Jakarta, Arina.id — Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan dorongan mendasar manusia untuk meraih kebaikan dan kebahagiaan.
Akademisi dan pengkaji filsafat, Fahrudin Faiz mengatakan keinginan manusia terhadap kebaikan sejatinya merupakan bentuk cinta. Ia mengutip pemikiran Socrates yang menyatakan bahwa love is desire, atau cinta adalah keinginan.
“Menginginkan kebenaran kebaikan tadi itu nanti kualifikasinya adalah kualifikasi cinta. Keinginan akan kebaikan itu berhubungan dengan cinta. Makanya ada kalimat dari Socrates, love is desire. Cinta itu menginginkan. Ciri paling dasarnya cinta itu kan menginginkan,” jelasnya dalam tayangan video Mengaji Hening diakses Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, seseorang mencintai sesuatu karena meyakini bahwa di dalamnya terdapat kebaikan dan potensi kebahagiaan bagi dirinya. Dengan kata lain, cinta selalu berkaitan dengan harapan akan manfaat dan kebahagiaan.
“Pasti karena dia menganggap di balik sesuatu yang dia cintai ada kebaikan dan kebahagiaan untuk dirinya,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa setiap bentuk cinta pada dasarnya dilandasi keinginan untuk meraih sesuatu. Tidak ada cinta yang benar-benar tanpa tujuan, karena pada akhirnya manusia tetap menginginkan kebahagiaan, baik bersama sesuatu yang dicintai maupun dalam bentuk lain.
“Itu dasarnya cinta. Jadi ndak mungkin sejak awal orang mencintai itu ndak berdasar ingin memperolehnya. Jadi yo mesti ingin meraihnya. Karena aku merasa dalam yang aku cintai ini ada manfaatnya dan membawaku pada kebahagiaan,” ujarnya.
Dalam perspektif moralitas, Fahrudin menjelaskan bahwa tindakan yang mengarah pada kebaikan dan kebenaran sejatinya merupakan bentuk cinta yang berorientasi pada kebahagiaan.
“Jenis perbuatan moral itu pada puncaknya adalah perilaku cinta. Perilaku ingin sepenuhnya meraih sesuatu dan memperoleh kebahagiaan,” katanya.
Namun, ia mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada pencarian kebahagiaan yang bersifat semu. Mengutip pandangan para filsuf Muslim seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh, ia menekankan pentingnya mengarahkan cinta pada sumber kebahagiaan yang hakiki.
“Ketika kita menginginkan sesuatu, mencintai sesuatu yang tujuannya mencari kebahagiaan, jangan cari kebahagiaan yang semu,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada hal-hal duniawi semata, melainkan pada cinta ilahiah atau mahabbatullah, yaitu kecintaan kepada Tuhan sebagai sumber segala kebaikan dan keindahan.
“Kamu menginginkan yang cantik-cantik, yang maha cantik, Tuhan Allah. Kamu menginginkan yang perkasa, yang kuat, yang gagah, yang maha gagah Allah. Kalau kebahagiaanmu dari yang baik-baik, yang maha baik Allah,” pungkasnya.
Dengan demikian, cinta tidak hanya menjadi dasar hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan spiritual menuju kebahagiaan yang sejati.





Comments are closed.