Jakarta, Arina.id—Konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Teluk memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya terlihat dari lonjakan harga plastik yang mencapai 30–80 persen hingga April 2026.
Kenaikan ini dipicu oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor untuk produksi plastik, yang mencapai sekitar 60 persen. Kondisi tersebut turut menekan pendapatan pelaku UMKM.
Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Atik Purmiyati menyebutkan bahwa sektor makanan dan minuman menjadi yang paling terdampak.
Kondisi ini menjadi lebih parah dengan terbatasnya modal usaha dan sumber daya manusia yang pelaku usaha UMKM miliki dalam menghadapi kenaikan harga secara tiba-tiba.
“Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” ujar Atik dikutip laman resmi Unair, Minggu (12/4).
Berbagai strategi dapat ditempuh seperti pengurangan volume produk tanpa perlu menaikkan harga. Selain itu, melakukan diversifikasi pasar, sampai substitusi plastik ke bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung, tebu, singkong (cassava bag) dan serat nanas. Akan tetapi, penggunaan kemasan ramah lingkungan bagi UMKM masih kurang masif.
“Oleh karena itu, perlu adanya edukasi besar-besaran untuk menumbuhkan pemakaian kemasan ramah lingkungan,” ungkapnya.
Edukasi, kata Atik, dapat berlangsung melalui dorongan kepada konsumen untuk menggunakan tas belanja ulang pakai, menerapkan prinsip isi ulang (refill), serta wadah makanan sendiri.
Atik mengatakan dalam perspektif ekonomi perilaku (behavior economics), perubahan pola konsumsi masyarakat dapat mempengaruhi permintaan pasar. Hal itu juga mendorong produsen untuk beradaptasi dengan preferensi konsumen lebih ramah lingkungan.
“Pembelian bahan kemasan ramah lingkungan secara kolektif oleh beberapa pelaku usaha dalam jumlah yang besar juga diperlukan sehingga bisa mendapatkan harga lebih murah (economies of scale),” pungkasnya.





Comments are closed.