Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Labirin Lumpur di Perbukitan Kapur Jampang

Labirin Lumpur di Perbukitan Kapur Jampang

labirin-lumpur-di-perbukitan-kapur-jampang
Labirin Lumpur di Perbukitan Kapur Jampang
service

Senin sore, 29 Desember 2025, seharusnya menjadi waktu yang tenang bagi warga Kampung Cilawang, Desa Panumbangan, Sukabumi. Namun, setelah hujan deras mengguyur selama satu jam, keheningan pecah oleh suara gemuruh yang tidak lazim. Bayu Anggara, seorang warga setempat, menyaksikan fenomena yang membingungkan sekaligus mengerikan: aliran air berwarna putih pekat menyapu jalan provinsi ruas Jampangtengah–Kiaradua, merendam pertokoan, hingga menerjang sepuluh rumah warga dengan material lumpur hitam yang pekat dan sulit dibersihkan.

“Kami curiga karena biasanya hujan durasi satu jam tidak pernah mengakibatkan banjir sampai masuk ke permukiman,” ungkap Bayu. Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Apa yang melanda Cilawang hari itu bukanlah sekadar kiriman air langit, melainkan “trauma ekologis” yang lahir dari perut perbukitan kapur yang terkoyak.

Ketidakpuasan warga terhadap dalih “faktor alam” mendorong mereka melakukan inspeksi mendadak ke area perbukitan di atas pemukiman mereka. Di sana, bukti kelalaian terpampang nyata. Warga menemukan kubangan raksasa bekas galian tambang seluas 10 meter yang penuh air hujan. Ketika tanggul alaminya tak lagi sanggup menahan beban, ribuan meter kubik air bercampur limbah batuan tumpah ke hilir. Di lokasi tersebut, alat-alat berat masih bersiaga, seolah tidak peduli dengan risiko bencana yang mengintai warga di bawahnya.

Secara teknis, banjir ini adalah konsekuensi logis dari hilangnya vegetasi. Analisis hidrologi menunjukkan bahwa pembukaan lahan tambang telah mengubah koefisien limpasan (runoff coefficient) dari 0,1-0,2 (hutan) menjadi 0,7-0,9 (area terbuka). Artinya, hampir seluruh air hujan kini langsung menjadi aliran permukaan karena ekosistem karst yang seharusnya bertindak sebagai spons raksasa telah hancur oleh dinamit pertambangan.

Dampak kerusakan ini meluas hingga ke Dusun Leuwi Dinding, Desa Tanjungsari. Di sana, banjir lumpur dari Gunung Guha mengakibatkan jembatan gantung yang menjadi urat nadi warga putus diterjang luapan Sungai Cimandiri yang terbebani sedimentasi tinggi. Akibatnya, warga terisolasi dan harus memutar sejauh 6 kilometer untuk keluar wilayah.

Potret buram pendidikan pun muncul. Anak-anak sekolah kini harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan perahu karet. “Ini sangat berbahaya, apalagi kalau debit air sungai sedang tinggi,” ujar salah seorang warga dengan nada getir.

Winas, seorang aktivis pelestarian karst, menjelaskan bahwa isu Gunung Guha adalah tentang ketimpangan kekuasaan. Saat musim hujan, warga dihantam banjir lumpur; namun saat kemarau, mereka justru mengalami kekeringan ekstrem. “Bak tabungan” air di dalam perut bumi telah hancur oleh aktivitas ekstraktif.

Di tengah pusaran ini, nama besar seperti Siam Cement Group (SCG) melalui PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi (TSS) menjadi sorotan. Meskipun beroperasi dengan izin resmi, tekanan industri skala besar ini diduga mengancam keanekaragaman hayati unik, termasuk habitat udang purba (Stenasellus) dan potensi wisata Situ Cipiit.

Masalah kian rumit dengan menjamurnya penambangan tanpa izin (PETI). Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, tercatat ada sekitar 1.400 lubang tambang ilegal di Sukabumi, termasuk 88 lubang yang baru saja ditutup di wilayah Cisolok pada November 2025.

Visualisasi dibuat Gemini Canvas

Perlawanan dari Alun-Alun

Kesabaran warga akhirnya mencapai titik nadir. Pada 30 Desember 2025, Alun-alun Jampang Tengah dipadati massa dari Paguyuban Armada Cilawang dan Aliansi Masyarakat Jampangtengah. Fadel, Wakil Paguyuban Armada Cilawang, menegaskan bahwa mereka menuntut tanggung jawab nyata. “Bencana ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Aktivitas pertambangan harus dievaluasi,” tegasnya.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dalam sidak sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa kepatuhan terhadap dokumen lingkungan adalah kunci. Namun, bagi warga yang setiap hujan harus bersiaga dengan sapu dan sekop, kata-kata “koordinasi” sering kali terasa kosong jika mesin tambang masih terus meraung di hulu.

Upaya normalisasi di 25 sungai yang dilakukan oleh UPTD PSDA Wilayah Sungai Cisadea–Cibareno pada Januari 2026 disambut baik, namun dianggap hanya solusi sementara. Lusie, pejabat UPTD PSDA, mengakui bahwa sedimentasi ekstrem telah mengubah alur sungai dan mengancam permukiman.

Tanpa audit lingkungan independen, moratorium tambang ilegal, dan percepatan penetapan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunung Guha sebagai wilayah lindung, Jampangtengah akan terus terjebak dalam labirin bencana.

“Sudah saatnya karst bersuara—dan manusia mendengarnya sebelum semuanya terlambat,” pungkas Winas.

Reportase kolaboratif Ekuatorial dengan SukabumiUpdate.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.