Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Asal Usul Danau Laut Tador, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Legenda Asal Usul Danau Laut Tador, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

legenda-asal-usul-danau-laut-tador,-cerita-rakyat-dari-sumatera-utara
Legenda Asal Usul Danau Laut Tador, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
service

Legenda Asal Usul Danau Laut Tador, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara


Danau Laut Tador adalah salah satu danau yang ada di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang menceritakan legenda asal usul Danau Laut Tador ini dulunya.

Konon danau ini tercipta dari tangisan seorang anak yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Lantas bagaimana kisah dari legenda asal usul Danau Tador tersebut?

Legenda Asal Usul Danau Laut Tador, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Dinukil dari buku Asal Usul: Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Utara, konon pada zaman dahulu ada sebuah desa di tanah Sumatra. Di sana tinggal sepasang suami istri bersama anaknya.

Aak pasangan suami istri ini bernama Tador. Sehari-hari mereka bekerja sebagai petani dengan mengolah lahan dan sawah yang dimiliki.

Setiap hari pasangan suami istri ini akan pergi ke ladang mereka pada pagi hari. Ketika bekerja, mereka akan meninggalkan Tador seorang diri di rumah.

Hal ini terus berulang selama bertahun-tahun lamanya. Kesendirian ini dialami Tador ketika sang ayah dan ibu sedang bekerja di ladang.

Ada satu tradisi dan kebiasaan yang berkembang di desa itu sejak lama. Ketika bulan Ramadan akan tiba, masyarakat biasanya akan berbondong-bondong untuk mandi berpangir.

Mandi berpangir adalah aktivitas mandi yang menggunakan ramuan kembang. Biasanya mandi berpangir ini dilakukan di sebuah mata air.

Masyarakat desa ini biasanya akan pergi ke kampung sebelah untuk mandi berpangir. Sebab di sana ada sebuah umbul atau mata air yang besar dan bisa digunakan untuk tradisi tersebut bersama.

Tradisi ini juga dilakukan oleh kedua orang tua Tador. Namun sayang, kali ini Tador tidak bisa ikut serta karena sedang sakit.

Ketika akan berangkat, kedua orang tua Tador meminta dia untuk tinggal di rumah. Akan tetapi Tador menolak hal itu dan menangis meminta agar bisa pergi.

Tidak heran, tradisi mandi berpangir menjadi salah satu momen bagi masyarakat desa untuk berbahagia bersama. Apalagi mereka akan pergi bersama-sama menuju desa sebelah untuk melakukan tradisi tersebut.

Tador tentu tidak ingin melewatkan momen sekali setahun tersebut. Oleh sebab itu dia merengek agar bisa ikut bersama kedua orang tuanya.

Ibu Tador kemudian menjelaskan jika dia tengah sakit. Jika ikut, bisa saja sakit tersebut akan makin parah nantinya.

Ayah Tador juga berusaha menjelaskan hal ini pada anaknya. Dia membenarkan ucapan yang disampaikan oleh sang ibu sebelumnya.

Namun Tador tetap saja bersikeras untuk ikut. Bukannya diam, dia justru menangis makin keras.

Tangisan Tador ternyata membuat sang ibu iba. Dia pun berkata pada sang ayah agar bisa membawa Tador bersama mereka.

Sang ayah tetap teguh pada pendiriannya. Dia berkata jika mereka membawa Tador, justru hal itu bisa membahayakan sang anak.

Ibu Tador terus meminta sang ayah untuk membawa dirinya. Namun sang ayah tetap kukuh pada pendiriannya.

Pertengkaran pun akhirnya tidak terelakkan. Setelah berselisih paham, sang ibu akhirnya mau menuruti perkataan suaminya.

Akhirnya pasangan suami istri ini pergi bersama masyarakat desa lainnya untuk mandi berpangir. Di sisi lain, Tador ditinggalkan di rumah seorang diri.

Tadir dikunci di rumah agar tidak pergi ke mana-mana. Tador hanya bisa menangis seorang diri di rumah meratapi nasibnya.

Setelah proses mandi berpangir usai, masyarakat desa itu kemudian kembali pulang. Akan tetapi mereka tidak bisa menemukan rumah serta desa yang ditinggalkan sebelumnya.

Begitu tiba di gerbang desa, terlihat hamparan air yang sangat luas sudah menggenang. Masyarakat kemudian berteriak, “Laut, laut” saking paniknya melihat hal itu.

Kedua orang tua Tador juga merasakan hal yang sama. Mereka khawatir dengan Tador yang ditinggalkan seorang diri sebelumnya.

Mereka kemudian berteriak “Tador, Tador.” Sahutan “Laut” dan “Tador” pun saling terdengar bergantian.

Ternyata genangan air ini merupakan air mata Tador yang menangis tanpa henti. Akibatnya tangisan tersebut menenggelamkan desa tempat tinggal mereka.

Akhirnya desa tersebut berubah menjadi sebuah danau dan diberi nama Danau Laut Tador. Desa yang ada di sekitar danau ini kemudian dikenal dengan nama Desa Laut Tador.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.