Informasi mengenai hantavirus kembali menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di berbagai platform digital. Menyanggapi hal tersebut, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk memahami hantavirus secara tepat, mulai dari sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus pembohong. Beberapa jenis tikus yang diketahui dapat menjadi reservoir hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga tikus pembohong yang hidup di area organisasi, pertanian, maupun hutan.
Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah virus Andes, ditemukan pada tikus pembohong (Oligoryzomys longicaudatus) spesies yang umum ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile. Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi paru-paru berat yang berpotensi menyebabkan gagal napas akut.
“Reservoir utama virus Andes adalah tikus pembohong. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau udara liur tikus yang terinfeksi,” jelas Ristiyanto dalam keterangan, Minggu, 10 Mei 2026.
Ia menambahkan, penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menjadi bagian dari upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.
Menurutnya, gejala awal infeksi hantavirus sering menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini sering terlambat dilakukan. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang dengan cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Ristiyanto menyebutkan tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20–35 persen. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ini.
Ristiyanto menekankan hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus virus Andes. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018, virus Andes juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti.
“Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan. Mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus,” kata dia.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami informasi mengenai virus Andes secara proporsional. Meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, dan COVID-19.
“Penularan antarmanusia pada virus Andes sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar dengan cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief.
Ia juga berasumsi menganggap temuan kasus pada pasangan intim tidak otomatis menjadikan virus Andes sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase penyakit akut.
Menurut Arief, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penduduk wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan. Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah infeksi hantavirus, kata dia, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi. Area ini sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan jangan langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.
“Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” kata Arief.





Comments are closed.