KABARBURSA.COM – Teknologi baterai untuk kendaraan listrik terus mengalami perkembangan, salah satunya dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI).
Mengutip The Driven, para peneliti dari Chalmers University of Technology, Swedia dilaporkan tengah mengembangkan metode pengisian baterai dengan daya cepat berbasis AI.
Teknologi AI yang dihadirkan para ahli ini, diharapkan mampu memperpanjang umur baterai kendaraan listrik tanpa mengorbankan waktu pengisian.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal IEEE melalui studi bertajuk IEEE Transactions on Transportation Electrification. Penelitian ini juga berkolaborasi dengan pihak Victoria University of Wellington, Selandia Baru.
Riset ini menjadi sorotan karena pengisian cepat atau fast charging, selama ini dikenal sebagai salah satu faktor yang mempercepat degradasi baterai kendaraan listrik (EV).
Sebab arus tinggi saat pengisian dengan fast charging, dapat memicu reaksi di dalam sel baterai yang berdampak pada penurunan performa dan usia pakai.
Di tengah meningkatnya penggunaan EV global, isu umur baterai masih menjadi perhatian konsumen. Saat ini, rata-rata baterai mobil listrik memiliki usia pakai sekitar 8 hingga 15 tahun meskipun sejumlah produsen mengklaim daya tahannya punya usia lebih panjang.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti memperkenalkan strategi pengisian daya berbasis AI yang dapat menyesuaikan arus listrik sesuai kondisi kesehatan baterai atau state of health (SoH), termasuk tingkat pengisian dan karakteristik kimia baterai.
Penelitian ini dilakukan oleh Changfu Zou, profesor di Departemen Teknik Elektro di Chalmers, dan Meng Yuan, selaku Asisten Profesor di Universitas Victoria dan mantan peneliti di Chalmers.
Hasilnya, metode baru itu mampu meningkatkan umur baterai hingga 22,9 persen dibandingkan sistem pengisian konvensional.
Lebih detilnya, pengukuran metode ini dilakukan menggunakan parameter equivalent full cycles (EFC), yaitu jumlah siklus pengisian dan pengosongan hingga kapasitas baterai turun ke level 80 persen.
Hasilnya, peningkatan umur baterai itu tidak membuat waktu pengisian lebih lama. Rata-rata durasi pengisian tercatat mencapai 24,12 menit, sedikit lebih cepat dari cara pengisian konvensional yang mencapai 24,15 menit.
Strategi tersebut memanfaatkan reinforcement learning, salah satu cabang machine learning yang memungkinkan algoritma belajar dari interaksi langsung dengan sistem baterai.
Sehingga AI akan terus menyesuaikan keputusan pengisian berdasarkan respons yang diterima selama proses pengecasan.
Berbeda dari metode pengisian umum yang memakai batas arus dan tegangan tetap, sistem AI ini mampu menyesuaikan pengisian berdasarkan kondisi aktual baterai, baik saat masih baru maupun ketika kapasitasnya mulai menurun.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan sebenarnya dari pengisian daya cepat bukanlah sekadar batasan arus, tetapi kondisi elektrokimia yang berubah di dalam baterai,” kata Changfu Zou dikutip, Senin, 18 Mei 2026.
“Dengan mengintegrasikan AI dengan pemahaman berbasis fisika, kita semakin dekat dengan strategi pengisian daya yang memperhatikan kesehatan, yang memaksimalkan kinerja dan masa pakai,” lanjut Zou.
Lebih lanjut, peneliti menyebut teknologi AI ini relatif mudah diterapkan karena hanya membutuhkan pembaruan perangkat lunak atau software pada Battery Management System (BMS) kendaraan listrik.
Namun, mereka mengakui bahwa temuan ini masih membutuhkan sejumlah adaptasi sebelum teknologi tersebut dapat digunakan secara massal di berbagai jenis baterai EV.
Tahap berikutnya, tim peneliti akan menguji metode tersebut langsung pada baterai fisik untuk memastikan efektivitasnya.
“Saat ini tidak banyak jenis baterai yang berbeda, tetapi metodenya perlu dikalibrasi agar dapat digunakan oleh semua orang. Dengan menggunakan transfer learning, kita dapat memanfaatkan apa yang telah dipelajari oleh model AI kita dan dengan demikian mengadaptasi model AI ke baterai baru dengan lebih cepat,” pungkas Zou.(*)





Comments are closed.