Legenda Putri Lopian, Cerita Rakyat dari Tapanuli Tengah Sumatera Utara
Legenda Putri Lopian adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Legenda ini mengisahkan tentang seorang putri yang pada awalnya hidup sebatang kara, hingga bisa menemui tambatan hatinya.
Berikut kisah dari legenda Putri Lopian dalam cerita rakyat Sumatera Utara tersebut.
Legenda Putri Lopian, Cerita Rakyat dari Tapanuli Tengah Sumatera Utara
Dilihat dari buku Bunga Rampai Cerita Rakyat Tapanuli Tengah, alkisah pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan di wilayah Tapanuli Tengah. Namun kerajaan tersebut runtuh saat sang raja dan permaisuri menghilang di Samudera Hindia.
Konon sang raja menjelma menjadi peri penunggu di lautan tersebut. Sang raja meninggalkan anaknya, Putri Lopian seorang diri di istana kerajaan.
Putri Lopian tinggal seorang diri di istana. Karena sudah tidak terawat, istana tempat dia tinggal mulai ditumbuhi semak belukar dan berubah menjadi hutan lebat.
Pada awalnya Putri Lopian takut tinggal seorang diri di sana. Namun lama kelamaan, dia tidak merasa takut tinggal seorang diri.
Putri Lopian berteman dengan semua hewan yang ada di hutan. Sahabat baiknya adalah seekor kura-kura raksasa yang selalu mengikutinya ke mana saja.
Sehari-hari Putri Lopian merawat kebun yang dia tanam sendiri. Berbagai sayuran ada di sana dan dikonsumsi sehari-hari.
Putri Lopian juga memiliki kemampuan memasak yang handal. Saat memasak, semua hewan akan menghampirinya karena tidak tahan dengan bau masakan tersebut.
Pada suatu hari, Putri Lopian tersesat ke Kerajaan Sipan Siaporos yang ada di kaki Gunung Batara. Kemunculan Putri Lopian di sana sempat membuat gempar masyarakat di daerah tersebut.
Kehebohan ini ternyata sampai ke telinga sang raja. Sang raja bersama anaknya, Pangeran Badiri kemudian menanyakan kehebohan ini pada guru kerajaan.
Guru kerajaan menjawab jika muncul seorang gadis cantik dari tengah hutan di wilayah mereka. Menurut penalaran sang guru, gadis cantik ini adalah Putri Lopian.
Ternyata sang raja merupakan sahabat dari ayah Putri Lopian. Dia pun merasa bersyukur anak dari sahabatnya itu masih hidup.
Pangeran Badiri kemudian menyarankan agar mereka menggelar syukuran atas rahmat tersebut. Sang raja setuju dengan usul ini dan menggelar acara syukuran yang disebut “Buntie.”
Guru kerajaan kemudian menceritakan jika Putri Lopian dikenal dengan kemampuan memasaknya. Hal ini memunculkan ide di benak Pangeran Badiri untuk memancing Putri Lopian keluar dari hutan.
Pangeran Badiri berkata jika mereka bisa mengadakan sayembara memasak. Lagi-lagi ide ini disetujui oleh sang raja.
Kabar sayembara ini kemudian disebar ke seluruh negeri. Banyak anak gadis yang berbondong-bondong datang mengikuti sayembara itu.
Putri Lopian juga mendengar kabar sayembara ini. Dia pun memutuskan untuk ikut sayembara itu.
Sayembara memasak ini berlangsung meriah. Tidak hanya peserta, para penonton juga heboh menyaksikan perlombaan tersebut.
Setelah berlangsung lama, penilaian pun akhirnya digelar. Ternyata Putri Lopian keluar sebagai pemenang dalam sayembara itu.
Dari kejauhan Pangeran Badiri tidak bisa melepaskan pandangan dari Putri Lopian. Ternyata sang pangeran sudah jatuh hati pada putri tersebut.
Dirinya kemudian menyampaikan perasaannya pada sang ayah. Sang raja pun paham dan menanyakan Putri Lopian apakah mau menjadi menantunya.
Putri Lopian menerima tawaran dari sang raja. Namun dia memberikan dua syarat untuk Pangeran Badiri.
Pertama, Pangeran Badiri mesti membuatkan pulut kuning saat bulan purnama sebagai persembahan untuk ibundanya. Kedua, saat ulang tahun pernikahan yang ke-17, Pangeran Bediri mesti menggelar upacara kebesaran kerajaan yang bernama “Mangusung Bunti.”
Pangeran Badiri bersedia memenuhi persyaratan tersebut. Akhirnya pesta pernikahan antara Pangeran Badiri dan Putri Lopian digelar dengan meriah.
Dari pernikahan ini, Pangeran Badiri dan Putri Lopian dianugerahi empat orang anak. Sejak saat itu, nama Kerajaan Sipan Siaporos juga berganti menjadi Kerajaan Badiri dengan Pangeran Badiri sebagai rajanya.
Pada ulang tahun pernikahan yang ke-17, Raja Badiri menunaikan perjanjiannya. Namun saat acara sedang digelar, tiba-tiba badai kencang melanda Kerajaan badiri.
Putri Lopian terseret oleh badai tersebut hingga ke tengah laut. Raja Badiri beserta keempat anaknya berusaha keras menyelamatkan Putri Lopian.
Namun usaha mereka tidak berhasil juga. Akhirnya Raja Lopian mesti menerima kenyataan jika Putri Lopian hilang terseret lautan Samudera Hindia.
Konon ada kepercayaan masyarakat yang mengatakan jika wajah Putri Lopian muncul di ambang senja, maka kondisi lautan akan menjadi tenang. Selain itu, para nelayan juga akan mendapatkan kemudahan dalam menangkap ikan saat momen tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.