Mubadalah.id – Yang dimaksud dengan istilah penyakit yang menular melalui hubungan seksual adalah infeksi yang menjangkiti seseorang akibat melakukan hubungan seksual dengan orang lain yang telah lebih dahulu tertular. Semua bentuk hubungan seksual dapat menjadi media penularan penyakit.
Jadi, baik melalui vagina, dubur, maupun mulut, apabila terdapat infeksi pada bagian tersebut, penyakit dapat menular. Bahkan, dalam beberapa kasus, penyakit dapat menular hanya melalui gesekan penis yang telah terinfeksi ke vagina, atau sebaliknya.
Yang juga perlu Anda ingat adalah, apabila Anda mengidap penyakit semacam ini saat hamil, bayi yang berada dalam kandungan dapat ikut tertular. Bayi juga dapat terinfeksi saat proses persalinan.
Mengapa penyakit-penyakit yang menular melalui hubungan seksual harus segera ditangani sedini mungkin? Karena apabila terlambat diobati, penyakit tersebut dapat mengakibatkan:
Pertama, Anda dan pasangan mengalami kemandulan atau kehilangan kesuburan. Kedua, bayi lahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, atau mengalami kebutaan.
Ketiga, terjadi kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik pada saluran tuba). Keempat, nyeri di bagian bawah perut yang tidak kunjung hilang.
Kelima, kanker mulut rahim. Keenam, Anda atau pasangan meninggal akibat infeksi berat atau AIDS.
Penyakit-penyakit yang menular melalui hubungan seksual dapat menjangkiti perempuan maupun laki-laki. Namun, perempuan lebih mudah tertular dari laki-laki daripada sebaliknya.
Mengapa demikian? Karena selama hubungan seksual berlangsung, penis masuk ke dalam tubuh perempuan melalui vagina, anus, atau mulut. Bibit penyakit yang terdapat di dalam air mani kemudian masuk ke bagian-bagian tubuh perempuan sehingga dapat mengancam rahim, saluran kemih, dan indung telur.
Karena sebagian besar infeksi tersebut berada di dalam tubuh perempuan, gejalanya sering kali lebih sulit diamati dibandingkan pada laki-laki.
Akibatnya, lebih sulit menentukan apakah seorang perempuan mengidap salah satu penyakit tersebut atau tidak, terlebih lagi untuk mengetahui secara pasti jenis penyakit yang ia derita. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 340.





Comments are closed.