“Tentu hidup ini selalu layak dijalani, terutama bila ia menyangkut hak dan kebebasan untuk berpikir.” (Buku Kenang-Kenangan Beruang Kutub)
Kebenaran tidak mengenal tempat. Ia bisa hadir dalam ruang-ruang yang justru tidak diakui masyarakat sebagai wadah untuk memelihara dan memproduksi kebenaran. Kita tidak merasa kaget jika kebenaran datang dari tempat ibadah atau sekolah, tapi kita boleh sejenak merenungkan ketika kebenaran lahir dari tempat yang dianggap kotor dan penuh salah; penjara.
Sebuah buku fiksi pendek bersampul abu-abu menampilkan demikian. Buku ini seharga empat mangkok mi ayam. Tipis, tak lebih dari 68 halaman. Bobotnya pun tidak lebih berat dari gawai. Isinya menceritakan tokoh utama yang mendapatkan pengetahuan di balik jeruji besi. Buku itu bertajuk Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub (2018).
Claudio Orrego Vicuna, penulis buku adalah seorang sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan mantan aktivis mahasiswa yang menjadi anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile. Karya ini ditulis pasca kudeta militer 1973, sebagai alegori politik tentang kehidupan di bawah kediktatoran. Buku ini konon banyak dianggap bisa menjadi penyemangat agar tidak menyerah dalam perjuangan mencapai kebebasan sejati, utamanya bagi seseorang yang merasa sedang tertindas.
Balthazar, tokoh utama dalam novel, adalah seekor beruang kutub yang berusaha menemukan kebahagiaan dan eksistensinya di kebun binatang. Awalnya, ia adalah beruang yang hidup di alam bebas, tempat yang dipenuhi gunungan es dan ikan-ikan besar. Namun, karena perburuan yang dilakukan oleh manusia, membawanya harus tinggal di balik jeruji, terpisah dari kawanan. Perubahan tempat dan suasana yang ia alami, membuatnya berpikir tentang banyak hal, termasuk arti kehidupan.
Melompat ke dunia nyata, kita mengenal Malcolm X, tokoh Muslim Afrika-Amerika yang dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia. Ia diakui dunia sebagai seseorang yang berani memperjuangkan hak-hak kulit hitam hingga akhir hayatnya. Jika mengulik biografi Malcolm, kita akan menemukan penjara sebagai titik awal perubahan hidup.
Malcolm X dipenjara pada tahun 1946 karena kasus perampokan. Kasus itu mengharuskannya menghabiskan hidup selama enam tahun lebih di penjara. Di balik jeruji penjara, Malcolm X mengalami perubahan arah hidup. Awalnya ia dikenal sebagai tahanan yang penuh amarah, bahkan dijuluki “Satan” karena sering mencaci agama. Namun akhirnya ia mulai mengenal ajaran Elijah Muhammad dan bergabung dengan Nation of Islam. Sejak itu, ia mengubah kebiasaannya: membaca dengan tekun, menyalin kamus kata demi kata, serta menyelami filsafat, sejarah, dan sastra dari perpustakaan penjara.
Hampir setiap malam, ia duduk di lantai dekat pintu sel agar bisa memanfaatkan cahaya redup dari koridor untuk terus membaca. Proses belajar yang terus menerus telah menumbuhkan kesadaran baru dalam dirinya, membentuk disiplin, dan memperkuat keyakinan bahwa pengetahuan adalah jalan menuju kebebasan.
Dari seorang kriminal, ia keluar sebagai Malcolm X—pemimpin yang berkomitmen memperjuangkan martabat dan keadilan bagi orang kulit hitam. Masa enam tahun lebih di penjara menjadi ruang intelektual dan spiritual yang mengubah arah hidup Malcolm secara permanen.
Di Indonesia, Kartini, tokoh emansipasi dan pendidikan, juga tak bisa dipisahkan dengan penjara. Meski ia dipingit di dalam rumah, Kartini menyebut rumahnya sebagai penjara karena tak diizinkan keluar dari tembok tinggi yang mengurung tubuhnya untuk belajar dan memahami dunia secara langsung.
Pernyataan itu Kartini tulis dalam suratnya tanggal 18 Agustus 1899: “Engkau bertanya apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami…”
Empat tahun lamanya Kartini berkhalwat di antara empat tembok tersebut dan tidak pernah melihat dunia luar. Ia merasa amat sengsara dan marah, perasaan itu mendorong Kartini untuk melahap begitu banyak buku dan menulis surat hingga berhasil menembus sekat-sekat tradisi dan mancanegara. Biografi Kartini tidak hanya dibentuk oleh buku, pena, dan kertas, tetapi mula-mula adalah penjara rumah yang membuatnya kesepian dan terasing.
Di Mesir, tepatnya sekitar tahun 1975 atau 1977, sebuah buku yang menceritakan kisah seorang perempuan di balik penjara diterbitkan. Buku itu mengguncang otoritas dan masyarakat Mesir hingga berdampak pada hidup penulisnya, Nawal El Saadawi.
Perlu pengorbanan yang besar dari Nawal untuk memungkinkan buku ini ada di tangan para pembaca. Ia mesti memikul reaksi masyarakat Mesir yang tidak bisa dianggap sepele. Akibat pandangannya yang dianggap tidak menguntungkan oleh penguasa, Nawal menghadapi banyak tekanan politik dan sosial, bahkan menyebabkannya dipenjara lalu diasingkan dari Mesir selama beberapa waktu.
Novel ini memuat perjalanan hidup Firdaus, perempuan yang menunggu pelaksanaan hukuman matinya di penjara. Ia didakwa telah membunuh seorang laki-laki. Nawal menceritakan kisah Firdaus dengan begitu tajam, penuh kejutan, rasa sakit, dan protes terhadap perlakukan tidak adil terhadap perempuan sejak menjadi anak, istri, dan ibu.
Buku ini pada akhirnya mendapat sambutan positif dari para aktivis perempuan, feminis, dan intelektual progresif. Bagi banyak perempuan, novel ini menjadi penyambung lidah bagi suara mereka yang terbungkam dalam masyarakat patriarki Mesir. Hingga kini, lebih dari setengah abad lamanya, buku itu masih hidup, dibaca dari generasi ke generasi. Di Indonesia, kita mengenalnya dengan judul Perempuan di Titik Nol.





Comments are closed.