Jakarta, Arina.id—Meningkatnya krisis kesehatan mental global, para peneliti mulai menyoroti langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari sebagai upaya pencegahan salah satunya kebiasaan mengonsumsi kopi.
Kandungan kafein dalam kopi diketahui dapat meningkatkan kewaspadaan dengan menghambat adenosin, yaitu zat kimia di otak yang memicu rasa lelah. Dalam jumlah kecil, kafein juga dapat merangsang produksi dopamin, yang berperan dalam rasa senang, motivasi, dan proses belajar.
Penelitian terbaru dari Universitas Fudan, Tiongkok yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa konsumsi kopi tidak hanya berkaitan dengan energi, tetapi juga berpotensi mendukung kesehatan mental.
Studi ini mengkaji hubungan antara jumlah serta jenis kopi yang dikonsumsi dengan risiko stres dan gangguan suasana hati dalam jangka panjang.
Berdasarkan analisis terhadap lebih dari 400.000 pria dan wanita, ditemukan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat, yakni sekitar dua hingga tiga cangkir per hari, memiliki kaitan dengan risiko kecemasan dan depresi paling rendah. Efek perlindungan ini juga tercatat lebih kuat pada pria dibandingkan wanita.
Meski demikian, hasil penelitian terkait kopi dan kesehatan mental selama ini masih beragam. Banyak studi sebelumnya belum membedakan jenis kopi yang dikonsumsi, seperti kopi instan, bubuk, maupun tanpa kafein.
Penelitian ini mencoba memperdalam analisis dengan mempertimbangkan variasi jenis kopi serta memanfaatkan data berskala besar. Para peneliti menggunakan UK Biobank yang melacak kebiasaan makan dan kondisi kesehatan 461.586 orang dengan kondisi mental baik di awal penelitian, selama rata-rata 13,4 tahun.
Dalam periode tersebut, tercatat lebih dari 18.000 kasus baru gangguan suasana hati dan stres. Hasil analisis menunjukkan pola kurva berbentuk J, di mana manfaat konsumsi kopi mencapai titik optimal pada tingkat moderat dan menurun pada konsumsi yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi.
Konsumsi tinggi, yakni lima cangkir atau lebih per hari, justru dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan suasana hati, sehingga dinilai dapat berdampak sebaliknya.
Selain itu, peneliti juga menelaah peran faktor genetika melalui skor risiko poligenik untuk melihat pengaruh kemampuan tubuh dalam memetabolisme kafein.
Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan mental.
Namun demikian, konsumsi kopi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, mengingat adanya perbedaan sensitivitas terhadap kafein yang dapat menimbulkan efek seperti kegelisahan, ketidaktenangan, hingga peningkatan detak jantung.





Comments are closed.