Surabaya, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa manusia tidak bisa lepas dari bala atau ujian selama hidupnya, bahkan hingga meninggalkan dunia ini. Mengutip QS Al-Mulk Ayat 2, Kiai Miftah menyebutkan bahwa ujian tersebut sudah menjadi ketetapan Allah swt.
“Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Kiai Miftach juga menukil firman Allah dalam Hadits Qudsi yang mengancam bagi siapa saja yang tidak ridha akan ketetapan-Nya berikut.
“Allah berfirman: Barang siapa yang tidak ridha atas qadha-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku”.
Meski begitu, ia menegaskan Allah tidak sekadar menguji, karena dalam setiap ujian terdapat hikmah yang besar. Di antaranya, Dia ingin hamba-Nya menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar, dan terbiasa dengan ikhtiar memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
“Pasti di balik itu ada hikmahnya. Apa hikmahnya? Tahan uji, apa hikmahnya? Mencari jalam keluar, dan seterusnya,” katanya saat Ngaji kitab Syarah Al-Hikam dalam pertemuan ke-158, dikutip dari kanal Multimedia KH Miftachul Akhyar, Rabu (6/5/2026).
“Maksudnya Allah membiasakan kita agar selalu berikhtiar mencari jalan keluar manakala kita diuji olah Allah, dan ujian itu pasti terjadi selama hidup ini,” tambahnya.
Lebih jauh, pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini menegaskan setiap ujian yang diberikan kepada manusia sangatlah kecil dibandingkan kasih sayang Allah kepadanya. Hal ini menurutnya penting diyakini, sehingga tidak akan pernah mengeluh, bahkan menyangkal ketetapan Allah.
“Yang menakdirkan semua itu adalah Allah yang memiliki sifat kasih sayang, yang kasih sayangnya kepada kita ini jauh lebih luas daripada ghadabnya, daripada saat menyiksa, termasuk daripada penyakit atau bala yang kita rasakan,” jelasnya.
Dengan begitu, ujian bukan lagi menjadi beban yang demikian berat. Karena di samping adanya kesadaran akan takdir Allah, juga meyakini bahwa kasih sayang Allah yang besar tidak akan terkurangi sedikitpun, kendati sedang memberikan bala kepada manusia.
“Nah, kalau kayak gini enteng hidup,” tegasnya.




Comments are closed.