Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman mengatakan generasi muda saat ini sering terlena dengan tren dan budaya yang menganggap bahwa merokok itu keren. Apalagi sebagian orang muda sering merundung pemuda lain yang tidak merokok.
Tak heran, jumlah perokok aktif di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Indonesia (Riskesdas) 2023 mencapai lebih dari 70 juta jiwa. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah konsumen tembakau tertinggi secara global.
Dedi menyampaikan perihal ini dalam Konferensi Indonesia tentang Pengendalian Tembakau (ICTOH) ke-11 yang dibuka pada Kamis, 21 Mei 2026 di
Menara Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) di Kampus Universitas Airlangga Surabaya. Sejumlah pihak memaparkan tentang adiksi rokok generasi muda yang telah menimbulkan berbagai penyakit dan pencegahannya dalam forum ini.
“Ini memicu beban ganda penyakit katastropik (penyakit yang membutuhkan biaya tinggi seperti jantung, gagal ginjal, stroke, dan lain-lain)” kata Dedi.
Ia melanjutkan, kecanduan rokok juga berkaitan erat dengan munculnya penyakit tidak menular. Di Indonesia, tingkat kematian akibat penyakit tidak menular mencapai 74 persen.
Oleh karena itu, Dedi berharap adanya penguatan regulasi dan kolaborasi multisektor sebagai kunci untuk mengendalikan konsumsi dan perilaku merokok. Tujuannya agar generasi muda terlindungi dan bonus demografi 2030 dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melalui IAKMI, Dedi menambahkan tiga poin untuk mengendalikan konsumsi rokok. Pertama, larangan total iklan rokok seperti yang diterapkan beberapa negara dunia. Kedua, menaikkan bea masuk untuk menutup pandangan keterjangkauan harga rokok bagi masyarakat miskin dan anak-anak.
”Ketiga, memperluas Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan memastikan penegakan hukum KTR secara konsisten,” ucapnya.
Dedi pun optimistis pengendalian tembakau akan didukung oleh Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, dia menilai, Presiden Prabowo sangat anti rokok.
Senada dengan Dedi, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Erwin Astha Triyono, mencatat jumlah penyakit metabolik dan keganasan di Jawa Timur masih tinggi. Seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, dan jantung.
”Sebagian besar di antaranya disebabkan oleh perilaku merokok,” tutur Erwin.
Menurut Erwin, Dinas Kesehatan Jawa Timur telah berusaha melakukan langkah-langkah strategi untuk mencegah peningkatan jumlah perokok aktif. Salah satunya mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) KTR yang telah disahkan tahun 2024 dan Peraturan Gubernur tentang KTR pada tahun 2025.
”Ini luar biasa perjuangannya selama bertahun-tahun,” kata Erwin.
Sementara itu, Ketua Tim Penyakit Tidak Menular Populasi Lebih Sehat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tara Mona Kessaram juga menyoroti hasil Riskesdas 2023 yang mendata bahwa jumlah perokok aktif usia 10-18 tahun di Indonesia mencapai 7,4 persen.
Menurut Tara, salah satu pemicu tingginya jumlah perokok anak dan remaja adalah promosi dan kemasan rokok yang menarik. ”Maka, kebijakan untuk mencegah hal ini perlu segera dilakukan,” ucap Tara.
Selain itu, Tara juga berharap konferensi ini membuka taktik industri rokok dan tembakau yang mempromosikan dan menjual rokok secara masif. Hal ini, katanya, perlu segera disikapi melalui aturan yang ketat.
Merespons pernyataan Tara, Wakil Rektor Universitas Airlangga (Unair) bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat, Muhammad Miftahussurur, menyetujui pengendalian tembakau bukan hanya sekedar isu kesehatan. Melainkan upaya perlindungan terhadap generasi muda di masa depan.
Menurut dia, kampus juga harus melakukan pencegahan perilaku merokok, terutama pada anak-anak dan remaja. “Misalnya Unair yang setiap tahun menganggarkan untuk sidak KTR. Ini bisa ditiru oleh kampus lain,” ucapnya.
Konferensi Nasional Pengendalian Tembakau atau ICTOH 2026 berlangsung pada Kamis-Jumat, 21-22 Mei 2026. Agenda ini diikuti oleh para pengajar, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah yang akan melakukan diskusi ilmiah soal pengendalian tembakau.
Ketua Panitia ICTOH 2026, dr Sumarjati Arjoso menyatakan agenda ini meliputi 3 pleno, 7 simposium, 12 diskusi paralel, dan presentasi poster. Terdapat 155 abstrak artikel ilmiah yang mendaftar dalam ICTOH tahun ini. Namun, hanya 125 yang diterima untuk dipresentasikan.
Pada akhir konferensi, diberikan penghargaan sebagai presenter oral terbaik dan presenter poster terbaik. Para peserta juga diajak untuk melakukan Deklarasi ICTOH ke-11 ini.





Comments are closed.