ada di HP saya orangnya sudah tidak ada. Saya perlu mencari siapa yang lain yang juga masih sukses sampai sekarang.

Yang sudah meninggal itu sama sekali bukan karena transplantasinya gagal. Saya lihat itu sepenuhnya faktor si pasien. Ups….Bisa juga bukan salah pasien. Mungkin keadaan yang salah. Ia tidak disiplin minum obat pasca-transplant. Misalnya saat saya bertemu dengannya: ia bilang sudah tiga bulan tidak minum obatnya.

Mungkin karena tidak mampu membelinya. Mungkin juga karena merasa kesehatannya baik-baik saja. Saya cenderung menilai dua-duanya.

Saya sendiri begitu takut untuk tidak minum obat itu. Tidak pernah lupa sehari pun. Termasuk ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Memang tidak murah. Total sekitar 7 juta sebulan.

Ada obat anti rejeksi –agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima. Anda sudah tahu sistem tubuh: benda asing apa pun harus ditolak. Termasuk hati anak maupun istri sendiri: sama-sama hati tapi tetap diperlakukan sebagai benda asing.

Lalu, kalau kerusakan hati itu akibat hepatitis B, harus minum obat anti hepatitis. Juga seumur hidup. Memang hepatitis B itu menyerang liver. Ketika livernya sudah ”dibuang”, diganti liver ”baru” bukankah harusnya hepatitisnya sudah ikut terbuang? Kenapa masih diharuskan minum obat?

Saya pernah mendiskusikannya dengan dokter transplat saya: ternyata sebenarnya virus hepatitis B itu tidak pernah benar-benar hilang dari sel di tubuh yang pernah menderitanya. Masih tetap ada ”bibit”-nya. Ngendon di sel tubuh.

Ketika saya minum obat itu ”bibit” tersebut ‘tidur’. Tidak bisa berkembang. Tapi begitu imunitas tubuh turun ”bibit” itu bisa hidup lagi. Berkembang. Lalu masuk ke hati: ”baru”.

Saya pun wanti-wanti ke Mas Olik: jangan sampai abai minum obat. “Kalau sampai virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati ”baru”, berarti Anda menghina istri Anda. Hati Anda itu hatinya Nisa,” kata saya. Suami istri itu pun sangat paham.

Di bidang dua jenis obat itu, selama dua puluh tahun terakhir, masih sama. Saya sesekali bertanya: apakah ada obat yang lebih baru? Lebih hebat?

Saya menanyakannya karena siapa tahu sudah ada yang lebih aman untuk ginjal dan tidak mengurangi kepadatan tulang. Obat yang saya minum mengandung dua efek samping itu.

“Belum ada yang lebih baru” ujar dokter. Dua puluh tahun! Belum ditemukan yang baru.

Bisa saja itu bukan berarti lambat. Bisa jadi penemuan obat itu, dulu, sudah begitu bagusnya. Setidaknya dengan berpikir begitu membuat jiwa lebih tenang. Bukan? (DAHLAN ISKAN)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.