KABARBURSA.COM — Lonjakan harga bahan bakar yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir mulai menunjukkan dampaknya. Inflasi di Amerika Serikat kembali melonjak tajam, menambah tekanan bagi pemerintah dan bank sentral di tengah bayang-bayang konflik Iran.
Kenaikan harga energi disebut sebagai yang terbesar dalam enam dekade. Dampaknya langsung terasa pada inflasi yang melonjak signifikan dalam waktu singkat.
Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga konsumen naik 3,3 persen secara tahunan pada Maret. Angka ini melesat dari 2,4 persen pada Februari, sekaligus menjadi kenaikan tertinggi sejak Mei 2024. Secara bulanan, inflasi naik 0,9 persen, tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Lonjakan ini menjadi sinyal awal dampak perang Iran terhadap ekonomi global. Harga BBM yang meroket mulai menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah dan menengah.
Kenaikan biaya energi membuat pengeluaran rumah tangga makin berat. Belanja kebutuhan pokok seperti makanan dan sewa rumah ikut tertekan, karena porsi pengeluaran tersedot untuk energi.
Meski demikian, inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—masih relatif terkendali. Secara tahunan naik menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 2,5 persen. Secara bulanan bahkan hanya naik 0,2 persen.
Artinya, dampak kenaikan BBM belum sepenuhnya menjalar ke seluruh sektor ekonomi. Namun tekanan diperkirakan baru akan terasa lebih luas dalam beberapa bulan ke depan.
Ekonom Oxford Economics, Michael Pearce, menyebut dampak ini belum berhenti. “Ini menyakitkan dalam jangka pendek,” katanya. “Akan menjadi lebih menyakitkan pada April,” kata Pearce, dilansir dari AP, Minggu 12 April 2026.
Ia menilai lonjakan harga energi masih akan mendorong inflasi lebih tinggi dalam waktu dekat. Namun, ia juga melihat karakter krisis kali ini berbeda dibanding periode sebelumnya. “Saya pikir kondisinya lebih seperti guncangan tajam jangka pendek dibandingkan yang terjadi pada 2022,” ujarnya.
Meski ada sinyal gencatan senjata, ketidakpastian masih tinggi. Jalur vital Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih, sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap membayangi.
Dampak kenaikan harga energi juga menjalar ke berbagai sektor. Industri penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Tarif penerbangan naik 2,7 persen dalam sebulan dan melonjak 14,9 persen dibanding tahun lalu.
Biaya logistik pun ikut terkerek. Sejumlah perusahaan pengiriman seperti UPS dan FedEx mulai mengenakan biaya tambahan bahan bakar, yang pada akhirnya membebani konsumen dan pelaku usaha.
Di sektor pangan, tekanan belum terasa signifikan. Harga bahan makanan justru sempat turun 0,2 persen secara bulanan dan hanya naik 1,9 persen secara tahunan. Namun kondisi ini diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Wakil Presiden FMI-The Food Industry Association, Andy Harig, mengatakan kenaikan harga energi akan merembet ke rantai pasok makanan.
“Kenaikan harga energi berkontribusi terhadap meningkatnya biaya produksi di seluruh rantai pasok pangan dan dapat mendorong kenaikan harga bahan makanan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa biaya produksi dan distribusi akan ikut naik seiring lonjakan energi. “Ketika harga energi meningkat, biaya yang terkait dengan produksi dan distribusi makanan juga ikut naik,” katanya.
Tekanan inflasi ini juga berimplikasi pada kebijakan moneter. Dengan inflasi yang kembali menjauh dari target 2 persen, bank sentral Amerika Serikat diperkirakan akan menunda penurunan suku bunga.
Di sisi lain, dampak ke psikologi konsumen mulai terlihat. Survei University of Michigan mencatat indeks sentimen konsumen anjlok ke 47,6 pada April, dari sebelumnya 53,3.
Direktur survei Joanne Hsu menyebut konflik Iran sebagai salah satu pemicu utama. “Banyak konsumen menyalahkan konflik Iran atas perubahan kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan,” katanya.
Kondisi ini juga mulai berdampak ke dunia usaha. Pelaku industri kecil mengaku tertekan oleh lonjakan biaya distribusi. Pendiri American Provenance, Kyle LaFond, mengatakan biaya pengiriman perusahaannya sudah naik 30 hingga 40 persen.
Ia mengaku terpaksa menaikkan harga produknya sebelumnya, dan kini menghadapi dilema serupa. “Saya benar-benar tidak ingin melakukannya karena itu berarti dua tahun berturut-turut kenaikan harga, sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya,” ujarnya.
“Namun demi kelangsungan bisnis, mungkin itu harus dilakukan,” imbuhnya.
Secara keseluruhan, harga BBM di Amerika Serikat kini rata-rata mencapai USD4,15 per galon atau sekitar Rp70.135. Angka ini melonjak hampir 40 persen dibanding sebelum perang, yang berada di kisaran USD2,98 per galon atau sekitar Rp50.362.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik kembali menjadi pemicu utama gejolak ekonomi global. Inflasi yang sempat melandai kini berbalik arah, sementara ketidakpastian masih membayangi arah pemulihan ekonomi ke depan.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.