Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Mahkota Putih Nusantara di Tanah Papua Segera Menjadi Batu yang Gersang

Mahkota Putih Nusantara di Tanah Papua Segera Menjadi Batu yang Gersang

mahkota-putih-nusantara-di-tanah-papua-segera-menjadi-batu-yang-gersang
Mahkota Putih Nusantara di Tanah Papua Segera Menjadi Batu yang Gersang
service

Kata abadi yang selama ini disematkan kepada salju di Puncak Jaya, Papua, mulai kehilangan maknanya. Di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, hamparan putih yang dahulu menjadi kebanggaan sekaligus anomali di khatulistiwa itu sedang menuju titik kepunahan. Dari hasil penelitian para ilmuwan dan pemantauan satelit, Indonesia sedang bersiap kehilangan satu-satunya gletser tropisnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga akhir tahun 2024 luas tutupan es di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, kini hanya menyisakan sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi.

Laporan Climate Chronicles dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026 turut mengonfirmasi kejadian serupa. Gletser di seluruh dunia telah hilang sekitar 408 gigaton pada 2025. Data tersebut menunjukkan 2025 sebagai tahun terburuk keenam sejak pencatatan pertama dimulai pada 1975.

Mekanisme Penyusutan Gletser

Mencairnya gletser di Puncak Jaya membuat terang sinyal merah dari krisis iklim di wilayah tropis. Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., pakar Hidrometeorologi, Iklim Perkotaan, dan Klimatologi Lingkungan dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan semakin mengecilnya salju di Puncak Jaya dipicu dorongan radiasi Matahari gelombang pendek sebagai energi utama penggerak cuaca dan iklim bumi.

Menurutnya, peran krusial penurunan glester diambil oleh nilai albedo atau rasio energi matahari yang dipantulkan kembali ke atmosfer oleh suatu permukaan. Gletser merupakan penutup lahan dengan nilai albedo paling besar, karena mayoritas energi radiasi Matahari akan dikembalikan ke atmosfer oleh gletser, sehingga bentuk lahan gletser bisa tetap utuh.  .

“Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo menurun. Akibatnya, energi panas terperangkap di atmosfer, memicu pemanasan global dan mempercepat pencairan gletser,” jelas Dr. Emilya.

Dr. Emilya memaparkan, perubahan tata guna lahan seperti pembukaan hutan untuk pertanian dan pemukiman di wilayah tersebut turut mengganggu keseimbangan energi. Ketika tutupan es menyusut dan menyingkap batuan gelap di bawahnya, nilai albedo menurun tajam.

Batuan itu kemudian menyerap panas, meningkatkan suhu lokal, dan menciptakan efek umpan balik yang mempercepat pencairan es dari bawah dan samping. Kondisi ini menempatkan Puncak Jaya pada situasi yang sama kritisnya dengan Gunung Kilimanjaro di Afrika, karena mengalami degradasi signifikan.

Degradasi Eksponensial

Riwayat salju di tanah Papua telah menjadi perhatian dunia sejak pelaut Belanda, Jan Carstenszoon, melaporkan keberadaan gunung bersalju di ekuator pada tahun 1623. Saat itu, laporan tersebut sempat dianggap sebagai isapan jempol oleh masyarakat Eropa.

Melompat ke era Revolusi Industri tahun 1850, luas es di Pegunungan Jayawijaya diperkirakan mencapai 19 kilometer persegi. Meski begitu, dalam satu setengah abad angka itu terus meluruh. Pada tahun 2002, luasnya menyusut menjadi 2 kilometer persegi dan terus terjun bebas menjadi hanya 0,46 kilometer persegi pada 2018.

Penipisan vertikal atau ketebalan es juga menunjukkan tren yang sama mengkhawatirkannya. Dalam catatan peneliti BMKG, Donaldi Sukma Permana, pada tahun 2010 ketebalan es masih berada di angka 32 meter. Hanya dalam waktu enam tahun setelahnya, ketebalan itu menyusut menjadi 22 meter. Sedangkan pada akhir tahun 2023, pengamatan lapangan menunjukkan ketebalan es hanya tersisa sekitar 2 meter di beberapa titik pantau utama.

Dampak dari Puncak hingga ke Pesisir

Kepunahan gletser Puncak Jaya turut menghilangkan pemandangan indah di puncak gunung di Papua. Selain itu, dampaknya juga merambat turun hingga ke permukaan laut. Dr. Emilya mengingatkan, peningkatan volume air laut akibat mencairnya es di kutub dan pegunungan tinggi menyebabkan kenaikan muka air laut yang mengancam wilayah pesisir.

“Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut di daerah Semarang atau pesisir utara Jawa. Banyak pakar yang telah meneliti fenomena tersebut, meskipun kenaikan muka air tidak hanya disebabkan oleh peningkatan volume air laut,” ungkap Dr. Emilya.

Hal ini menunjukkan betapa saling terhubungnya ekosistem kriosfer di pegunungan tinggi dengan stabilitas pemukiman manusia di dataran rendah. Kenaikan muka air laut ini mempersempit luas daratan dan meningkatkan risiko banjir rob yang kini sudah menjadi ancaman rutin bagi warga di pesisir utara Jawa.

Hilangnya Identitas dan Budaya

Dalam kepercayaan Masyarakat Adat Suku Amungme, pegunungan dan lembah adalah bagian tubuh dewa, dan salju di puncaknya diibaratkan sebagai kepala dewa. Mencairnya es berarti hilangnya simbol kesucian yang telah dijaga secara turun-temurun. Puncak yang mereka sebut sebagai Nemangkawi Ninggok ini kini sedang kehilangan mahkotanya.

Di sisi lain, buku Ekologi Papua mencatat, gletser tropis berperan penting dalam menciptakan mikroklimat yang mendukung spesies flora dan fauna unik di ketinggian tinggi. Hilangnya massa es ini diprediksi akan mengubah struktur ekosistem sub-alpin Papua. Artinya, spesies yang terbiasa dengan suhu dingin akan kehilangan habitat mereka dan tidak memiliki tempat lebih tinggi lagi untuk bermigrasi.

Menyongsong Akhir di 2026

Prediksi kepunahan total salju abadi ini kini semakin mengerucut, usianya diperkirakan hanya tinggal 1 atau 2 tahun lagi. BMKG melalui Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan dengan kondisi suhu permukaan saat ini yang sudah sering berada di atas titik leleh atau 0°C, keberlangsungan es di Puncak Jayawijaya hampir tidak mungkin untuk dipertahankan.

“Ini pasti akan hilang karena suhu di permukaannya sudah di atas titik leleh,” tuturnya.

Meskipun fenomena El Nino yang sempat terjadi di tahun-tahun sebelumnya mempercepat laju pencairan, penyebab fundamentalnya tetaplah pemanasan global yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca.

Tanpa adanya langkah mitigasi global yang revolusioner untuk menahan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C sesuai Perjanjian Paris, nasib gletser Puncak Jaya akan menjadi takdir bagi gletser-gletser lainnya di seluruh dunia.

Dr. Emilya menekankan, harus ada aksi nyata dari berbagai tingkat untuk mencegah peningkatan suhu permukaan bumi, sehingga bisa menekan jumlah penyusutan gletser di Papua.

“Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.

Jika prediksi para ahli tepat, generasi mendatang hanya akan mengenal salju Indonesia melalui foto-foto lama dan catatan sejarah, sementara puncaknya sendiri akan kembali menjadi batuan gamping yang gersang, meninggalkan luka permanen dalam rekaman sejarah kriosfer khatulistiwa.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.