Ringkasan Berita:
- Tetangga korban mengungkap kronologi awal tragedi pembunuhan di Mojokerto.
- Korban datang ke rumah putrinya karena kurir paket COD sebelum ditemukan tewas.
- Putri korban ditemukan terluka parah setelah diduga ikut dianiaya suaminya.
- Polisi masih memburu terduga pelaku yang melarikan diri.
Mojokerto (beritajatim.com) – Kesaksian tetangga mengungkap detik-detik awal tragedi berdarah yang menewaskan seorang mertua di Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Rabu (6/5/2026). Korban, Siti Arofah (54), diduga tewas di tangan menantunya sendiri setelah datang ke rumah putrinya untuk memberi tahu adanya kurir paket COD.
Tetangga korban, Nur Aidah (32), menuturkan sekitar pukul 08.00 WIB korban mendatangi rumah kontrakan putrinya, Sri Wahyuni (36), karena melihat kurir paket telah lama menunggu di depan rumah tanpa respons.
“Tapi pintu rumah dalam keadaan tertutup rapat tanpa ada respons dari dalam. Bu Siti lewat samping rumah saya untuk masuk lewat pintu belakang rumah putrinya. Setelah itu saya tinggal mandi, tidak dengar suara apa-apa,” ungkap Nur Aidah.
Tak lama berselang, suasana lingkungan mendadak geger setelah warga berdatangan ke lokasi. Saat itulah diketahui telah terjadi penganiayaan brutal di dalam rumah kontrakan tersebut.
Korban ditemukan meninggal dunia di dalam kamar dengan luka serius di bagian leher dan perut. Sementara Sri Wahyuni ditemukan di kamar belakang dalam kondisi terkunci, mengalami luka pada dada dan wajah, namun masih selamat.
“Pintu kamar sampai didobrak warga bersama Pak RT. Mbak Yuni kondisinya masih sadar, tapi sudah sulit ditanyai tapi Bu Siti sudah meninggal,” ujarnya.
Rumah kontrakan tersebut diketahui dihuni Sri Wahyuni bersama suaminya, Satuan (43), yang kini menjadi terduga pelaku utama dan masih dalam pengejaran polisi.
Menurut warga, rumah tangga pasangan tersebut kerap diwarnai pertengkaran akibat persoalan ekonomi dan kecemburuan.
“Ini suami keduanya, punya anak satu usia 3 tahun. Anak pertama sudah SMP, tapi dengan suami sebelumnya. Mungkin karena kerjanya serabutan dan istrinya kerja di pabrik jadi cemburu dan sang istri keuangannya lebih,” pungkas Nur Aidah. [tin/beq]




Comments are closed.