Thu,3 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. 6.902 Hotspot di Kalimantan Bikin Udara Tak Sehat, Tata Kelola Karhutla Disorot

6.902 Hotspot di Kalimantan Bikin Udara Tak Sehat, Tata Kelola Karhutla Disorot

6.902-hotspot-di-kalimantan-bikin-udara-tak-sehat,-tata-kelola-karhutla-disorot
6.902 Hotspot di Kalimantan Bikin Udara Tak Sehat, Tata Kelola Karhutla Disorot
service

Jakarta, NU Online

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman bagi masyarakat di Kalimantan. Di tengah kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat 6.902 titik panas sepanjang 25 hingga 31 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.201 titik panas berada di Pulau Kalimantan.

Kondisi itu menunjukkan persoalan karhutla belum tertangani secara serius. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah secara konsisten berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya selama sepekan terakhir.

Analisis citra satelit Walhi juga menunjukkan hampir 50 persen titik panas terindikasi berada di areal kerja korporasi sektor kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Temuan tersebut memperkuat pertanyaan mengenai pengawasan terhadap kawasan konsesi dan efektivitas pencegahan karhutla.

Pengampanye Hutan dan Kebun Eksekutif Nasional Walhi Umi Ma’rufah menyebutkan, selama 25 hingga 31 Agustus 2026, titik panas tersebar di sejumlah areal kerja perusahaan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Analisis ini menunjukkan peristiwa karhutla merupakan konsekuensi dari kegagalan tata kelola perizinan, karena penerbitan perizinan di atas ekosistem gambut, pengawasan yang buruk, hingga kegagalan penegakan hukum,” ujarnya dalam keterangan diterima NU Online, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, temuan titik panas di areal konsesi tidak sekadar berkaitan dengan siapa yang melakukan pembakaran.

“Tetapi juga siapa yang lalai mencegah kebakaran dan mengapa negara membiarkan situasi tersebut terus berulang,” katanya.

Umi menjabarkan bahwa berdasarkan analisis Walhi terdapat 1.882 titik panas di Kalimantan dan Sumatra berada di atas ekosistem gambut selama satu minggu. Indikasi kebakaran kawasan gambut ditemukan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.

Ia menilai bahwa kegagalan melindungi gambut memperlihatkan belum seriusnya komitmen Folu Net-Sink yang menjadikan perlindungan ekosistem gambut sebagai salah satu sektor utama untuk memenuhi target NDC Indonesia.

“Alih-alih menggenjot upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut, negara malah gagal mencegah kebakaran yang mengakibatkan pelepasan emisi karbon dalam jumlah besar, merusak fungsi hidrologis, memperpanjang durasi kebakaran, dan memperparah dampak kabut asap yang mengancam kesehatan serta keselamatan masyarakat,” tandas Umi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.