Tue,5 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Karisma Tanpa Institusi: Sebuah Studi Kasus

Karisma Tanpa Institusi: Sebuah Studi Kasus

karisma-tanpa-institusi:-sebuah-studi-kasus
Karisma Tanpa Institusi: Sebuah Studi Kasus
service

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis


KATA PEMRED #22
PinterPolitik.com

Pada malam Sabtu, dua Mei dua ribu dua puluh enam, sebuah ponsel menyala di Jakarta. Notifikasi YouTube. Thumbnail huruf kapital merah, judulnya berhuruf besar tentang istana. Yang mendengarnya malam itu adalah algoritma — algoritma yang menyajikan apa pun di tab sebelah, dan yang tidak peduli kepada kredensial siapa pun.

Di bawah thumbnail, dalam huruf kecil yang nyaris harus diperbesar untuk dibaca, kredensial pengunggah: Profesor Doktor Muhammad Amien Rais. Mantan Ketua MPR. Bapak Reformasi sembilan delapan. Pria yang dua dekade lalu kalimatnya menggetarkan lantai gedung Senayan, dan malam ini kalimat-kalimatnya berkompetisi dengan apa pun yang muncul di feed yang sama.

Layar itu, jika dilihat dengan jujur, sudah memuat seluruh argumen tulisan ini. Kapital merah di atas, kredensial dalam huruf yang harus dizoom. Bukan kebetulan editorial. Itu peta hidup. Ada yang akan membaca paragraf di atas sebagai tragedi. Ini bukan tragedi. Ini aritmetika.

Empat puluh empat tahun sebelum malam itu, di sebuah universitas Amerika, pria yang sama menulis disertasi PhD-nya. Tiga kata pada judulnya menentukan: Rise, Demise, Resurgence. Subjeknya adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir — gerakan yang lahir besar, gagal melembagakan diri, dan terus-menerus mencoba bangkit dari pinggiran rezim ke pinggiran rezim. Sang penulis menerima gelar doktor untuk diagnosis itu. Lalu pulang ke Indonesia. Dan menjalankan persis pola yang baru saja ia teliti.

Robert Michels menulis Political Parties pada tahun seribu sembilan ratus sebelas. Ia menyimpulkan satu hal yang ia sebut hukum besi oligarki: setiap partai yang dibangun di atas karisma satu orang akan jatuh, cepat atau lambat, ke lingkar dalam pendirinya. Anak. Saudara. Menantu. Pengamatan itu bertahan seabad lebih, dari Partai Sosial Demokrat Jerman hingga puluhan partai pasca-kolonial di tiga benua. Tidak pernah ada pengecualian. Termasuk untuk akademisi yang seharusnya tahu lebih dahulu daripada orang lain — dan yang justru tidak.

Berikut faktanya, tanpa adjektif. Masa bakti Profesor Amien Rais sebagai Ketua MPR berakhir Oktober dua ribu empat. Pilpres tahun yang sama: ia memperoleh empat belas koma enam puluh enam persen suara, urutan keempat dari lima pasangan calon. Sejak saat itu, selama dua puluh dua tahun, ia tidak pernah sekalipun terpilih oleh konstituen mana pun melalui pemungutan suara langsung. Pemilu dua ribu sembilan: tidak nyaleg. Pemilu dua ribu empat belas: tidak nyaleg. Pemilu dua ribu sembilan belas: tidak nyaleg. Pemilu dua ribu dua puluh empat: tidak nyaleg. Pada Mei dua ribu dua puluh tiga, ketika Partai Ummat — partai yang ia dirikan dan ia kepalai majelis syuranya — mendaftarkan lima ratus delapan puluh bakal caleg ke KPU, namanya tidak ada di daftar itu. Wakil Ketua Umum partai, Nazaruddin, menjelaskan kepada Republika: “Beliau saya kira lebih pas kalau tidak men-caleg.” Bahkan partai yang ia dirikan sendiri, dengan kata lain, menyebutnya kurang pas untuk kursi yang dipilih rakyat.

Itulah satu kalimat yang seharusnya diingat siapa pun yang masih menyebutnya Bapak Reformasi yang kritis. Selama dua puluh dua tahun, sang Bapak Reformasi tidak pernah memintakan diri untuk diuji oleh suara langsung — dan satu-satunya partai yang masih melingkupinya pun memutuskan ia tidak pas untuk diuji.

Lalu lihat partainya. Partai Ummat dideklarasikan dua puluh sembilan April dua ribu dua puluh satu di Yogyakarta. Ketua Umum pertama, sejak hari deklarasi itu, adalah Ridho Rahmadi — menantu Profesor Amien Rais, suami putrinya Tasniem Fauzia. Hukum besi Michels, dengan kata lain, terpenuhi bukan setelah lima tahun. Terpenuhi pada hari deklarasi. Lima tahun kemudian, lewat Surat Keputusan Majelis Syura nomor lima tertanggal enam belas Februari dua ribu dua puluh lima, jabatan Ridho diperpanjang ke periode dua ribu dua puluh lima sampai dua ribu tiga puluh. Tanpa kongres. Tanpa musyawarah nasional. Tanpa laporan pertanggungjawaban. Pada delapan belas Februari, dua puluh dari tiga puluh delapan Dewan Pengurus Wilayah menolak penetapan itu lewat surat bersama. Mantan juru bicara partai sendiri, Mustofa Nahrawardaya, mengatakan kepada Tempo bahwa partai yang diklaim sebagai milik umat akhirnya jatuh tersungkur pada fakta bahwa ini adalah partai dinasti.

Tujuh tahun. Tujuh keputusan. Satu menantu di kursi paling atas, sejak hari pertama. Pemilu dua ribu dua puluh empat: enam ratus empat puluh dua ribu lima ratus empat puluh lima suara, nol koma empat puluh dua persen, urutan kelima belas dari delapan belas, nol kursi DPR. Disertasi di Chicago tetap di rak — tertutup, tidak dibaca, sama sekali tidak menjadi peringatan bagi penulisnya sendiri.

Selama dua puluh dua tahun itu, ia adalah suara konstan di latar pergantian rezim. SBY mendengarnya, lalu mengabaikannya. Jokowi mendengarnya, lalu mengabaikannya. Prabowo mendengarnya — sempat dipujinya pada Desember dua ribu dua puluh empat dengan enam butir pernyataan dukungan tentang pengalaman militer dan jejak Kostrad — lalu enam belas bulan kemudian disebutnya bermesraan dengan oligarki. Tiga rezim, satu suara, nol kursi. Konstanta-nya bukan ideologi. Konstanta-nya adalah pinggir itu sendiri.

Pola dua dekade itu, jika disusun dalam barisan, sulit diabaikan. Pada Pilpres dua ribu empat, ia menyebut adanya jin dan genderuwo di Hotel Borobudur. Pada dua ribu delapan belas, ia hadir sebagai saksi dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Pada Maret dua ribu sembilan belas, ia mengancam people power sebelum hasil pemilu diumumkan; people power tidak ada. Pada Juni dua ribu dua puluh empat, sang arsitek amandemen UUD sembilan sembilan — yang justru mencabut hak MPR memilih presiden — mendukung wacana mengembalikan presiden dipilih MPR. Pada April dua ribu dua puluh lima, ia turun di demonstrasi yang mempertanyakan keaslian ijazah Presiden ketujuh. Pada Juni tahun yang sama, ia menyebut sejumlah menteri sebagai oknum Mossad Israel di kabinet. Tidak satu pun dari pernyataan-pernyataan itu menghasilkan perubahan kebijakan, perubahan opini publik yang signifikan, atau bahkan satu putusan pengadilan yang mengakuinya. Yang dihasilkan hanyalah engagement.

Inilah agency-nya. Amien Rais bukan korban sejarah. Ia adalah pembuat keputusan. Setiap titik di atas adalah pilihan yang ia ambil sendiri. Pilihan-pilihan itu konsisten dalam satu arah. Pinggiran politik hari ini bukan nasib yang menimpanya. Itu hasil. Bukan tragedi — aritmetika.

Max Weber pernah membedakan dua jenis bahan bakar politik: karisma dan rutinasi. Yang pertama membakar revolusi. Yang kedua menjalankan negara. Karisma yang gagal menjelma rutinasi akan membakar habis dirinya, dan apa yang tersisa adalah api kecil di dapur keluarga inti. Ibn Khaldun, enam abad sebelum Weber, menyebutnya siklus ‘asabiyyah. Solidaritas yang lahir dari ketidakadilan rezim akan menyusut dalam tiga generasi. Kecuali ia menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar dari pendirinya. Lihatlah keluarganya, kata Ibn Khaldun, itulah cermin keberhasilannya. Pada Mei dua ribu dua puluh enam, cermin itu memantulkan satu menantu, satu Surat Keputusan, dan dua puluh pengurus wilayah yang menolak.

Pendukung akan berkata bahwa kontribusinya pada Reformasi sembilan delapan tetap fakta sejarah, dan bahwa kelas menengah memang turun sembilan koma empat puluh delapan juta orang dalam lima tahun. Argumen itu sah dalam logika yang sama dengan kebenaran lama: bahwa jam yang berhenti pun menunjukkan waktu yang tepat dua kali sehari. Sah, tetapi tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya. Pertanyaan yang sebenarnya: apakah dua puluh dua tahun tanpa mandat elektoral langsung, ditambah pola jin Borobudur, hoaks Ratna Sarumpaet, people power yang tidak terjadi, Mossad di kabinet, ijazah palsu, partai yang menantu sejak hari pertama, dan partai yang menolaknya sendiri pada akhirnya — masih membuatnya kredibel sebagai pemandu opini publik. Jawaban dari pertanyaan itu, secara matematis, tertulis dalam tiga angka berurutan: empat belas koma enam puluh enam persen, nol koma empat puluh dua persen, dua puluh dari tiga puluh delapan.

Pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu, di University of Chicago, Muhammad Amien Rais mempertahankan sebuah disertasi tentang gerakan yang lahir, runtuh, dan mencoba bangkit kembali. Ia tidak tahu, ketika itu, bahwa disertasi itu bukan ditulis tentang Hassan al-Banna. Ia ditulis tentang penulisnya — empat dekade sebelum subjeknya menyadari, dan empat dekade tanpa pernah dibaca ulang dengan jujur.

Reformasi sembilan delapan adalah sebuah pintu. Beliau adalah orang yang ikut membukanya. Ia memilih untuk tidak masuk ke dalam ruangan yang ia buka — atau lebih tepatnya, ia masuk sebentar pada tahun sembilan sembilan, lalu keluar Oktober dua ribu empat, dan tidak pernah memintakan diri lagi untuk diuji oleh pintu yang dipilih rakyat. Hari ini, ruangan itu sudah dihuni oleh tiga generasi politik yang berbeda. Algoritma di studio yang ia bayar sendiri masih menunggunya untuk berbicara. Ruangannya tidak. Beliau masih di ambang. Mengetuk.

**********************


Tentang Penulis

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.