Jakarta, Arina.id — Forum Lingkar Jagat merupakan ruang dialog yang digagas Jaringan Gusdurian untuk mempertemukan tokoh agama, akademisi, aktivis lingkungan, dan masyarakat dalam membahas persoalan lingkungan serta mendorong keadilan ekologi.
Forum ini menjadi bagian dari Gerakan JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi). Forum Lingkar Jagat digelar di berbagai daerah dengan mengangkat persoalan lingkungan yang dinilai paling mendesak di masing-masing wilayah.
Ketua Panitia Festival JAGAT 2026, Aulia Abdurrahman Soleh, mengatakan Forum Lingkar Jagat menjadi ruang perjumpaan untuk membangun dialog sekaligus memperkuat kolaborasi lintas komunitas dalam menghadapi persoalan ekologis.
“Forum Lingkar Jagat adalah forum diskusi publik yang digagas Jaringan Gusdurian sebagai bagian dari Gerakan JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi),” kata Aulia dalam keterangan yang diterima Arina.id, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, forum tersebut telah hadir dengan beragam tema di tingkat daerah. Di Yogyakarta, misalnya, Forum Lingkar Jagat membahas persoalan sampah melalui tema Yogyakarta Merdeka dari Sampah, Mungkinkah?. Sementara di Mojokerto, forum mempertemukan lintas agama dan komunitas untuk membicarakan akar masalah serta solusi penanganan sampah.
Forum juga mengangkat isu transisi energi berkeadilan di kawasan geothermal Dieng, Banjarnegara. Beragam isu tersebut menunjukkan bahwa pembahasan Forum Lingkar Jagat disesuaikan dengan tantangan lingkungan yang dihadapi masyarakat setempat.
Pada Festival JAGAT 2026, Forum Lingkar Jagat akan hadir dalam skala lebih besar dengan nama Majelis Keadilan Ekologi. Forum ini mengusung tema Agama untuk Alam Semesta: Merusak Alam Sama Dengan Merusak Kemanusiaan dan digelar Sabtu (29/8/2026) di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur.
Majelis Keadilan Ekologi akan diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang. Kegiatan dibagi menjadi tiga sesi, yakni Tobat Ekologi: Tanggung Jawab Agama Terhadap Krisis Ekologi, Merawat Bumi dari Akar Rumput, dan perumusan Risalah Jagat.
Sesi pertama membahas hubungan agama dengan keadilan ekologi, sedangkan sesi kedua mengangkat praktik baik pelestarian lingkungan oleh organisasi dan komunitas keagamaan, energi terbarukan, serta reforestasi.
Sementara sesi terakhir diarahkan untuk menyusun Risalah Jagat, sebuah panduan moral bersama bagi gerakan lintas iman dan pemangku kepentingan dalam memperkuat advokasi keadilan ekologi.
“Melalui dialog yang mendalam, forum yang akan diikuti oleh 150 peserta dari berbagai latar belakang ini bertujuan merumuskan sebuah Risalah Jagat,” ujar Aulia.
Festival JAGAT 2026 berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 di Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, dan Pesantren Tebuireng, Jombang.
Masyarakat yang berminat mengikuti Festival Jagat 2026 dapat mendapta melalui tautan s.id/festivaljagat.





Comments are closed.