Ditulis oleh Yunila Wati •
KABARBURSA.COM – Di balik pelemahan IHSG pada sesi I perdagangan Senin, 30 Maret 2026, arus dana asing menunjukkan arah yang tidak sepenuhnya seragam. Sejumlah saham justru menjadi tujuan akumulasi, sementara di sisi lain tekanan jual asing muncul dengan skala yang lebih besar.
Pola ini membentuk kontras yang tajam antara titik masuk dan keluar dana asing dalam satu waktu yang sama.
Data transaksi hingga sesi I menunjukkan bahwa saham-saham seperti BRMS, ADMR, dan MEDC masuk dalam daftar utama net foreign buy. BRMS mencatat pembelian bersih asing sebesar 33,28 juta saham, dengan total foreign buy mencapai 70,27 juta saham dan foreign sell sebesar 103,55 juta saham.
ADMR mencatat net buy 19,47 juta saham, sementara MEDC sebesar 12,14 juta saham. Catatan ini menempatkan keduanya sebagai bagian dari akumulasi asing di sektor berbasis energi dan komoditas.
Meski terdapat akumulasi pada beberapa saham, tekanan jual asing terlihat lebih dominan dari sisi nilai dan volume. Saham GOTO mencatat net foreign sell sebesar 406,37 juta saham, dengan total transaksi asing yang jauh lebih besar dibandingkan saham lainnya.
BUMI menyusul dengan net sell 124,23 juta saham, sedangkan BBRI mencatat net sell sebesar 97,81 juta saham.
Perbandingan antara kelompok net buy dan net sell menunjukkan perbedaan skala yang cukup signifikan. Pada sisi pembelian, volume bersih asing berada di kisaran puluhan juta saham. Sementara pada sisi penjualan, angka yang tercatat mencapai ratusan juta saham, terutama pada GOTO yang menjadi kontributor terbesar tekanan jual asing pada sesi ini.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun terdapat akumulasi pada saham-saham tertentu, arus keluar dana asing secara keseluruhan masih lebih besar. Pergerakan ini juga sejalan dengan tekanan pada indeks, di mana saham-saham dengan kapitalisasi besar seperti BBRI turut berada dalam daftar net sell, memberikan kontribusi terhadap pelemahan IHSG.
Distribusi ini juga menunjukkan perbedaan karakter sektor. Saham-saham yang masuk dalam net buy cenderung berasal dari sektor komoditas, sementara tekanan jual lebih banyak terjadi pada saham berbasis teknologi dan perbankan. Pola ini mencerminkan rotasi aliran dana asing antar sektor dalam satu sesi perdagangan.
Secara keseluruhan, data sesi I memperlihatkan bahwa arah pergerakan dana asing belum menunjukkan keseimbangan. Aktivitas akumulasi masih terjadi, namun tertutup oleh tekanan distribusi dengan skala yang lebih besar. Dinamika ini menjadi bagian dari pergerakan pasar yang terbentuk secara simultan antara aksi beli dan jual dalam periode perdagangan yang sama.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.