Bincangperempuan.com– Saat ini, gaya hidup berkelanjutan seolah telah menjadi tren gaya hidup baru yang sangat populer. Mulai dari membawa tumbler atau botol minum sendiri, menolak kantong plastik dengan membawa tas belanja kain, hingga memilih transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Langkah-langkah ini dipromosikan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan karena dianggap mampu meminimalisir limbah plastik dan menekan emisi karbon. Semua itu dilakukan sebagai langkah kecil untuk menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global dan krisis iklim yang kian nyata.
Namun, di balik narasi ramah lingkungan, tahukah kamu bahwa beban untuk menyelamatkan planet ini ternyata tidak terbagi secara rata? Ada ketimpangan yang membuat tanggung jawab pelestarian lingkungan jauh lebih berat dibebankan kepada perempuan. Nah inilah yang disebut sebagai Eco-Gender Gap.
Apa Itu Eco Gender Gap?
Belakangan ini konsumen yang sadar lingkungan dibombardir dengan berbagai pilihan produk eco–friendly. Mulai dari pembalut kain yang bisa dicuci ulang hingga menstrual cup. Bahkan produk kosmetik kini semakin banyak menggunakan wadah kaca dan aluminium yang mudah didaur ulang. Hingga pakaian dalam pun mulai mengganti nilon dengan material yang lebih ramah lingkungan.
Sekilas, dorongan menuju keberlanjutan ini tampak menggembirakan. Namun, jika kamu perhatikan lebih teliti, sebagian besar produk ramah lingkungan tersebut dipasarkan khusus untuk perempuan. Ini juga yang menjadi alasan mengapa tanggung jawab lingkungan jadi lebih berat ke perempuan.
Berdasarkan laporan Mintel tahun 2018, Jack Duckett, seorang analis gaya hidup konsumen senior, menyatakan bahwa perempuan masih cenderung memegang kendali atas urusan rumah tangga, mulai dari mencuci pakaian, membersihkan rumah, hingga mengelola daur ulang sampah. Ketika kampanye produk ramah lingkungan sebagian besar ditujukan kepada audiens perempuan, para pengiklan tanpa sadar mengirimkan pesan bahwa keberlanjutan merupakan tugas perempuan.
Selain itu survei yang diadakan oleh Mintel (2018) menunjukkan kesenjangan yang nyata. Sebanyak 71% perempuan berusaha hidup lebih etis, dibandingkan dengan hanya 59% laki-laki. Selain itu, 65% perempuan aktif mendorong teman dan keluarga mereka untuk mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, sementara hanya 59% laki-laki yang melakukan hal serupa.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Mengapa perempuan lebih cenderung merasa bersalah jika tidak melakukan gaya hidup minim sampah (zero waste) dibandingkan laki-laki? Sejak dahulu, masyarakat mengasuh anak perempuan sebagai sosok pengasuh (caregiver) yang mampu merawat keluarga termasuk merawat dan menjadi pengasuh bagi planet ini.
Mengutip dari Guardian, Rachel Howell—dosen pembangunan berkelanjutan di University of Edinburgh, mencatat bahwa perempuan memiliki tingkat sosialisasi yang lebih tinggi untuk peduli pada orang lain dan bertanggung jawab secara sosial.
Hal inilah yang kemudian mengarahkan mereka untuk lebih peduli pada masalah lingkungan. Baik karena pembawaan lahiriah maupun hasil bentukan sosial, feminitas dan “kepedulian lingkungan” akhirnya terhubung secara kognitif di pikiran banyak orang.
Maskulinitas dan Ketakutan Akan Terlihat Feminin
Sedangkan laki-laki ketika menunjukkan perilaku atau gaya hidup berkelanjutan, mereka justru cenderung takut terlihat feminin. Riset dari Pennsylvania State University yang diterbitkan dalam jurnal Sex Roles menemukan bahwa laki-laki cenderung enggan membawa tas belanja ramah lingkungan atau melakukan aktivitas daur ulang karena takut dianggap feminin.
Ketakutan ini berakar dari stigma sosial yang menganggap bahwa peduli pada lingkungan adalah perilaku yang lembut dan tidak maskulin. Hal yang sama juga ditemukan dalam keengganan laki-laki untuk mengadopsi diet vegetarian atau vegan. Sebuah makalah tahun 2016 di Journal of Consumer Research bahkan menemukan bahwa laki-laki mungkin sengaja menghindari perilaku hijau untuk “menjaga identitas gender mereka”.
Partisipasi laki-laki baru meningkat ketika penjenamaan produk dibuat lebih maskulin daripada menggunakan gaya kampanye ramah lingkungan konvensional yang dianggap terlalu feminin.
Green-Shaming yang Diskriminatif
Beban eco-gender gap ini menciptakan standar moral yang berat bagi perempuan. Ada semacam green-shaming atau penghakiman lingkungan yang diskriminatif. Perempuan sering merasa “berdosa” jika lupa membawa tas belanja sendiri atau jika masih menggunakan popok sekali pakai untuk anaknya. Sementara itu, laki-laki jarang mendapatkan tekanan sosial yang sama atas perilaku konsumsi mereka.
Standar moral lingkungan yang lebih berat ke perempuan ini mencerminkan bagaimana masyarakat masih memandang tugas domestik dan moralitas keluarga sebagai tanggung jawab perempuan. Perempuan tidak hanya diminta untuk mengurus rumah, tapi sekarang juga diminta untuk memastikan rumah tersebut “bebas emisi” dan “bebas sampah”, yang sering kali tanpa dukungan atau pembagian peran yang adil dari anggota keluarga laki-laki.
Baca juga: Dukungan Kepala Daerah Agar Bisa Wujudkan Produk Olahan Kecombrang Sebagai Ikon
Menyelamatkan Bumi Adalah Tugas Kolektif
Pada akhirnya, eco-gender gap membuktikan bahwa krisis iklim bukan hanya masalah sains dan kebijakan, tetapi juga masalah sosial dan gender. Menyelamatkan bumi tidak seharusnya menjadi “pekerjaan perempuan” semata. Mengaitkan perilaku ramah lingkungan dengan feminitas hanya akan menghambat kemajuan kita dalam menghadapi krisis iklim.
Kita perlu mendekonstruksi pemikiran bahwa peduli lingkungan itu “feminin”. Keberlanjutan adalah masalah kelangsungan hidup manusia, bukan masalah gaya hidup gender tertentu. Baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang sama terhadap kerusakan lingkungan. Bumi adalah rumah kita bersama, dan beban untuk merawatnya harus dipikul secara adil di atas semua pundak manusia, tanpa terkecuali.
Referensi:
- Brough, A. R., Wilkie, J. E. B., Ma, J., Isaac, M. S., & Gal, D. (2016). Is eco-friendly unmanly?: The green-feminine stereotype and its effect on sustainable consumption. Journal of Consumer Research, 43(4), 567–582.https://doi.org/10.1093/jcr/ucw044
- Hunt, E. (2020, February 6). The Eco-gender gap: Why saving the planet is seen as women’s work. The Guardian.https://www.theguardian.com/environment/2020/feb/06/eco-gender-gap-why-saving-planet-seen-womens-work
- Mintel. (2018, July 11). The eco-gender gap: 71% of women try to live more ethically compared to 59% of men.https://www.mintel.com/press-centre/the-eco-gender-gap-71-of-women-try-to-live-more-ethically-compared-to-59-of-men/
- Swim, J. K., Gillis, A., & Hamaty, K. J. (2020). Gender bending and gender conformity: The social consequences of engaging in feminine and masculine pro-environmental behaviors. Sex Roles, 82(7-8), 363–385.https://doi.org/10.1007/s11199-019-01061-9
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.