Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?

Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?

bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara?
Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?
service
  • Bisakah manusia benar-benar hidup berdampingan dengan buaya muara?
  • Jawaban singkatnya bisa, namun dengan syarat mendasar berupa adanya tata kelola ruang hidup manusia, hutan, perairan dan pesisir yang sehat, cukup, berlandaskan koeksistensi dengan alam.
  • Buaya muara termasuk tiga besar spesies buaya dengan fungsi ekosistem paling unik di dunia. Penilaian ini didasarkan pada berbagai karakter, seperti pola makan dan strategi berburu, reproduksi, ukuran tubuh, tipe habitat, toleransi terhadap kondisi ekstrem, serta perannya sebagai pembentuk ekosistem.
  • Masa depan hubungan manusia dan buaya muara tidak ditentukan oleh siapa yang harus mengalah, tetapi oleh seberapa serius kita membangun pengetahuan dan bekerja bersama agar bisa hidup berdampingan.

Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi.

Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode 2020 hingga 2024, terdapat 820 serangan buaya di Indonesia. Dari jumlah serangan itu, 414 korban meninggal dunia, yang mungkin diikuti juga oleh terbunuhnya buaya.

Catatan itu mengemukakan, lebih dari 95 persen serangan melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus) dan kurang 5 persen buaya senyulong (Tomistoma schlegelii). Padahal, Senyulong dikenal punya karakter pemalu.

Jika angka tahunnya diperlebar hingga 2015, jumlah kejadian mencapai 1.167 kasus, dengan korban jiwa mencapai 556 orang. Ini menjadi yang tertinggi di dunia, menyusul India dengan serangan berjumlah 768 kali, dan Papua New Guinea dengan 584 kali.

“Yang kami ketahui kini, bahkan tren serangan dan konflik yang melibatkan buaya senyulong juga meningkat,” papar Herdhanu Jayanto kepada Mongabay, Kamis (9/4/2026). Dia adalah ilmuwan konservasi dan manajer program di Yayasan Konklusi, yang fokus pada spesies terancam punah dan terabaikan seperti buaya muara dan senyulong.

Di Indonesia, kejadian serangan hampir separuhnya berhubungan dengan aktivitas mencari ikan, yaitu 47,6 persen. Sementara 32,4 persen berhubungan dengan aktivitas domestik water, sanitation, and hygiene. 

Anggota IUCN SSC Crocodile Specialist Group ini menambahkan, tidak ada penyebab tunggal mengapa angka konflik itu begitu tinggi. Terdapat banyak faktor, mulai dari kegiatan manusia yang menyebabkan hilangnya habitat buaya, tersudutnya ruang hidup, hingga berkurangnya mangsa alami.

“Di sisi lain, pertumbuhan manusia yang meningkat, mengambil ruang alam, dan hilangnya koneksi serta kearifan lokal, menyebabkan manusia ‘kagok’ hidup berdampingan dengan buaya muara.”

Buaya muara yang memiliki manfaat bagi ekosistem lingkungan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Buaya muara di Indonesia

Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat, mulai dari perairan air tawar hingga pesisir. Sebarannya mencakup seluruh Nusantara, dari ujung barat di Pulau Simeulue dan Nias, merambah ke utara sampai Kepulauan Sangihe, ke titik selatan di Pulau Rote, hingga membentang ke timur mencapai Papua dan Tanimbar.

“Namun, untuk mengatakan suatu lokasi adalah hotspot, dibutuhkan data seperti estimasi populasi atau tingkat okupansi, yang sayangnya belum dilakukan di Indonesia, baik secara menyeluruh maupun di region tertentu,” ungkap Dhanu, yang juga co-founder Konklusi.

Meski demikian, kita masih bisa melihat hotspot kasus penyerangan buaya di Indonesia. Dhanu mengacu pada penelitian Ardiantiono dan kawan-kawan (2023). Pada periode 2010 hingga 2019, ada enam provinsi hotspot risiko konflik buaya di Indonesia. Yaitu Aceh, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur. Datanya sendiri dikumpulkan secara mandiri oleh ahli buaya Australia, Brandon Sideleu, melalui informasi dari artikel, laporan, publikasi media, media sosial, maupun jejaring pribadi dan profesionalnya.

“Bisa dikatakan masih terjadi fenomena puncak gunung es, mungkin banyak kasus konflik buaya yang belum tercatat.”

Sementara di Jawa, ruang bagi predator purba ini nyaris mencapai titik nadir. Sebagai pulau terpadat yang hanya menyisakan 24 persen tutupan hutan, degradasi dan fragmentasi habitat di sepanjang sungai utamanya telah meminggirkan populasi buaya ke sudut-sudut yang kian sempit.

“Kini, habitat alami mereka hanya tersisa di kantong-kantong pesisir selatan, mulai dari Pandeglang dan Lebak di ujung barat, hingga sebagian kecil wilayah selatan Jawa Barat.”

Terdesaknya buaya ke wilayah yang makin sempit bukan berarti konflik otomatis berkurang. Penyempitan habitat justru berpotensi meningkatkan intensitas perjumpaan manusia dengan buaya. Laporan warga mengenai peningkatan frekuensi perjumpaan dengan buaya di area aktivitas manusia tidak bisa diabaikan. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran perilaku satwa atau tekanan habitat yang memaksa predator ini keluar dari wilayah alaminya.

“Dalam lima belas tahun belakangan, saya mengamati bahwa di beberapa sungai di Jawa Timur dan Jawa Tengah, walaupun terlihat memiliki kapasitas lapang rendah untuk satwa liar, termasuk buaya, mulai ditempati buaya kembali,” ungkap Dhanu.

Kasus pertama ada di Sungai Porong, Brantas, dan Sungai Kepentingan (Sidoarjo), hingga Kali Bodo (Kebumen), Sungai Ijo dan Sungai Gatel (Banyumas), dan Sungai Bengawan Solo (Bojonegoro). Tetapi menurut Dhanu, beberapa kemunculan perlu dilihat dengan hati-hati. Contohnya, penemuan buaya di Sungai Winongo dan Progo (DI Yogyakarta) yang besar kemungkinan adalah lepasan dari peliharaan.

Buaya muara [Crocodylus porosus] yang memiliki pola mempelajari kebiasaan mangsanya sebelum menerkam. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Hidup berdampingan dengan buaya muara

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, perjumpaan antara manusia dan buaya memang bukan cerita baru. Sungai, rawa, dan pesisir yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat juga merupakan habitat alami predator purba ini.

Seiring perubahan bentang alam dan tekanan terhadap ekosistem, frekuensi interaksi bahkan konflik pun meningkat. Tantangannya bukan sekadar menghindari buaya, tetapi bagaimana manusia dapat menata ulang relasinya dengan alam, termasuk dengan buaya muara agar keduanya tetap dapat hidup dalam ruang yang sama tanpa saling mengancam.

Tapi, bisakah manusia benar-benar hidup berdampingan dengan buaya muara?

“Jawaban singkatnya bisa, namun dengan syarat mendasar berupa adanya tata kelola ruang hidup manusia, hutan, perairan dan pesisir yang sehat, cukup, berlandaskan koeksistensi dengan alam. Ditambah dengan kesejahteraan masyarakat, sesederhana hadirnya fasilitas mandi, cuci, kakus layak, dan adanya kearifan lokal serta pendidikan kontekstual,” papar Dhanu.

Dia memberi contoh kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Mamberano, juga di Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel. Mereka hidup berdampingan dan saling menghormati ruang hidup. Masyarakat hanya menangkap buaya secukupnya untuk memenuhi kebutuhan protein komunal.

Bahkan, buaya dalam kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu tidak hanya hadir sebagai satwa liar, tetapi juga bagian dari sistem nilai, adat, dan kepercayaan. Di beberapa daerah, relasi ini tercermin dalam cara penyebutan hingga praktik budaya.

Misalnya di Ujung Kulon, masyarakat menghormati eksistensi buaya lewat istilah “pengantin” atau “nyai”. Buaya bukan saja dimuliakan, namun juga disakralkan. Ini perwujudan penghormatan sekaligus upaya menghindari konflik melalui mitos lokal.

Di Kalimantan dan Sulawesi, sejumlah komunitas seperti Dayak dan Bugis-Makassar memandang buaya sebagai “saudara” dalam kosmologi mereka. Tradisi seperti sedekah sungai masih dilakukan sebagai simbol penghormatan dan upaya menjaga keseimbangan untuk hidup berdampingan.

Suku Dayak Lundayah, misalnya, memiliki simbol dan ritual yang menegaskan tali persaudaraan dengan alam, sebagai ungkapan syukur dan harapan akan kesejahteraan. Sementara itu, di wilayah Hulu Mahakam, tari Hudoq menampilkan topeng buaya sebagai bagian dari permohonan restu dari leluhur untuk kesuburan tanah dan hasil pertanian.

Contoh lainnya, masih menurut Dhanu, dapat ditemukan di Gorontalo, yaitu gerbang adat “ngango lo huwayo” digunakan dalam prosesi tradisional. Meski lebih bersifat simbolik daripada praktik koeksistensi langsung, hal ini menunjukkan kuatnya jejak buaya dalam budaya lokal, seperti tercermin dalam tradisi roti buaya pada masyarakat Betawi.

Buaya muara yang berkonflik dengan manusia ini berada di penangkaran PPS Alobi Foundation, Bangka, Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indoinesia

Manfaat ekosistem

Menurut Dhanu, masih banyak hal yang belum sepenuhnya kita pahami tentang fungsi ekologi suatu spesies, termasuk buaya. Namun, dari berbagai temuan ilmiah memungkinkan kita menyusunnya secara lebih utuh. Pada C. porosus, fungsi ekologinya setidaknya mencakup tiga peran utama.

Pertama, sebagai predator sekaligus mangsa dalam fase ontogenetik yang berbeda. Pada fase telur hingga tahun pertama, buaya justru sangat rentan dan kerap menjadi mangsa spesies lain. Bahkan, menurut sebuah penelitian, tingkat kelangsungan hidup pada tahun pertama bisa kurang dari 5 persen. Memasuki fase remaja hingga dewasa muda, mereka masih menghadapi tekanan predasi, namun mulai berperan sebagai predator yang mampu meregulasi populasi spesies lain, termasuk predator perairan seperti ikan toman, ikan tapah, dan ular.

Kedua, buaya muara berperan dalam memediasi siklus nutrien sekaligus menjadi penghubung antarekosistem. Individu dewasa membantu mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien terlepas kembali. Selain itu, mobilitas mereka yang tinggi —dari perairan tawar, daratan, pesisir, hingga laut— berkontribusi pada perpindahan biomassa lintas habitat.

Ketiga, mereka juga berpotensi sebagai ecosystem engineer, terutama betina saat membangun sarang, yang dapat memengaruhi struktur habitat di sekitarnya. Dhanu merujuk artikel yang ditulis Somaweera dan kawan-kawan berjudul “The ecological importance of crocodylians: towards evidence-based justification for their conservation”, juga Campbell dan kawan-kawan berjudul “Quantifying the ecological role of crocodiles: a 50-year review of metabolic requirements and nutrient contributions in northern Australia.”

Senyulong merupakan buaya yang gemar makan ikan. Foto: Dok. Yayasan Ulin Nusantara Lestari

Studi oleh Griffith dan kawan-kawan yang dituangkan dalam artikel berjudul “Using functional traits to identify conservation priorities for the world’s crocodylians” bahkan menunjukkan bahwa buaya muara termasuk tiga besar spesies buaya dengan fungsi ekosistem paling unik di dunia. Penilaian ini didasarkan pada berbagai karakter, seperti pola makan dan strategi berburu, reproduksi, ukuran tubuh, tipe habitat, toleransi terhadap kondisi ekstrem, serta perannya sebagai pembentuk ekosistem.

Menurut Dhanu, memahami peran ekologis buaya muara bisa menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan yang tepat. Ketika spesies seperti C. porosus terbukti memiliki fungsi kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem, maka upaya pengelolaannya tidak bisa lagi hanya berfokus pada mitigasi konflik semata. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh —yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan tata ruang— agar keberadaan buaya tetap terjaga sekaligus memberi rasa aman dan manfaat bagi masyarakat.

Untuk itu, Dhanu menyarankan memperkuat sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk membenahi tata kelola ruang hutan, perairan, dan wilayah hidup masyarakat secara berkeadilan, sehingga manusia dan satwa dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Selain itu, dia menyarankan pengembangan pendekatan koeksistensi yang partisipatif dan adaptif, terutama pascaperalihan kewenangan ke KKP, yang masih membutuhkan penguatan kapasitas. Pengelolaan perlu melampaui pendekatan konvensional seperti sosialisasi dan relokasi, menuju strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Tanpa data yang kuat dan keterlibatan publik yang luas, upaya koeksistensi hanya akan menjadi wacana. Karena itu, survei populasi nasional harus menjadi fondasi kebijakan, sekaligus membuka ruang partisipasi bagi peneliti dan praktisi konservasi untuk terlibat aktif.

Pada akhirnya, masa depan hubungan manusia dan buaya muara tidak ditentukan oleh siapa yang harus mengalah, tetapi oleh seberapa serius kita membangun pengetahuan dan bekerja bersama agar bisa hidup berdampingan.

Referensi:

Ardiantiono, Henkanaththegedara, S.  M.  Sideleau, B., Anwar, Y., Haidir, I. A., & Amarasinghe, A. T. (2023). Integrating social and ecological information to identify high-risk areas of human-crocodile conflict in the Indonesian Archipelago. Biological Conservation280, 109965. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0006320723000654

Campbell, M. A., Udyawer, V., White, C., Baker, C. J., Kopf, R. K., Fukuda, Y., … & Campbell, H. A. (2025). Quantifying the ecological role of crocodiles: a 50-year review of metabolic requirements and nutrient contributions in northern Australia. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences292(2042). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40068822/

Griffith, P., Lang, J. W., Turvey, S. T., & Gumbs, R. (2023). Using functional traits to identify consevation priorities for the world’s crocodylians. Functional Ecology37(1), 112-124. https://besjournals.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/1365-2435.14140

https://crocattack.org/2015-2024attackstats/

Somaweera, R., Nifong, J., Rosenblatt, A., Brien, M. L., Combrink, X., Elsey, R. M., Grigg, G., Magnusson, W. E., Mazzotti, F. J., Pearcy, A., Platt, S. G., Shirley, M. H., Tellez, M., van der Ploeg, J., Webb, G., Whitaker, R., & Webber, B. L. (2020). The ecological importance of crocodylians: towards evidence-based justification for their conservation. Biological Reviews95(4), 936-959. https://scholars.unf.edu/en/publications/the-ecological-importance-of-crocodylians-towards-evidence-based-/

*****

Kisah Senyulong di Lahan Basah Mesangat Suwi

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.