Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Papua Itu Bukan “Lahan Kosong”, di Sana Ada Hutan, Satwa Endemik, dan Hidup Banyak Orang

Papua Itu Bukan “Lahan Kosong”, di Sana Ada Hutan, Satwa Endemik, dan Hidup Banyak Orang

papua-itu-bukan-“lahan-kosong”,-di-sana-ada-hutan,-satwa-endemik,-dan-hidup-banyak-orang
Papua Itu Bukan “Lahan Kosong”, di Sana Ada Hutan, Satwa Endemik, dan Hidup Banyak Orang
service

Papua Itu Bukan “Lahan Kosong”, di Sana Ada Hutan, Satwa Endemik, dan Hidup Banyak Orang


Pulau Papua atau New Guinea menyimpan salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Setelah Amazon di Amerika Selatan dan Cekungan Kongo di Afrika, Papua menjadi bentang hutan tropis terbesar ketiga di planet ini. Bagi Indonesia, kawasan ini memiliki arti yang sangat penting karena menjadi wilayah dengan tutupan hutan alam paling luas yang masih tersisa.

Data Forest Watch Indonesia (FWI) menunjukkan bahwa hingga 2018, Bioregion Papua yang meliputi Papua, Papua Barat, dan Kepulauan Aru masih memiliki sekitar 33 juta hektar hutan alam atau sekitar 81 persen dari total daratannya. Di tengah laju kehilangan hutan di banyak wilayah Indonesia selama beberapa dekade terakhir, Papua kini menjadi benteng terakhir hutan tropis Indonesia yang masih relatif utuh.

Namun, arti penting Papua tidak hanya soal luas hutannya. Penelitian global terbaru menempatkan Papua sebagai pulau dengan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh atau vascular plants tertinggi di dunia. Tercatat ada sekitar 13.634 spesies tumbuhan vaskular di Papua, dan sekitar 68 persen di antaranya bersifat endemik, artinya hanya ditemukan di wilayah ini dan tidak ada di tempat lain di bumi.

Saat Satwa Endemik Menjaga Hutan Tetap Hidup

Hutan Papua juga menjadi rumah bagi ribuan satwa yang membentuk keseimbangan ekologis unik. Terdapat sekitar 780 spesies burung di Papua dan 366 di antaranya merupakan spesies endemik. Yang paling menarik, banyak burung di Papua bukan hanya penghuni hutan, tetapi juga “pekerja ekologis” yang menjaga regenerasi hutan tetap berlangsung.

Ornitolog dari Cornell Lab of Ornithology, Edwin Scholes dikutip dari Mongabay Indonesia, menjelaskan bahwa burung memiliki peran penting sebagai penyebar biji, penyerbuk, pengendali hama, dan indikator kesehatan lingkungan. Dalam ekosistem Papua, fungsi itu berjalan di berbagai lapisan hutan.

Di lantai hutan, kasuari menjadi spesies paling penting. Burung besar ini mampu menelan buah berukuran besar dan menyebarkan bijinya hingga puluhan kilometer dari pohon induk. Karena sistem pencernaannya tidak merusak biji, banyak pohon hutan Papua bergantung pada kasuari untuk berkembang biak secara alami. Tanpa kasuari, regenerasi sejumlah pohon besar di Papua akan terganggu.

Di lapisan tengah hutan, berbagai jenis cenderawasih menjalankan fungsi penting lain. Selama ini cenderawasih lebih dikenal karena warna bulu dan tarian kawinnya. Padahal, burung ini juga berperan menyebarkan biji tanaman hutan, termasuk spesies-spesies pohon penting yang buahnya tidak banyak dimakan burung lain.

Sementara itu, di lapisan atas kanopi, julang papua membantu menjaga distribusi buah dan benih antarpohon. Kombinasi kerja satwa-satwa inilah yang membuat hutan Papua tetap tumbuh dan memperbarui dirinya selama ribuan tahun.

Ruang Hidup Masyarakat Papua

Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar kawasan alam. Hutan merupakan sumber pangan, ruang sosial, sumber ekonomi, hingga bagian dari identitas budaya. Banyak komunitas adat masih bergantung langsung pada hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, menjaga hutan Papua berarti juga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat adat. Hubungan antara manusia dan hutan di Papua terbentuk melalui pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Di banyak wilayah, masyarakat adat justru menjadi penjaga utama kawasan hutan yang masih lestari hingga hari ini.

Di sisi lain, tekanan terhadap hutan Papua terus meningkat. Data FWI menunjukkan bahwa hingga 2018 terdapat sekitar 14,6 juta hektar wilayah konsesi industri di Bioregion Papua, mulai dari pertambangan, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga konsesi kayu. Dari jumlah tersebut, sekitar 12,1 juta hektar masih berupa hutan alam.

Antara 2013 hingga 2018 saja, sekitar 369,9 ribu hektar hutan alam hilang di dalam area konsesi. Angka ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan Papua menjadi isu yang mendesak sekaligus menentukan masa depan lingkungan Indonesia.

Menjaga Papua Berarti Menjaga Masa Depan Indonesia

Meski menghadapi tekanan besar, harapan menjaga hutan Papua tetap terbuka. Kesadaran global terhadap pentingnya perlindungan hutan tropis semakin meningkat, termasuk pengakuan terhadap hak masyarakat adat dalam menjaga wilayahnya sendiri. Banyak penelitian kini juga menegaskan bahwa kawasan adat yang dikelola masyarakat lokal cenderung memiliki tingkat kerusakan hutan lebih rendah.

Papua memberi Indonesia peluang besar untuk menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian alam bisa berjalan bersama. Dengan perlindungan hutan yang kuat, tata kelola izin yang transparan, serta pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan, Papua dapat menjadi contoh keberhasilan konservasi tropis dunia.

Hutan Papua bukan hanya penting bagi Papua. Hutan ini penting bagi Indonesia, bagi stabilitas iklim global, dan bagi ribuan spesies yang hanya bisa hidup di sana. Menjaganya berarti memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki hutan hujan tropis yang hidup, kaya, dan tetap menjadi rumah bagi manusia maupun satwa endemiknya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.