KABARBURSA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mulai menunjukkan tanda pemulihan menjelang periode pembagian dividen tahun buku 2025, setelah sebelumnya berada dalam tekanan cukup dalam sejak awal tahun.
Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, saham BBCA ditutup menguat 25 poin atau 0,37 persen ke level 6.775, mengakhiri rangkaian pelemahan dalam beberapa sesi sebelumnya.
Penguatan ini terjadi setelah tekanan jual yang cukup dominan pada pertengahan Maret. Sehari sebelumnya, 16 Maret, harga sempat turun ke 6.750, sementara pada 11 Maret bahkan terkoreksi hingga 6.825.
Dalam rentang dua pekan terakhir, pergerakan BBCA menunjukkan fluktuasi di kisaran 6.750 hingga 7.100, dengan level tertinggi tercatat pada 5 Maret di 7.100.
Di tengah dinamika tersebut, aktivitas transaksi masih menunjukkan likuiditas tinggi. Pada 17 Maret, nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,09 triliun dengan volume 1,61 juta saham dan frekuensi 34,96 ribu kali.
Angka ini mencerminkan minat pasar yang tetap terjaga, meskipun arah pergerakan harga cenderung terbatas.
Namun, data aliran dana asing menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Pada hari yang sama, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp216,85 miliar. Sepanjang periode 10 hingga 17 Maret, aksi jual asing terjadi secara konsisten, dengan nilai net sell harian mencapai Rp32,82 miliar hingga Rp400,11 miliar.
Struktur transaksi juga memperlihatkan dominasi tekanan jual. Pada 17 Maret, nilai foreign sell tercatat Rp940,56 miliar, lebih tinggi dibandingkan foreign buy sebesar Rp723,71 miliar. Pola ini juga terlihat pada 16 Maret dengan selisih yang lebih lebar, di mana foreign sell mencapai Rp692,88 miliar sementara buy hanya Rp292,77 miliar.
Dividen Final Rp281 per Lembar Saham
Di sisi korporasi, BBCA telah menetapkan pembagian dividen final sebesar Rp281 per saham atau setara Rp34,5 triliun untuk tahun buku 2025. Jika ditambahkan dengan dividen interim Rp55 per saham yang telah dibagikan pada November 2025, total dividen mencapai Rp336 per saham.
Jadwal pembagian dividen juga telah ditetapkan, dengan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 27 Maret 2026 dan ex dividen pada 30 Maret 2026. Untuk pasar tunai, cum dividen jatuh pada 31 Maret dan ex dividen pada 1 April 2026.
Tanggal pencatatan pemegang saham ditetapkan pada 31 Maret 2026, sementara pembayaran akan dilakukan pada 8 April 2026.
Mengacu pada harga saham di kisaran 6.700 hingga 6.800, nilai dividen tersebut mencerminkan imbal hasil sekitar 4,9 persen. Angka ini menjadi salah satu variabel yang diperhatikan pelaku pasar menjelang periode cum date.
Di saat yang sama, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan juga menyetujui rencana buyback saham senilai Rp5 triliun yang akan berlangsung hingga 12 bulan. Manajemen menyebut jumlah saham yang berhak atas dividen dapat berubah seiring realisasi pembelian kembali saham hingga tanggal pencatatan.
Pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan fase penyesuaian menjelang agenda korporasi tersebut. Pada 12 dan 13 Maret, saham sempat bergerak di area 6.900 hingga 6.875 sebelum kembali melemah. Penguatan pada 17 Maret menjadi titik balik sementara setelah tekanan jual yang berlangsung beruntun sejak awal pekan.
Dengan jadwal cum dividen yang semakin dekat, pergerakan BBCA berada dalam fase yang dipengaruhi oleh kombinasi arus dana, aksi korporasi, serta posisi harga yang telah mengalami penurunan sejak awal tahun.
Data perdagangan menunjukkan bahwa meskipun tekanan asing masih berlangsung, aktivitas transaksi tetap tinggi dengan pergerakan harga yang mulai menunjukkan respons di area bawah.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.