Menjelang keberangkatan ibadah haji, biasanya hati sering terasa terpanggil untuk melambatkan tempo hidup, merenungi makna perjalanan suci yang akan ditempuh. Kehidupan yang berputar untuk bekerja, keluarga, dan pertemanan terjeda untuk memikirkan arti kehidupan lebih mendalam.
Ibadah haji memang diyakini bukan hanya tentang langkah kaki menuju Ka’bah, tetap perjalanan batin yang menuntun jiwa mendekat kepada Sang Pencipta.
Dalam buku Kumpulan Cerita dan Fabel Jalaludin Rumi (Kakatua, 2022) tersaji banyak kisah renungan tentang hidup. Cerita yang disajikan di dalamnya tak jarang membuat pembaca terdiam, berpikir, dan menginsafi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Empat Orang India yang Shalat, Pelaut dan Profesor, dan Anak Itik adalah tiga dari banyak cerita yang menarik untuk disimak, utamanya menjelang ibadah haji.
Empat Orang India yang Shalat
Matahari sudah bertengger di puncaknya, dan empat Muslim India yang taat memasuki masjid untuk melakukan shalat zuhur. Mereka pun berdiri bahu-membahu, masing-masing dengan harapan yang berbeda di hatinya, dan mulai bersembahyang. Di pertengahan shalat, azan berkumandang di udara, keraguan langsung menyergap benak keempatnya apakah mereka terlalu tergesa-gesa dalam memulai sembahyang. Salah seorang dari empat lelaki itu menoleh ke sang muazin dan bertanya: “Muazin yang terhormat, apakah engkau yakin dirimu tidak terlambat hari ini untuk menyerukan azan?”
Salah satu orang India itu dengan cepat menyahut temannya: “Kawan, apa yang telah kau lakukan? Kau berbicara di tengah-tengah shalat, dan sekarang shalatmu tidak sah!”
Orang India ketiga menoleh ke arah yang kedua dan berseru: “Hei, kenapa kau menyalahkannya? Kau melakukan hal yang persis sama dan sekarang telah membatalkan shalatmu sendiri!”
“Alhamdulilah, aku tidak mengatakan hal yang tak perlu seperti mereka bertiga!” ujar orang India keempat. “Aku terlalu pintar untuk melakukan kesalahan bodoh seperti itu! Shalatku masih sah!” sesumbar orang itu, tidak menyadari kekurangannya.
Dengan demikian, shalat keempat lelaki tadi pun tidak sah pada siang hari itu, karena masing-masing merasa dirinya lebih baik daripada yang lain.
**
Kisah ini menyoroti bagaimana ego bisa menyusup bahkan ke dalam ibadah. Keempat orang itu gagal menjaga kekhusyukan karena sibuk menilai kesalahan orang lain. Ada paradoks: masing-masing merasa benar, tetapi justru semuanya batal. Kisah ini agaknya menunjukkan bahwa kesombongan rohani lebih berbahaya daripada kesalahan teknis dalam ibadah.
Menjelang haji, pesan ini sangat relevan. Haji adalah ibadah yang menuntut kebersamaan jutaan orang dari berbagai latar belakang. Jika hati masih dipenuhi rasa “aku lebih suci” atau “ibadahku lebih shahih,” maka perjalanan haji bisa kehilangan makna terdalamnya.
Pelaut dan Profesor
Hari sudah larut, dan sang profesor harus menyeberangi perairan untuk kembali ke pulau tempat tinggalnya. Sang profesor melompat ke perahu pertama yang ditemukannya dan memerintahkan si pelaut untuk membawanya pulang secepat mungkin. Perahu itu perlahan-lahan menjauh dari pelabuhan, dan sang profesor menyamankan dirinya di geladak. Lama dia mengamati di pelaut dan akhirnya menyimpulkan bahwa lelaki ini pastilah tidak berpendidikan. Dan sebelum bisa mengendalikan lidahnya, sang profesor berkata dengan sombong: “Apakah kau pernah mengecap bangku sekolah atau mempelajari karya sastra apa pun?”
“Tidak,” kata si pelaut dengan polosnya.
“Kalau begitu, kau telah menyia-nyiakan setengan dari hidupmu, Sobat!”
Si pelaut merasa sangat terhina tetapi tidak menanggapi, melanjutkan pekerjaannya dan menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam.
Hampir separuh perjalanan, cuaca berubah, dan badai ganas menerjang. Pelaut itu akhirnya mendapatkan momen balas dendam yang manis!
Dia bertanya kepada profesor yang sudah pucat pasi saking takutnya: “Tuan profesor terhormat, apakah Anda bisa berengn?”
“Jangan konyol, tentu saja tidak, Sobat!” dia gelagapan.
“Oh, sungguh disayangkan! Karena sekarang Anda akan menyia-nyiakan sisa hidup Anda! Perahu ini terjebak di pusaran air, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan berenang! Sekarang semua karya sastra berharga itu tidak dapat membantu Anda sedikit pun. Anda menganggapku bodoh, dan sekarang lihatlah diri Anda! Terjebak di dalam lumpur seperti keledai!”
**
Kisah ini menyingkap kesombongan intelektual. Sang profesor merasa superior karena pengetahuan akademiknya, tetapi pengetahuan itu tidak berguna saat badai datang. Pelaut yang dianggap “bodoh” justru memiliki ilmu praktis yang menyelamatkan hidup. Ilmu sejati adalah yang memberi manfaat, bukan sekadar menambah gengsi.
Jika ditarik dalam konteks ibadah haji, banyak orang berangkat dengan latar pendidikan, status sosial, atau jabatan yang berbeda. Namun di hadapan Allah, semua itu runtuh. Yang menentukan bukan gelar atau kepintaran, melainkan amal, kesabaran, dan kemampuan menghadapi ujian.
Anak Itik
Badai telah membuat sekumpulan telur itik terlempar dari sarang mereka di tepi pantai yang dibatasi pepohonan, di mana si induk menciptakan tempat berlindung yang aman bagi mereka. Saat mereka melarung tanpa tujuan di atas ombak yang berbuih, sebutir telur terperangkap dalam pusaran air dan terpisah dari yang lain. Di bawah tekanan air yang berputar-putar, cangkangnya pecah, dan seekor anak itik kecil menjulurkan kepala, mencoba untuk menghirup udara baru. Namun gempuran ombak yang tak henti-hentinya melemparkan telur yang retak itu ke sebuah pantai, memisahkannya selamanya dari telur lain.
Itik mungil itu berjuang untuk keluar dari cangkangnya yang retak dan akhirnya berhasil terkedek-kedek menjauh dari laut yang bergelora ke hamparan pasir kering. Karena tidak mampu mengurus diri sendiri, itik kecil itu merasa kesepian dan ketakutan. Untungnya, seekor ayam betina yang telurnya baru saja menetas berada di dekatnya dan melihat makhluk tak berdaya itu berguling-guling dengan lemah di hamparan pantai tak berujung. Didekatinya itik itu, dan dengan kemurahan hati, menuntun makhluk itu ke bawah sayapnya, membawanya ke anak-anaknya sendiri.
Bayi-bayi yang baru menetas itu tumbuh besar bersama dan dapat mencari makan sendiri tanpa bantuan induk ayam mereka. Namun si anak itik selalu mendapati dirinya tertarik ke air meski terlalu takut untuk masuk, karena dia menyadari tidak satu pun saudaranya yang ingin mencoba. Batinnya tercabik, tidak dapat memahami mengapa dia merasa seperti itu. Adakalanya dia hanya ingin berada di tanah kering, tetapi di waktu lain yang dia inginkan hanyalah basah-basahan.
Meski si itik tidak dapat sepenuhnya memahami fitrahnya sendiri, pada saat yang bersamaan, dia juga tidak dapat menyangkalnya. Sama seperti kita manusia yang termasuk ke dalam dunia spiritual dan selalu ingin kembali tetapi terjebak dalam jerat dunia materil, tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya.
**
Anak itik yang tumbuh bersama ayam tetap merasakan panggilan batinnya ke air. Ini melambangkan fitrah manusia yang selalu rindu kepada Tuhan.
Meski lingkungan membentuknya berbeda, panggilan itu tidak bisa dihapus. Ada konflik batin: ingin mengikuti “saudara-saudaranya” di darat, tetapi hatinya tertarik ke air. Kisah ini menggambarkan perjuangan manusia antara dunia material dan kerinduan spiritual.





Comments are closed.