Seiring menguatnya peran media sosial dalam kehidupan kaum muda, kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan mental pun terus meningkat.
Sayangnya, perdebatan publik dan langkah-langkah kebijakan yang diambil cenderung memperlakukan remaja sebagai satu kelompok yang seragam. Kita kerap mengabaikan fakta bahwa penggunaan media sosial tidak memengaruhi setiap kaum muda dengan cara yang sama, begitu pula dampak yang dihasilkan terhadap kesejahteraan mereka.
Dalam temuan terbaru World Happiness Report 2026 yang diterbitkan oleh UN Sustainable Development Solutions Network (PBB) bekerja sama dengan Universitas Oxford, kami meneliti kaitan antara penggunaan media sosial yang bermasalah dengan kesejahteraan remaja dari berbagai latar belakang sosioekonomi.
Kami meneliti 43 negara yang tersebar di enam kawasan luas—Anglo-Keltik, Kaukasus-Laut Hitam, Eropa Tengah-Timur, Mediterania, Nordik, dan Eropa Barat—yang mencakup negara-negara Eropa serta wilayah di sekitarnya.
Berbasis data lebih dari 330 ribu anak muda, kami menemukan pola yang jelas dan konsisten: tingginya tingkat penggunaan media sosial yang bermasalah—keterlibatan kompulsif atau tidak terkendali dengan media sosial—berkaitan erat dengan buruknya tingkat kesejahteraan remaja.
Mereka cenderung mengalami lebih banyak keluhan psikologis, seperti merasa sedih, gugup, mudah marah, atau kesulitan tidur. Mereka juga memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Ini menjadi ukuran seberapa positif mereka mengevaluasi kehidupan mereka secara keseluruhan.
Pola ini muncul di seluruh negara dalam studi kami, tapi kekuatannya bervariasi antarnegara. Dampak ini sangat nyata terlihat di negara-negara Anglo-Keltik seperti Inggris dan Irlandia, sementara kekuatannya relatif lebih lemah di wilayah Kaukasus-Laut Hitam.
Latar belakang sosioekonomi penentu nasib
Temuan ini tidak hanya berhenti pada faktor geografis. Remaja global dari latar belakang yang kurang mampu cenderung rentan terhadap dampak negatif penggunaan media sosial yang bermasalah dibandingkan rekan-rekan mereka yang lebih beruntung.
Hal ini berarti status sosioekonomi—sumber daya materi dan sosial yang tersedia dalam rumah tangga, seperti pendapatan dan kondisi tempat tinggal yang dialami kaum muda sebagai akibat dari lingkungan daring berperan aktif membentuk risiko dan peluang setiap individu.

Menariknya, ketimpangan ini amat kontras ditinjau dari tingkat kepuasan hidup. Perbedaan kelompok sosioekonomi memang lebih kecil dalam hal keluhan psikologis, tapi jauh lebih nyata dan konsisten pada cara remaja menatap kehidupan mereka masing-masing.
Tingkat kepuasan hidup lebih sensitif terhadap perbandingan sosial jadi salah satu pemicunya. Media sosial terus-menerus memaparkan standar acuan bagi kaum muda—mengenai apa yang orang lain miliki, lakukan, dan capai. Ini ujung-ujungnya memperlebar persepsi perbedaan peluang serta sumber daya.
Pada saat yang sama, pola-pola ini tidak selalu identik di setiap tempat. Sebagai contoh, perbedaan sosioekonomi dalam keluhan psikologis cenderung tidak terlalu besar di sebagian besar wilayah, termasuk negara-negara Eropa kontinental seperti Prancis, Austria, atau Belgia, tapi terpantau lebih jelas di negara-negara Anglo-Keltik seperti Skotlandia dan Wales.
Sebaliknya, kesenjangan sosioekonomi dalam kepuasan hidup muncul di hampir semua wilayah, meski cenderung lebih lemah di negara-negara Mediterania seperti Italia, Siprus, dan Yunani.

Masalah yang terus tumbuh
Kami juga meneliti bagaimana pola-pola ini berkembang dari waktu ke waktu. Keterkaitan antara penggunaan media soial yang bermasalah dengan buruknya kesejahteraan remaja pada rentang 2018 – 2022 semakin kuat.
Ini menunjukkan bahwa risiko terkait penggunaan media sosial bermasalah mungkin telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ini membuktikan kawula muda makin ketergantungan teknologi digital selama dan setelah pandemi COVID-19
Yang perlu diingat adalah peningkatan ini telah memengaruhi remaja di berbagai kelompok sosioekonomi dengan cara yang hampir serupa di sebagian besar wilayah. Dengan kata lain, meskipun ketimpangan tetap ada, kesenjangan tersebut tidak melebar selama periode ini.
Read more: Social media addiction disrupts the sleep, moods and social activities of teens and young adults
Tidak ada satu solusi untuk semua
Meskipun debat publik mengenai media sosial dan kesehatan mental sering kali memperlakukan remaja sebagai satu kelompok demografi yang seragam, hasil penelitian kami menunjukkan realitas yang lebih kompleks.
Penggunaan media sosial berisiko berkaitan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah di berbagai negara, tapi dampaknya dibentuk oleh realitas sosial. Dampak tersebut bervariasi tergantung pada tempat tinggal kaum muda dan sumber daya apa yang tersedia bagi mereka.
Tidak semua remaja mengalami dunia digital dengan cara yang sama, dan tidak semua memiliki kesiapan yang setara untuk menghadapi tekanannya.
Menyadari hal ini sangatlah penting untuk pemerintah merancang kebijakan yang tidak hanya efektif, tetapi juga adil. Tujuannya untuk memastikan intervensi menjangkau para remaja yang paling rentan terhadap risiko digital.




Comments are closed.