Dengarkan artikel ini:
Prabowo berkata kepada Lula bahwa Indonesia memiliki kopi terbaik. Presiden Prabowo melanjutkan legacy hilirisasi kopi Indonesia. Sekarang, Mampukah Indonesia kembali ke filosofi kesejahteraan petaninya?
Dua abad lalu, Belanda memaksa orang Jawa menanam kopi untuk membangun kota-kota Eropa. Hari ini, kopi yang sama antre panjang di Taipei dan Amsterdam. Yang berubah bukan kopinya, melainkan siapa yang kini menjual cerita dan menikmati nilai tambahnya.
Tahun 1830, Johannes van den Bosch memperkenalkan kebijakan yang dunia kenang sebagai Cultuurstelsel. Setiap keluarga petani Jawa diwajibkan menyisihkan seperlima lahannya untuk ditanami komoditas ekspor pilihan pemerintah kolonial: tebu, nila, dan kopi.
Hasilnya mengesankan dalam logika akuntansi kolonial. Antara 1831 hingga 1877, kas Belanda menerima pemasukan dari Hindia Belanda senilai hampir 800 juta gulden: cukup untuk melunasi utang perang Napoleon, membangun jaringan kereta api, dan membiayai kanal-kanal indah Amsterdam. Kopi Jawa adalah salah satu mesin raksasa di balik kemakmuran itu. Petani yang menanamnya mati kelaparan karena lahan pangan mereka disita paksa.
Hampir dua abad kemudian, di Xinyi District Taipei, 350 orang berdiri antre berjam-jam di depan gerai berwarna coklat pada Sabtu pertama April 2026. Di Amsterdam, kota yang sebagian dibangun dari hasil kopi Jawa itu, sebuah kedai sederhana bernama Toko Kopi TUKU menyambut pengunjung Eropa dengan menu Kopi Susu Tetangga dan aroma gula aren Nusantara.
Tidak ada paksaan. Tidak ada kolonial. Hanya antrian panjang yang sukarela.
Sesuatu yang fundamental telah berbalik.
Dari Tanam Paksa ke Tanam Merek
Kopi masuk Indonesia bukan karena kehendak rakyatnya. Ironi sejarah paling keras: tanaman yang datang sebagai alat penindasan itu akhirnya menjadi identitas nasional paling dicintai. Dan kopi Indonesia sudah mendunia jauh sebelum ada media sosial.
Pada 1970, seorang eksekutif perusahaan yang kelak menjadi Key Coffee Inc. Jepang menerima segenggam biji mentah Toraja sebagai hadiah dan langsung terpikat. Ia lalu mendirikan PT Toarco Jaya pada 1976, dan sejak 1979 kopi Toraja mulai dikirim ke Jepang dengan promosi besar-besaran. Publik Jepang langsung jatuh cinta dan menyebutnya The Queen of Coffee. Hari ini, 32 persen konsumen Jepang menyebut kopi Toraja sebagai single-origin favorit. Blue Bottle Coffee di Amerika menjual edisi khusus biji Toraja seharga 18 hingga 22 dolar per 250 gram. Di Amazon Jerman, ia masuk kategori luxury goods dengan harga tiga kali lipat rata-rata kopi biasa.
Faktanya, Jepang lebih dulu memahami nilai simbolik kopi Indonesia dibanding Indonesia sendiri.
Yang selama ini hilang bukan kualitasnya. Yang hilang adalah narasi kepemilikannya.
Selama puluhan tahun, Indonesia mengekspor keunggulan tanpa mengekspor identitasnya. Kopi Toraja harum di Tokyo, tapi mereknya milik Jepang. Kopi Gayo dikenal di Amsterdam, tapi yang menentukan harganya adalah importir Belanda. Inilah yang dalam teori Prebisch-Singer disebut sebagai jebakan periphery: negara penghasil bahan baku selalu kalah dalam pertukaran nilai dengan negara pengolah produk akhir. Indonesia kaya kualitas, miskin narasi.
Yang Dijual Bukan Kopi, tapi Indonesia
Masuk 2026, sesuatu bergeser secara mendasar.
Kopi Kenangan membuka gerai di Taipei dan langsung viral. Antrian 350 orang per hari di akhir pekan untuk mencicipi kopi susu dengan gula aren membuktikan bahwa brand lokal bisa membangun pengalaman yang bersaing di pasar premium Asia. Toko Kopi TUKU memilih Amsterdam sebagai pintu masuk Eropa. Pilihan itu secara tidak sadar memiliki simbol kota yang dibangun di atas modal kopi Jawa kini menerima kedai kopi Indonesia dengan antrian pengunjung yang penasaran.
Persoalannya, yang sedang dijual Indonesia bukan lagi sekadar biji kopi. Dunia membeli sesuatu yang jauh lebih abstrak: suasana Jakarta, bahasa nongkrong kelas menengah urban, aroma gula aren, dan gagasan tentang Indonesia modern yang selama puluhan tahun kalah dominan dari budaya konsumsi Barat. Inilah soft power dalam pengertian Joseph Nye yang sesungguhnya: membuat orang asing mengonsumsi identitas suatu bangsa secara sukarela, tanpa paksaan, bahkan sambil antre panjang.
Untuk pertama kalinya sejak era kolonial, Indonesia tidak hanya mengekspor kopi, tetapi mulai mengekspor pengalaman dan citra dirinya sendiri. Di titik inilah negara mulai melihat peluang geopolitik yang lebih besar.
Di sinilah Prabowo Subianto menemukan momentum yang ia butuhkan.
Di forum internasional Tokyo, 2025, ia berdiri di hadapan para pemimpin dunia termasuk Presiden Brazil Lula da Silva dan berkata:
“My coffee is better than yours. I’m sorry, you’re my friend, but my coffee is better.”
Di forum itu, kalimat tersebut terdengar seperti gurauan diplomatik. Tetapi bagi investor dan pelaku bisnis global, pesannya jauh lebih serius: Indonesia tidak lagi ingin sekadar menjual bahan mentah.
Berbeda dari hilirisasi nikel yang berujung sengketa WTO dengan Uni Eropa, hilirisasi kopi era Prabowo memilih jalur konsensual. Swasta memimpin ekspansi, negara memfasilitasi dan mendiplomasi. Antonio Gramsci menyebut model seperti ini sebagai hegemoni konsensual: pengaruh yang dibangun lewat persetujuan, bukan paksaan.
Ratu Kopi dan Ironi yang Belum Selesai
Di balik keberhasilan itu, ironi paling keras menunggu untuk dihadapi.
Kopi Toraja sudah menjadi The Queen of Coffee di Jepang selama lebih dari empat dekade. Key Coffee menjualnya sebagai luxury goods di seluruh dunia. Namun petani yang memanen biji-biji itu di pegunungan Tana Toraja masih bergulat dengan harga jual yang tidak mencerminkan kemewahan di etalase Tokyo atau Berlin. Dua puluh persen produk berlabel “Toraja” di pasar internasional bahkan diduga campuran biji kualitas rendah yang mencatut nama tanpa memberi satu rupiah pun kepada petani aslinya.
Pola yang sama berulang di Kopi Kenangan: 900 gerai, viral di Taipei, dalam persiapan IPO yang bisa membuat para pendiri dan investornya meraih kekayaan berlipat. Sementara biji kopi yang menjadi fondasi semuanya masih dibeli di kisaran Rp25.000 per kilogram. Petani tidak memiliki saham. Mereka tidak akan mendapat bagian dari perayaan itu. Mereka adalah protagonis dalam narasi hilirisasi, tapi bukan pemegang manfaat sesungguhnya.
Hilirisasi kopi era Prabowo adalah langkah yang benar dan harus didukung. Kopi Kenangan, TUKU, Kopi Toraja via Key Coffee: semua sedang menulis ulang narasi Indonesia di peta global dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Masalahnya, ada satu pertanyaan yang tidak boleh berhenti diajukan.
Dulu petani dipaksa menanam kopi agar Amsterdam bisa dibangun. Akan menjadi ironi baru jika, dua abad kemudian, Amsterdam kembali menikmati kopi Indonesia sementara petani yang menanamnya tetap tidak pernah benar-benar naik kelas.
Kalau petani tetap miskin sementara dunia menikmati premium coffee Indonesia, maka apakah yang berubah hanya bentuk kolonialismenya? Hanya waktu yang tahu.. (A99)





Comments are closed.