Angin berhembus pelan di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (14/4/26). Cahaya matahari sore yang melemah memantul di permukaan air tambak milik Jamil. Lelaki 63 tahun itu berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil. Dia menebar pakan ke beberapa sudut tambak. Sesekali riak air pecah. Sejumlah kepiting bakau keluar dari persembunyian dengan capit yang muncul lebih dulu sebelum tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. “Kalau jam segini mereka mulai aktif makan. Paginya lebih banyak diam di lubang,” kata Jamal sambil memperhatikan gerak air. Di tambak sederhana itu, Jamil membesarkan kepiting hasil tangkapan nelayan yang masih kecil atau belum layak jual. Setelah beberapa bulan, kepiting akan tumbuh besar, berat bertambah, yang itu berarti harganya naik. Cara ini menjadi salah satu strategi warga pesisir untuk mendapat nilai lebih tinggi dari komoditas yang kian diminati pasar itu. Tidak jauh dari tambak Jamil, di rumah sederhana berdinding batako, Eli Ernawati sedang memilah kepiting yang baru suaminya panen. Sebagian akan dijual ke pengepul, sebagian lagi dipesan pembeli tetap. Dari aktivitas kecil di rumah itu, Eli mampu biayai kebutuhan harian keluarga, mulai dari beras, listrik, hingga ongkos sekolah anak-anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah. Kalau sepi ya harus pintar mengatur,” ujar ibu tiga anak itu. Hamparan mangrove di pesisir Sugian, Lombok Timur yang menjadi habitat penting kepiting bakau. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Budidaya dan konservasi mangrove Selama ini kepiting bakau lebih dikenal sebagai hasil tangkapan…This article was originally published on Mongabay
Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?
Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?





Comments are closed.