Langit kelabu menemani langkah Ani membeli udang sore itu. Sudah lebih setahun ini, dia menyibukkan diri membuat salome berbahan udang untuk dia jual di sekitar kampung. Salome, merupakan jajanan berbentuk pentol -serupa cilok- yang populer di Kampung Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Ani mengenal jajanan itu sejak usia 10 tahun. Di kalangan warga, penganan itu memang cukup populer hingga banyak yang menjualnya. “Salome udang ini yang paling laku, nggak ada bosannya dimakan. Makanya, banyak yang menjualnya,” kata perempuan berusia 31 tahun itu. Ani membuat salome udang untuk bisa menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan harian keluarganya. Maklum, dua tahun belakangan ini, pendapatan suaminya dari melaut tak menentu. “Kadang dapat (ikan), kadang nggak,” katanya, sambil menyajikan beberapa gorengan dan makanan lain untuk berbuka puasa keluarganya. Biaya untuk melaut, acapkali tak sebanding dengan hasil tangkapan. Malah terkadang, hanya cukup untuk mengganti biaya solar. Padahal, untuk melaut, tak cukup solar sebagai modal. Karena itu, demi bisa menambah penghasilan, Ani putuskan untuk jualan salome. Sekilas, hasil dari jualan memang tak seberapa tetapi bagi Ani, cukup untuk sangu sekolah anak bungsunya. “Alhamdulillah, cukup sekali (untuk) sehari. Ya, mau diapain? Ingat anak-anak, untuk belanja, jajan,” kata Ani, sambil menyalakan blender untuk menghaluskan udang. Untuk berjualan, katanya, hanya perlu modal Rp70.000. Itu untuk membeli bahan baku udang 1,5 kilogram, tepung kanji 0,5 kilogram, dan sambal pendampingnya. Sehari, Ani bisa mendapat Rp150.000 dari jualan itu, termasuk modal. Masalahnya, bahan baku udang pun kian sulit didapat. Salome atau pentol berbahan dasar udang yang dibuat Ani, memiliki…This article was originally published on Mongabay
Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan
Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan





Comments are closed.