Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Setelah Rohana dan Rojali, muncul Rocadoh: Peluang mal untuk bangkit

Setelah Rohana dan Rojali, muncul Rocadoh: Peluang mal untuk bangkit

setelah-rohana-dan-rojali,-muncul-rocadoh:-peluang-mal-untuk-bangkit
Setelah Rohana dan Rojali, muncul Rocadoh: Peluang mal untuk bangkit
service

● Usai Rojali-Rohana, mal kedatangan rombongan baru yakni Rocadoh.

● Rocadoh berkumpul di mal bukan untuk belanja tapi mencari jodoh melalui Cindomatch.

● Fenomena ini bisa dijadikan titik transformasi bisnis mal.


Setelah Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli), baru-baru ini mal ramai didatangi oleh rombongan baru. Mereka adalah Rocadoh (rombongan cari jodoh).

Semua berawal dari sebuah kegiatan di Mall of Indonesia, Jakarta, bernama Cindomatch di periode paruh akhir tahun 2025 lalu.

Layaknya biro jodoh, Cindomatch merupakan ajang para jomlo untuk mendapatkan pasangan. Program ini sedikit banyak mirip dengan Shanghai Marriage Market di Cina, tapi skalanya masih tergolong kecil.

Awalnya Rocadoh terbatas untuk kalangan warga Tionghoa semata. Namun belakangan, para Rocadoh berasal dari semua kalangan dan menjangkau mal-mal lain di Jakarta dan Surabaya.

Fenomena ini menarik mengingat mal adalah salah satu unit bisnis yang mengalami disrupsi atas perubahan perilaku belanja masyarakat akibat perkembangan pesat e-commerce.


Read more: Maraknya ‘Rojali’ hingga ‘Roh halus’: Tren sesaat atau perlambatan ritel?


Terlepas dari viralitas Rocadoh, fenomena ini bisa menjadi indikasi perubahan fungsi mal sebagai tempat pertemuan sosial. Pengelola mal bisa memanfaatkan tren ini untuk mengembangkan bisnisnya.

Minat masyarakat ke mal masih tinggi

Sejatinya, mal dirancang sebagai mesin transaksi dengan logika bisnis sederhana, yakni kunjungan → konversi → penjualan. Pengelola biasanya mengukur keberhasilan bisnis malnya lewat tingkat penjualan per meter persegi.

Semua berubah begitu memasuki era “e-commerce boom”. Saat ini, konsumen bisa membeli hampir semua produk secara online dengan harga yang lebih kompetitif dan pengiriman cepat.

Mall of Indonesia di Jakarta jadi tempat asal muasal kemunculan Rocadoh. Andi Ariesda/ Shutterstock.com

Akibatnya, intensitas transaksi di mal terkikis, hanya menyisakan ruang fisik yang memang tidak bisa didigitalkan. Namun, karena sudah eksis sejak puluhan tahun silam, mal sudah menjadi salah satu ruang interaksi sosial masyarakat.

Secara urutan, mal merupakan tempat sosial masyarakat nomor tiga) setelah rumah dan tempat kerja. Ini tercipta, khususnya di perkotaan, lantaran ruang publik terbuka semakin terbatas, kurang aman, dan nyaman.


Read more: Fenomena ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ bikin mal berubah fungsi


Peluang bisnis baru mal

Karena masih jadi pilihan tempat untuk didatangi, pengelola mal berpeluang mengembangkan bisnisnya dari fenomena Rocadoh. Ini dilandasi oleh konsep experience economy theory (teori ekonomi pengalaman).

Fenomena Rocadoh dapat dilihat sebagai implementasi konkret dari pergeseran tersebut: mal menjadi panggung pengalaman sosial, bukan sekadar tempat konsumsi. Studi lembaga riset pasar global, Euromonitor, pada 2024 menemukan adanya kecenderungan konsumen melirik pengalaman fisik dan sosial pascapandemi.

Karena itu, jika dikelola dengan tepat, fenomena Rocadoh bisa memantik transformasi model bisnis mal yang semula pusat transaksi menjadi ekosistem sosial.

Sementara itu, jika diabaikan, atau tidak diintegrasikan dengan strategi komersial yang tepat, ia hanya menjadi keramaian tanpa cuan berarti.

Kegiatan-kegiatan unik seperti “Cindomatch” terbukti bisa meningkatkan kunjungan orang tanpa biaya promosi besar. Ini memperkuat posisi mal sebagai ruang komunitas dan gaya hidup.


Read more: Rojali-rohana hingga anjloknya ritel: Gejala masyarakat lelah berbelanja


Dengan basis kedatangan orang yang besar, maka mal perlu melakukan ekspansi monetisasi event berbasis komunitas.

Melalui diversifikasi event yang baik, transaksi di tenan makanan-minuman, hiburan, dan gaya hidup bisa meningkat. Di sisi lain, tambahan transaksi akan sulit terwujud untuk tenan berbasis produk seperti fesyen lantaran metode pembeliannya sudah berfokus di kanal digital.

Sebagai gantinya, pengelola mal bisa menggandeng para tenan berbasis produk untuk memeriahkan event mal sebagai satu kesatuan. Kolaborasi ini bertujuan untuk meredam risiko trafik tinggi tapi minim transaksi—terjadi akibat fenomena Rojali dan Rohana.

Wujud transformasi mal

Terlepas dari hitung-hitungan bisnis, fenomena Rocadoh mengingatkan kita bahwa bisnis ritel bukan hanya soal barang, tapi juga tentang manusia. Ketika fungsi mal bergeser dari tempat belanja menjadi ruang relasi, manajemen dan pemasaran harus ikut berubah.

Di era ketika hampir semua transaksi bisa dilakukan secara digital, interaksi manusia justru jadi pembeda utama bagi ruang fisik. Mungkin, masa depan mal bukan lagi tentang apa yang dijual—tapi tentang siapa yang bertemu di dalamnya.

Acara Jejepangan seperti yang digelar di AEON mall Tanjung Barat Jakarta juga sukses mendatangkan banyak pengunjung. Atthalah.id

Implikasinya jelas, pengelola mal berserta para tenant perlu bertransformasi dari sekadar penjual produk menjadi penyedia pengalaman yang menarik bagi konsumennya. Solusi menghadapi kondisi normal baru masyarakat ini tidak lagi bisa berorientasi terhadap produk semata, tapi juga mencakup aspek suasana, pelayanan, dan narasi (storytelling).

Tranformasi mal sudah berlangsung oleh negara lain sejak jauh-jauh hari. Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Mereka mengembangkan program komunitas dan event untuk memperkuat fungsi sosial mal.

Indikator cuan operasional mal mungkin saja perlu berganti dari sales per square meter, menjadi keterlibatan (engagement) per kunjungan, lamanya kunjungan, dan kualitas pengalaman.

Saat ini sulit membayangkan jika pengunjung akan berbelanja kembali di mal seperti sebelum era pandemi. Terlebih, posisi e-commerce saat ini sedang dibayang-bayangi oleh penjualan melalui siaran langsung di media sosial (live-commerce).

Cara berbelanja masyarakat mungkin terus berubah, tapi tidak dengan cara interaksi sosial mereka. Karena mal adalah wadah sosial masyarakat yang sudah menjadi bagian dari hidup kita semua.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.