Indonesia menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang kritis. Dengan perkiraan 70 juta perokok aktif dan meningkatnya penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja dan dewasa muda, Indonesia tidak hanya menghadapi krisis kesehatan, tetapi juga tantangan bagi pembangunan dan produktivitas di masa depan.
Pernyataan ini disampaikan Joshua Abrams, Associate Vice President, Global Tobacco Control, Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK) dalam Pembukaan Indonesia Conference on Tobacco Control (ICTOH) 2026 di Airlangga Shari’a and Entreprenurship Education Center (ASEEC) Tower di Kampus Dharmawangsa Universitas Airlangga Surabaya, Kamis, 21 Mei 2026.
Wakil Menteri Kesehatan Dokter Benjamin Paulus Octavianus atau dikenal dengan sebutan Dokter Benny membuka konferensi ini dengan memukul gong dan memberikan materi presentasi berjudul “Menuju Generasi Sehat Indonesia Emas Tanpa Adiksi Nikotin dan Tembakau”.
Joshua mengatakan fakta bahwa banyak perokok mulai merokok pada usia yang sangat muda seharusnya menjadi perhatian kita semua. Industri tembakau dan nikotin, kata dia, semakin meningkatkan kesejahteraan konsumen sejak dini.
Itulah sebabnya, katanya, kita terus melihat strategi pemasaran agresif yang menargetkan kaum muda. Strategi itu melalui iklan, media sosial, sponsor, produk beraroma, dan narasi yang beredar seputar produk nikotin yang lebih baru.
Ia menyambut baik konferensi tahun ini yang mengangkat tema “Mengungkap Kecanduan Tembakau dan Nikotin untuk Indonesia yang Lebih Sehat.” Baginya, tema ini sangat tepat waktu dan mendesak.
Joshua mengingatkan, di balik kemasan yang menarik, kampanye digital, acara yang dilarang, dan program tanggung jawab sosial perusahaan, ada kenyataan sederhana. Kecanduan tembakau dan nikotin terus membahayakan jutaan orang, terutama anak-anak dan kaum muda.
Ia mengajak kita semua harus tetap jelas dan bersatu dalam menanggapi hal ini. Kecanduan tidak boleh dianggap sebagai gaya hidup, dan kecanduan nikotin di kalangan anak-anak tidak boleh dinormalisasi.
Kabar baik adalah solusi efektif yang sudah ada. Joshua menyatakan negara-negara di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa kebijakan yang kuat dan berbasis bukti dapat secara signifikan mengurangi penggunaan tembakau.
“Pajak tembakau yang lebih tinggi, larangan menyeluruh terhadap iklan, promosi, dan sponsor tembakau, ruang publik bebas asap rokok, peringatan kesehatan bergambar, standar kemasan, dan layanan berhenti merokok yang mudah diakses, semuanya berkontribusi untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi generasi mendatang,” katanya.
Joshua menegaskan Indonesia telah mengambil langkah-langkah penting ke depan. Komitmen yang diucapkan oleh para pemimpin pengendalian tembakau dan masyarakat yang berkumpul di ICTOH merupakan tanda kemajuan yang kuat.
Yang menjadikan konferensi ini sangat penting, lanjut dia, adalah kemampuannya untuk menyatukan berbagai sektor — pemerintah, akademisi, sipil masyarakat, tenaga kesehatan, media, dan pemimpin pemuda — untuk memperkuat kolaborasi dan membangun momentum bagi kebijakan yang lebih kuat.
Joshua juga senang melihat terus berlanjutnya keterlibatan Forum Pemuda dalam ICTOH 2026. Kaum muda bukan hanya penerima manfaat kebijakan pengendalian tembakau. Mereka adalah salah satu suara terkuat yang menuntut perubahan dan akuntabilitas. Kepemimpinan mereka sangat penting untuk membangun Indonesia yang lebih sehat dan produktif.
Seiring berlanjutnya diskusi, ia berharap konferensi ini menghasilkan ide-ide baru, kemitraan yang lebih kuat, dan komitmen yang diperbarui. “Hal ini untuk memajukan kebijakan pengendalian tembakau yang mengutamakan kesehatan masyarakat,” kata Joshua.
Pada kesempatan itu, ia juga menyatakan menyesal karena tidak dapat bergabung langsung di Surabaya. “Saya merasa sangat terhormat dapat berpartisipasi secara virtual dalam Konferensi Pengendalian Tembakau Indonesia ke-11 tahun 2026,” kata dia.
Atas nama CTFK, beliau menyampaikan penghargaan yang tulus kepada Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Vital Strategies, Universitas Airlangga, dan semua mitra yang terus memimpin dan memperkuat upaya pengendalian tembakau di Indonesia.
Ia menyampaikan CTFK tetap berkomitmen untuk mendukung Indonesia dan semua mitra dalam melindungi anak-anak dan masyarakat dari bahaya tembakau dan kecanduan nikotin. “Bersama-sama, kita dapat membantu memastikan bahwa generasi mendatang tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan terbebas dari kecanduan,” tutur Joshua.





Comments are closed.