Thu,7 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. ‘Yohanna’: Pergulatan Iman dan Perjalanan Kemanusiaan Seorang Suster yang Hambar

‘Yohanna’: Pergulatan Iman dan Perjalanan Kemanusiaan Seorang Suster yang Hambar

‘yohanna’:-pergulatan-iman-dan-perjalanan-kemanusiaan-seorang-suster-yang-hambar
‘Yohanna’: Pergulatan Iman dan Perjalanan Kemanusiaan Seorang Suster yang Hambar
service

Sekelompok suster sedang bermain bola di pantai. Suara riang dan tawa mengiringi aksi mereka mengoper bola di kaki diselingi kicauan burung. Keriuhan itu terjeda oleh suara seorang suster yang memanggil Yohanna.

“Yohanna, Yohanna, Yohanna,” teriaknya.

Yohanna dipanggil suster kepala untuk berbicara empat mata di ruangannya.

“Saya sudah membaca surat pengunduran diri kamu dan saya sangat mengerti. Kamu terlalu muda ketika untuk pertama kali masuk biara. Saya pun pernah mengalami krisis keyakinan seperti itu,” kata suster kepala kepada Yohanna.   

“Saya sudah tidak punya lagi keyakinan, saya merasa tuhan jauh sekali dari jiwa saya,” balas Yohanna.

“Tapi kamu tetap seorang biarawati sampai kami mengkaji surat permohonan kamu itu. Tapi ada tugas buat kamu,” lanjut suster kepala.

“Saya sudah sering berdoa untuk keputusan ini,” jawab Yohanna

“Kadangkala kita harus menjelajahi dunia untuk mendapatkan jawaban-jawaban. Doa tidak selalu bisa membantu kita. Dan kamu bisa menolong sesama. Kamu akan pergi ke sebuah tempat dimana kamu betul-betul dibutuhkan,” kata suster kepala.

Adegan di bagian awal yang diperankan dengan apik oleh Jajang C Noer (suster kepala) dan Laura Basuki (Yohanna) ini menjadi pembuka yang cukup menjanjikan. Apalagi ditambah konteks cerita berupa kondisi masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca siklon tropis Seroja menghantam pada April 2021 sebagai latar.

**

Yohanna, film karya Razka Robby Ertanto, bercerita tentang seorang suster atau biarawati muda yang mengalami krisis keimanan dan hendak keluar dari keanggotaan kongregasi atau tarekat religius. Ia lalu diutus ke tengah-tengah masyarakat untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada para korban bencana ekologis di Sumba, NTT. Harapannya sang suster akan menemukan jawaban atas pergulatan batinnya dan makin memahami panggilan imannya.

Baca juga: Film ‘Para Perasuk’: Dari Agensi Guru Asri Kita Membaca Kisah Perempuan, Tanah, dan Spiritualitas

Yohanna pun memulai perjalanannya. Misi yang semula ia kira akan bisa diselesaikan dengan cepat justru membawanya masuk dalam realitas kehidupan yang keras yang membuatnya harus mengambil keputusan-keputusan yang tak mudah.

Kenapa premis film ini menjanjikan? Perjalanan tokoh perempuan merupakan salah satu fokus kajian dalam teori film feminis. Perjalanan dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan seorang perempuan karena mengandung proses transformatif menuju pembebasan dari belenggu patriarki. Ada perubahan posisi dari objek pasif menjadi subjek aktif yang punya agensi dan kemampuan menentukan nasib sendiri.

Perjalanan tokoh perempuan ini sering digambarkan melalui film-film bertema perjalanan (road movies) atau pencarian (quest). Tema ini memungkinkan karakter atau tokoh perempuan untuk merebut kembali ruang publik, menumbuhkan solidaritas dan mendefinisikan ulang identitas mereka.

Dengan kata lain dalam kacamata teori film feminis, genre film perjalanan mengalami definisi ulang. Jalanan terbuka secara historis kerap dianggap sebagai ruang petualangan yang identik dengan maskulinitas. Ketika karakter perempuan masuk dalam ruang ini, mereka menantang dinamika kekuasaan berbasis gender yang selama ini berlaku dalam dunia sinema.

Lebih jauh teori film feminis menyoroti bahwasanya perjalanan memungkinkan perempuan untuk beralih dari kondisi “ditempatkan” atau terperangkap menuju kondisi yang penuh mobilitas. Artinya perempuan secara aktif “menuliskan” kisah hidup mereka sendiri.

Sayangnya premis yang kuat tersebut tidak diikuti dengan pendalaman karakter dan alur cerita yang mulus. Sejumlah adegan yang seharusnya menggugah sering kali jadi terasa hambar, entah itu karena dialog yang nanggung, kedalaman emosional yang kurang digali, koherensi narasi yang lemah, maupun penyampaian cerita yang datar.

Benar bahwa Robby mampu menghadirkan realitas kelam di Sumba, mulai dari eksploitasi pekerja anak, kemiskinan, perkawinan anak, kekerasan terhadap perempuan, human trafficking atau perdagangan manusia berkedok rekrutmen kerja, hingga aparat penegak hukum yang korup.

Baca juga: Film Kill Bill: Perempuan Merebut Otonomi Tubuh, Tapi Male Gaze Membayangi

Tetapi berbagai peristiwa tersebut yang terjadi sepanjang perjalanan yang ia tempuh dengan ditemani Malu (Iqua Tahlequa) sebagian terkesan hanya menjadi tempelan. Sang sutradara terkesan berambisi untuk mendedah semua persoalan sosial yang ada tetapi gagal merangkainya menjadi cerita yang koheren. Apalagi mengondisikannya sebagai ruang bagi sang protagonis untuk mengeksplorasi proses transisi karakternya. Karena itu dinamika batin dan pergulatan iman Yohana pun tidak terolah dengan baik.

Adegan penting ketika Yohanna mengambil keputusan untuk mengikuti “aturan main” yang berlaku di masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia pegang sebagai orang beriman dengan bermain judi demi mendapatkan uang sebagai tebusan atas mobil pinjaman yang dicuri, tidak tergarap dengan baik. Begitu juga adegan lain yang memperlihatkan Yohanna terpaksa melakukan sejumlah dosa.

Bagaimana pertentangan batin yang terjadi hingga Yohanna sampai pada keputusan tersebut? Bagaimana pertimbangan-pertimbangan yang mendasari keputusan tersebut? Atau bagaimana Yohanna yakin atas keputusan yang ia ambil? Sayangnya penjelasan atas pertanyaan tersebut tidak muncul dalam film.

Singkatnya pendalaman karakter tokoh utama yang seharusnya menjadi kekuatan film ini tidak diolah dengan baik. Meski akting Laura Basuki cukup bagus tetapi tidak mampu menutupi kurangnya kedalaman dalam eksekusi.

Sementara solidaritas dan persahabatan antarperempuan yang biasanya saling menguatkan dalam menghadapi persoalan yang sistemik dan menjadi aspek penting dalam film-film perjalanan perempuan juga tidak digarap dengan baik.

Baca juga: Jawaban untuk Perempuan Yang Merindukan Cinta Setara dalam Heated Rivalry 

Dinamika pertemanan mereka terasa datar, meskipun ada sejumlah adegan yang bisa memperkuat cerita. Adegan ketika Malu marah karena Yohanna menyimpan foto Malu yang lama, cukup menggangu dengan editing yang kasar dan terpotong. Begitu juga adegan ketika Malu mmpertanyakan keputusan Yohanna meskipun ia juga pernah mengambil keputusan yang sama terasa agak janggal.

Ini bukan kali pertama Robby mengangkat kisah biarawati. Pada 2019, Robby pernah menggarap Ave Maryam yang mengikuti konflik batin terkait cinta, nafsu, dan sumpah ketaatan sang protagonis, Maryam. Sementara dalam Yohanna, Robby menyoroti krisis iman yang dialami tokoh utama.  

Meski sama-sama mengangkat kisah seorang suster katolik, dengan jeda waktu yang cukup panjang antara Ave Maryam dengan Yohanna, tetapi terlihat belum ada kematangan dalam membangun karakter sang protagonis di film terbarunya.

Pergulatan batin Yohanna sebagai seorang perempuan sekaligus biarawati tidak mampu diterjemahkan secara visual. Benar bahwa sang sutradara mampu menggambarkan realitas persoalan yang ada di Nusa Tenggara Timur dengan cukup gamblang, tetapi kesinambungan antara pendalaman karakter, penggarapan cerita dan alur masih menyisakan sejumlah catatan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.