Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Musim makin sulit ditebak. Udara panas musim kemarau makin terasa, namun beberapa daerah masih mengalami hujan hingga puting beliung. Peringatan dari ilmuan terkait El-Nino pun bisa menjadi upaya adaptasi bersama untuk menghadapi kemarau yang panjang.
Di berbagai daerah di Indonesia, ancaman terhadap alam tak hanya datang secara alami, tapi lebih akibat dari aktivitas manusia. Banyak lokasi yang dulunya menjadi penyangga kehidupan, kini berubah cepat hingga dampaknya pun datang bersamaan.
Ada beragam peristiwa di bulan April yang perlu kamu tahu. Mulai dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Selatan, semua berbicara tentang relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Mulai dari kisah inspiratif masyarakat Desa Colo dengan buah parijotonya hingga ditemukannya pelanggaran HAM pada proyek panas bumi.
Cerita itu menunjukkan bagaimana upaya masyarakat untuk dapat terus hidup berdampingan dengan alam di tengah tantangan krisis iklim dan korporasi yang merusak lingkungan. Ada suara kelompok rentan yang tak didengar padahal sangat berperan dalam keberlangsungan hidup hingga potongan realitas kerusakan lingkungan.
Dari lereng gunung hingga pesisir, tiap cerita membawa sudut pandang yang beragam. Yuk, dengarkan ceritanya dalam artikel pilihan untuk bulan ini dalam Mongabays Snaps!
1. Saat buah parijoto menjadi identitas masyarakat Kudus

Tak sekadar tanaman, parijoto menjadi identitas daerah bagi masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Khususnya, di lereng Gunung Muria. Para petani membudidayakan tumbuhan semak ini dengan memanfaatkan naungan pohon besar agar tidak terkena sinar matahari langsung. Cara ini sangat efektif karena tidak perlu menebang pohon sehingga tetap menjaga keseimbangan ekosistem lereng Gunung Muria.
Tanaman ini memiliki buah kecil berwarna ungu kemerahan. Kini, tanaman ini menjadi sumber mata pencaharian warga. Tak seperti kopi, parijoto bisa dipanen hampir tiap hari. Melihat potensi ini, masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Kudus mencatat parijoto sebagai sumber daya genetik lokal milik Pemkab Kudus. Upaya ini menjadi cara untuk diversifikasi produk dan mengkolaborasikannya dengan ekowisata, seperti tracking kebun parijoto.
2. Jejak perjuangan Birute Galdikas untuk memperjuangkan orangutan dan hutan Kalimantan

Jejak Birute Galdikas pada orangutan membekas bagi hutan Kalimantan, bahkan dunia. Birute punya gagasan besar untuk membangun koridor satwa se-Kalimantan. Meski itu terdengar mustahil, tapi sebenarnya sangat perlu dilakukan. Pasalnya, hutan Kalimantan sudah banyak terkonversi menjadi konsesi yang membuat populasi orangutan dan satwa lainnya kian terancam.
Meski kepakarannya pada orangutan diakui dunia, banyak kritik juga datang dari beberapa konservasionis. Ini karena model rehabilitasi yang dilakukannya bersama Orangutan Foundation International (OFI) dikhawatirkan dapat menghambat sifat liar orangutan untuk kembali ke alam.
Bahkan, pemerintah Indonesia juga pernah mengancam mencabut izin aktivitasnya di Tanjung Puting. Meski begitu, ia tetap teguh pada visinya. Tak hanya fokus pada orangutan, Birute juga aktif mengamankan lahan hutan dari ekspansi perusahaan. Baginya, konservasi bukan hanya soal pekerjaan dan aktivisme belaka melainkan sebuah spiritualitas.
3. Solusi ramah lingkungan masyarakat Gunungkidul dalam menghadapi krisis air

Indonesia akan menghadapi El-Nino Godzilla. Di tengah ancaman krisis air saat kemarau, warga Kalurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta sudah memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan minum tahun ini. Melalui Sekolah Air Hujan (SAH), warga menggunakan instalasi penampungan air hujan dengan sistem penyaringan higienis yang telah teruji.
Melalui inovasi tersebut, kini, telah terkumpul sekitar 5 juta liter air yang cukup untuk kebutuhan minum 4.003 penduduk desa di sana. Selain pemasangannya yang murah, instalasi panen air hujan juga lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan kondisi wilayah Gunungkidul yang didominasi batuan karst.
Sayangnya, solusi ini tak mendapat perhatian dari pemerintah setempat sebagai cara mengatasi krisis air. Selama ini, pemerintah hanya memberi bantuan pembangunan sumur bor dan pengangkutan tangki air. Padahal, solusi itu tak berkelanjutan, mahal dan tidak cocok pada semua wilayah di Yogyakarta.
4. Nelayan dan petani Kotabaru yang terhimpit dampak tambang batubara

Aktivitas pertambangan batubara oleh PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) di Kotabaru, Kalimantan Selatan, menimbulkan dampak lingkungan serius bagi lahan pertanian dan sungai. Alih fungsi sungai menyebabkan terganggunya keberlangsungan hidup ekosistem sungai sehingga hasil tangkapan nelayan menjadi jauh lebih sedikit. Tak hanya itu, petani juga terdampak karena lahan pertanian sering terendam akibat pembangunan tanggul perusahaan.
CSR (Corporate Social Responsibility) memang sudah menanggapi keluhan dan meluncurkan program Desa Mitra Mandiri dengan membangun infrastruktur dan memberikan modal awal bagi petani dan nelayan. Namun, solusi itu hanya sementara dan tak menyentuh akar masalah. Program yang dirancang juga hanya untuk meredam dampak sosial tanpa melihat kerusakan besar yang telah terjadi dan tetap berlangsung.
5. Proyek panas bumi yang melukai HAM masyarakat lokal

Laporan terbaru dari Penelitian Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII) menemukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam proyek panas bumi di Indonesia, khususnya di Tandikat-Singgalang di Sumatera Barat dan Dieng. Riset itu menyebutkan proyek tersebut mengabaikan persetujuan dan partisipasi warga lokal, bahkan sejak awal tahap perencanaan. Tak hanya itu, proyek ini juga tidak memiliki perspektif gender, budaya, dan kehidupan kolektif.
Negara dinilai gagal dalam melindungi HAM warga lokal karena tidak adanya upaya dalam merespon atau memberikan perlindungan bagi wilayah yang terdampak. Dalam hal ini, Pusham UII pun memberikan 7 tuntutan kepada pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan terkait proyek panas bumi agar adil pada masyarakat.
(*****)
Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?
*Karen Anastasia Surbakti, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang magang di Mongabay Indonesia. Dia memiliki ketertarikan menulis isu lingkungan, kaum marjinal, dan gender.





Comments are closed.