Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Ki Ageng Pamanahan dan Tanah Mataram, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Ki Ageng Pamanahan dan Tanah Mataram, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

legenda-ki-ageng-pamanahan-dan-tanah-mataram,-cerita-rakyat-dari-yogyakarta
Legenda Ki Ageng Pamanahan dan Tanah Mataram, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
service

15 April 2026 17.00 WIB • 2 menit

Legenda Ki Ageng Pamanahan dan Tanah Mataram, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Ki Ageng Pamanahan adalah salah satu tokoh penting yang berkaitan dengan kemunculan Kerajaan Mataram dulunya. Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta tentang legenda Ki Ageng Pamanahan dan tanah Mataram dulunya.

Bagaimana kisah dari legenda Ki Ageng Pamanahan dan tanah Mataram tersebut? Simak cerita rakyat dari Yogyakarta ini dalam artikel berikut.

Legenda Ki Ageng Pamanahan dan Tanah Mataram, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada suatu hari Ki Ageng Pamanahan dan Sunan Kalijaga tengah berkunjung ke Keraton Pajang. Di sana mereka hendak bertemu dengan Sultan Hadiwijaya.

Begitu Ki Pamanahan dan Sunan Kalijaga tiba, mereka langsung dipersilahkan masuk ke dalam keraton. Kedatangan kedua tokoh ini langsung disambut oleh Sultan Hadiwijaya.

Sunan Kalijaga membuka pembicaraan di antara mereka bertiga. Sunan Kalijaga berkata terkait janji yang dilontarkan Sultan Hadiwijaya pada Ki Pamanahan.

Sebelumnya Sultan Hadiwijaya berjanji akan memberikan tanah Mataram pada Ki Pamanahan. Namun hingga kedatangan mereka ke Kerajaan Pajang, janji tersebut masih belum terealisasikan.

Pada awalnya Sultan Hadiwijaya terdiam mendengar perkataan Sunan Kalijaga. Sebab dia memang menyampaikan janji tersebut sebelumnya.

Sultan Hadiwijaya kemudian menjawab pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan jika tanah Mataram masih berupa hutan lebat.

Selain itu, di sana juga ada Hutan Mentaok yang dikenal banyak dihuni oleh makhluk halus. Sultan Hadiwijaya merasa jika nantinya Ki Pamanahan kecewa dengan pemberian tersebut.

Sunan Kalijaga tersenyum mendengarkan jawaban itu. Sebab dia tahu Ki Pamanahan adalah bukan orang yang sembarangan.

Rintangan yang ada di sana, termasuk makhluk halus di Hutan Mentaok tentu bisa diatasi oleh Ki Pamanahan. Sunan Kalijaga kemudian menjelaskan perihal ini pada Sultan Hadiwijaya.

Mendengar jawaban Sunan Kalijaga, Sultan Hadiwijaya kembali tersebut. Sebenarnya Sultan Hadiwijaya memang belum siap untuk memberikan tanah Mataram pada Ki Pamanahan.

Dia memikirkan pesan dari Sunan Giri sebelumnya. Sunan Giri pernah berkata jika nantinya akan muncul seorang raja dari tanah Mataram.

Nantinya raja tersebut diyakini akan memiliki kekuatan besar. Bahkan kekuatan ini melebihi dari apa yang dipunya oleh Kerajaan Pajang.

Sultan Hadiwijaya khawatir jika nantinya raja Mataram akan menguasai wilayah Pajang. Kegusaran ini kemudian dia sampaikan pada Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga kembali tersenyum mendengarkan hal ini. Dia kemudian meminta Ki Pamanahan berjanji untuk tidak melakukan hal tersebut.

Ki Pamanahan pun kemudian mengucapkan janji jika tidak akan mengganggu wilayah Pajang. Akhirnya Sultan Hadiwijaya setuju dengan hal itu dan memberikan serat kekancingan pada Ki Pamanahan.

Setelah menerima surat pengukuhan ini, Ki Pamanahan kemudian melakukan persiapan untuk pergi ke Mataram. Tepat pada hari yang ditentukan, rombongan Ki Pamanahan kembali menghadap ke Sultan Hadiwijaya di Keraton Pajang.

Di sana rombongan ini juga dilepas oleh Danang Sutawijaya, putra dari Sultan Hadiwijaya. Namun Danang Sutawijaya ternyata berkeinginan untuk ikut bersama rombongan tersebut.

Danang Sutawijaya kemudian menyampaikan keinginan ini pada Sultan Hadiwijaya. Akhirnya dirinya diizinkan untuk ikut bersama Ki Pamanahan ke tanah Mataram.

Begitu sampai di Mataram, rombongan ini kembali disambut oleh Sunan Kalijaga. Ki Pamanahan diberi pesan oleh Sunan Kalijaga agar bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan.

Setibanya di sana, Ki Pamanahan kemudian mulai membuka Hutan Mentaok menjadi pemukiman. Kelak daerah ini berubah menjadi sebuah kerajaan dengan Danang Sutawijaya, yang kemudian berganti nama menjadi Panembahan Senapati sebagai raja.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.