Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. 4 Psikolog Kompak Sarankan Satu Kalimat agar Hubungan dengan Anak Makin Dekat

4 Psikolog Kompak Sarankan Satu Kalimat agar Hubungan dengan Anak Makin Dekat

4-psikolog-kompak-sarankan-satu-kalimat-agar-hubungan-dengan-anak-makin-dekat
4 Psikolog Kompak Sarankan Satu Kalimat agar Hubungan dengan Anak Makin Dekat
service

Jakarta

Hubungan yang dekat antara orang tua dan anak bisa didapat dengan kebiasaan serta ucapan-ucapan baik. Seperti apa kalimat yang dianjurkan para psikolog?

Ya, para psikolog mengungkap bahwa ada satu kalimat sederhana yang mampu membantu meningkatkan kedekatan antara anak dan orang tua.

Ucapan tersebut bukan hanya menunjukkan kematangan emosional orang tua, tetapi juga dapat membantu membangun kembali kepercayaan anak dan mempererat ikatan dalam keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peran orang tua dalam psikis anak

Menurut psikolog Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C, orang tua tanpa sadar sebenarnya menjadi ‘suara batin’ yang terus menemani anak-anak mereka sepanjang hidup.

Penting untuk dipahami bahwa kata-kata orang tua juga memiliki pengaruh besar, bahkan ketika anak telah dewasa.

“Ketika orang tua mengucapkan kata-kata yang tepat, hal itu memiliki kekuatan membuat anak merasa aman,” ujarnya, seperti dikutip dari Parade.

Sebaliknya, ketika orang tua mengatakan sesuatu yang menyakitkan atau meremehkan perasaan anak, luka yang ditimbulkan akan terasa jauh lebih dalam dibandingkan jika hal itu diucapkan oleh orang lain. Sebab bagi anak, orang tua adalah sosok yang seharusnya paling mengenal diri mereka.

Hal serupa disampaikan oleh psikolog klinis, Dr. Holly Schiff, Psy.D, bahwa banyak orang tua kesulitan menghadapi perubahan terkait pertambahan usia anak karena krisis identitas.

“Selama ini peran orang tua sangat melekat sebagai pengasuh dan sosok yang memegang kendali. Padahal anak yang sudah dewasa tetap menginginkan kedekatan emosional dengan orang tua,” imbuhnya.

Kalimat terbaik untuk menjaga hubungan anak dan orang tua

Para psikolog sepakat bahwa ada satu hal terbaik yang tanpa disadari orang tua bisa menjaga kedekatan dengan anak, yakni tidak malu meminta maaf.

Kalimat yang bisa digunakan misalnya: ‘Maaf atas kesalahan yang pernah Bunda lakukan’.

“Mengakui kesalahan secara tulus dan meminta maaf dapat menjadi bentuk validasi yang sangat berarti bagi orang yang menerimanya,” ujar psikolog Dr. Anna Plotkina, Psy.D.

Plotkina menjelaskan bahwa validasi merupakan salah satu alat paling kuat untuk membangun hubungan dan proses penyembuhan luka batin.

Dr. Schiff juga sependapat, tetapi ia juga mengakui bahwa kalimat tersebut tidak selalu mudah diucapkan oleh orang tua.

Alasannya, karena sebagian besar dari mereka merasa malu, takut dianggap salah, serta khawatir hal ini bisa mengurangi otoritas sebagai ‘orang tua’.

Psikolog lainnya, Dr. Michele Goldman, Ph.D., menyarankan agar orang tua tidak menunda meminta maaf termasuk pada anak yang sudah dewasa ketika:

  • Orang tua memang telah menyakiti anak, meskipun tidak disengaja.
  • Hubungan tersebut penting untuk dipertahankan dan masih memungkinkan untuk diperbaiki.
  • Orang tua benar-benar memahami apa yang telah terjadi dan menyadari peran dalam masalah tersebut.
  • Orang tua siap mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Bagaimana cara mengucapkan maaf yang tepat pada anak?

Kalimat meminta maaf memiliki kekuatan besar, tapi tetap perlu digunakan dengan cara yang tepat.

“Biarkan permintaan maaf itu berdiri sendiri. Saya tidak menyarankan mengucapkannya jika hanya bertujuan untuk mengakhiri pembicaraan,” pesan Goldman.

Kalimat ini juga tidak boleh digunakan apabila tujuan utamanya adalah hanya untuk membuat anak merasa bersalah.

Ia mengingatkan bahwa permintaan maaf yang dijadikan alat manipulasi akan terasa tidak tulus dan justru dapat menambah jarak emosional.

Mengapa kalimat maaf bisa memperbaiki hubungan anak dan orang tua?

Kalimat meminta maaf dapat membawa perubahan besar dalam hubungan antara orang tua dan anak dewasa, tapi sayangnya hal ini masih jarang dilakukan.

Selain itu, pengucapan kalimat sederhana tersebut juga menunjukkan adanya rasa saling menghargai.

Ketika orang tua tidak pernah meminta maaf, anak yang sudah dewasa akan terus mempertanyakan dirinya sendiri, bahkan juga tentang hubungan yang dimiliki dengan orang tua.

Menurut Dr. Goldman, kalimat ini menunjukkan kedewasaan emosional sekaligus membantu menyembuhkan luka lama, keraguan terhadap diri sendiri, dan dinamika hubungan yang tidak sehat.

“Banyak anak membawa beban akibat kesalahan orang tuanya seolah-olah semua itu adalah kesalahan mereka sendiri,” ujar Guarnotta.

Mendengar orang tua mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut dapat meringankan beban anak. Dalam jangka panjang, ini bisa membentuk dasar hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk merasa didengar, dipahami, dan divalidasi akan membantu memperbaiki hubungan yang mungkin sempat retak.

Jika selama ini anak merasa tidak pernah dipahami atau diabaikan, permintaan maaf tersebut juga dapat memutus pola yang telah berlangsung.

5 Cara lain untuk memperbaiki hubungan orang tua dan anak

Ilustrasi Ibu dan AnakIlustrasi Bunda dan Anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/BongkarnThanyakij

Selain dengan kalimat meminta maaf, apa lagi cara-cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak? Berikut ulasannya:

1. Tidak ragu introspeksi diri

Goldman berpesan agar orang tua tetap mau belajar untuk introspeksi diri dan memperbaiki jika perlu, terlepas dari hubungan dengan anak yang sudah dewasa.

Sebagai contoh, orang tua mungkin perlu belajar mengelola emosi dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Hal ini menunjukkan bahwa orang tua benar-benar berusaha menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus menyembuhkan dirinya sendiri.

2. Berusaha memahami pengalaman anak

Jika perlu, orang tua juga bisa mengajak anak dewasa untuk membantu memahami sudut pandangnya.

Saat nantinya anak mulai terbuka, dengarkan terlebih dahulu. Setelah itu, ajukan pertanyaan lanjutan daripada langsung mengoreksi atau memberikan penjelasan.

Seiring waktu, cara ini akan membangun kepercayaan dan menciptakan ruang emosional yang lebih aman bagi anak.

3. Jangan terburu-buru ingin langsung menyelesaikan masalah

Melihat anak semakin bertambah dewasa menghadapi kesulitan memang tidak mudah bagi orang tua.

Namun, bukan berarti tugas orang tua adalah langsung menyelesaikan semua masalah mereka, seperti dahulu saat anak masih kecil.

“Daripada langsung memberi tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah, ajukan pertanyaan terbuka agar orang tua memahami bagaimana menurut mereka masalah tersebut sebaiknya dihadapi,” kata Guarnotta.

Sebagai contoh, ia menyarankan orang tua untuk memberi validasi dan bertanya pendapat anak tentang kondisi yang sedang dihadapi.

Hal ini menunjukkan bahwa orang tua memandang anak sebagai orang dewasa yang mampu mengambil keputusan, sekaligus menempatkan diri sebagai pendukung, bukan untuk langsung menyelesaikan masalah.

4. Hormati ketika anak berkata ‘tidak’

Ketika anak yang sudah dewasa menetapkan batasan dan mengatakan ‘tidak’, sebaiknya orang tua tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bersifat pribadi.

Tanggapi dengan keyakinan bahwa ini berarti anak sudah mulai memahami kebutuhan dirinya sendiri dan mampu memperjuangkannya.

Dengan menghormati batasan tersebut tanpa membuat mereka merasa bersalah, anak akan merasa dihargai dan lebih terbuka untuk berbagi dengan orang tua.

5. Hargai anak seutuhnya

Orang tua juga sebaiknya berusaha mengenal pribadi yang telah berkembang dalam diri anak, bukan hanya merayakan pencapaiannya.

“Hargailah sifat-sifat baik mereka, selera humornya, dan cara unik mereka memandang dunia,” pesan Guarnotta.

Sampaikan secara langsung mengapa Bunda sangat mengapresiasi hal-hal tersebut. Sering kali orang tua hanya memikirkannya dalam hati atau menceritakannya kepada orang lain, tetapi lupa mengatakannya kepada anak secara langsung.

Itulah penjelasan tentang satu kalimat agar hubungan dengan anak makin dekat sesuai psikolog. Ingatlah bahwa kebutuhan akan kedekatan emosional tetap ada, begitu pula besarnya pengaruh kata-kata orang tua.

Kalimat meminta maaf memiliki dampak yang sangat kuat bagi mental anak. Kalimat ini dapat membantu memperbaiki hubungan, memberikan validasi, sekaligus mengurangi luka batin yang selama ini mungkin dipikul anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.