Thu,3 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Viral Epstein Files, Psikolog Soroti Pedofilia dan Pentingnya Sistem Perlindungan Anak

Viral Epstein Files, Psikolog Soroti Pedofilia dan Pentingnya Sistem Perlindungan Anak

viral-epstein-files,-psikolog-soroti-pedofilia-dan-pentingnya-sistem-perlindungan-anak
Viral Epstein Files, Psikolog Soroti Pedofilia dan Pentingnya Sistem Perlindungan Anak
service

Jakarta, NU Online

Kasus dugaan praktik pedofilia yang dikenal sebagai “Epstein Files” memicu keresahan luas. Fenomena ini dinilai berbahaya karena melibatkan relasi kuasa dan jaringan elite, sehingga berpotensi menyulitkan proses penegakan hukum dan perlindungan korban.

Psikolog Klinis Welas Asih Consulting, Bianglala Andriadewi, menjelaskan bahwa pedofilia merupakan gangguan preferensi seksual terhadap anak-anak yang bersifat patologis. Selain ketertarikan seksual menyimpang, pelaku kerap menunjukkan distorsi kognitif, seperti pembenaran atas perilaku salah serta minim rasa bersalah terhadap korban.

“Kasus seperti ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak tidak semata persoalan individu, tetapi juga bisa terkait sistem dan relasi kuasa,” ujar Bianglala kepada NU Online, Selasa (10/2/2026).

Ia menilai pembiaran, normalisasi perilaku menyimpang, serta ketimpangan kekuasaan menjadi faktor yang memperkuat praktik tersebut. Dalam konteks tertentu, keterlibatan figur berpengaruh dapat menciptakan hambatan sosial maupun struktural dalam pengungkapan kasus.

Bianglala juga menekankan perbedaan antara pedofilia dan child grooming. Pedofilia merupakan gangguan psikoseksual, sedangkan child grooming adalah strategi manipulatif untuk membangun kedekatan dan kepercayaan anak guna mempermudah eksploitasi seksual.

“Grooming adalah pola perilaku manipulatif, sementara pedofilia adalah gangguan preferensi seksual. Keduanya bisa saling berkaitan, tetapi tidak selalu identik,” jelasnya.

Dari sisi korban, dampaknya sangat serius dan dapat berlangsung jangka panjang. Anak yang mengalami kekerasan seksual berisiko mengalami trauma kompleks, gangguan kecemasan, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), gangguan regulasi emosi, serta distorsi konsep diri hingga dewasa.

Tanda-tanda klinis yang perlu diwaspadai antara lain perubahan perilaku mendadak, mimpi buruk berulang, reaksi emosi berlebihan atau justru tumpul, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga gangguan relasi interpersonal.

“Pada anak, perubahan perilaku dan emosi sering menjadi indikator awal yang paling terlihat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi krisis kepercayaan korban terhadap orang dewasa maupun sistem perlindungan, terutama jika pelaku berasal dari lingkungan yang memiliki otoritas atau pengaruh.

Selain itu, paparan berulang terhadap pemberitaan kasus predator seksual dapat memicu retraumatisasi bagi penyintas kekerasan seksual. Karena itu, Bianglala mengimbau media dan masyarakat bersikap bijak dalam menyikapi informasi.

Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya edukasi publik tentang perlindungan anak, penguatan sistem pelaporan yang aman, serta pendampingan psikologis yang profesional bagi korban dan keluarga.

“Perlu dibedakan antara sikap waspada dan panik. Yang terpenting adalah membangun sistem yang melindungi anak dan menyediakan ruang aman bagi korban,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.