Rembang, NU Online
Menjadi nelayan merupakan keputusan besar bagi Baim. Sejak tidak lagi mengenyam bangku sekolah, ia memilih bekerja di lautan lepas. Pemuda yang baru setahun menjadi anak buah kapal (ABK) itu kini akrab dengan kerasnya kehidupan nelayan, termasuk menunggu kepastian ketersediaan solar di dermaga yang harganya semakin mahal untuk nonsubsidi per liter Rp30.000.
Bagi Baim, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah jalan hidup yang dipilihnya di tengah sulitnya lapangan pekerjaan.
“Sekarang susah cari kerja. Jadi nelayan pilihan saya. Masuknya juga nggak pakai ijazah, dan keluarga saya rata-rata memang nelayan,” ujar Baim kepada NU Online, Selasa (19/5/2026).
Namun, berprofesi sebagai nelayan ternyata tidak sesederhana berangkat lalu pulang membawa hasil tangkapan. Dalam setahun terakhir, Baim merasakan langsung persoalan bahan bakar yang menjadi hambatan besar bagi nelayan kecil.
Ia bercerita, antrean solar kerap membuat jadwal keberangkatan kapal tertunda. Penundaan itu tidak hanya dialami satu kapal, tetapi hampir seluruh kapal nelayan di pelabuhan.
“Pernah berangkatnya ditunda. Harusnya hari Kamis, jadi baru berangkat hari Ahad karena antre solar,” imbuhnya.
Kenaikan harga solar juga membawa dampak panjang terhadap kehidupan para awak kapal. Biaya operasional membengkak, sementara penghasilan nelayan justru semakin menurun.
“Kalau solar naik, perbekalan kapal juga ikut naik. Gaji yang awalnya banyak jadi sedikit,” ucap Baim.
Situasi tersebut membuat para nelayan berada dalam posisi sulit. Kapal tidak bisa melaut tanpa bahan bakar, sementara kebutuhan hidup keluarga di rumah terus berjalan. Menurut Baim, kondisi itu membuat banyak kapal akhirnya hanya bersandar tanpa kepastian.
Ia berharap distribusi solar untuk nelayan kecil dapat lebih mudah dan merata. “Nelayan kecil seperti kami sangat layak dibantu. Seharusnya solar dipermudah supaya kapal bisa cepat berangkat melaut lagi. Kasihan kalau nggak dapat solar, kapalnya nganggur,” tandasnya.
Tantangan tidak berhenti di dermaga. Saat berada di tengah laut, kehabisan bahan bakar menjadi persoalan yang menegangkan bagi para nelayan. Dalam kondisi darurat, mereka harus meminta bantuan dari darat atau kapal lain yang masih satu perusahaan.
“Kalau di tengah laut kekurangan BBM, biasanya telepon orang rumah atau bos buat kirim solar. Kalau nggak, minta bantuan teman kapal yang satu perusahaan,” katanya.
Permasalahan nelayan Rembang juga tidak lepas dari kondisi pesisir yang semakin tergerus abrasi. Menurut Baim, kerusakan pantai turut memengaruhi hasil tangkapan ikan dan jumlah hari melaut para nelayan.
“Kebutuhan solar bikin biaya per trip naik, abrasi bikin hasil tangkapan menurun dan hari melaut berkurang. Gabungan keduanya bikin banyak nelayan rugi,” ujarnya.
Meski hidup di tengah ketidakpastian, Baim tetap bertahan menjadi nelayan. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada masyarakat pesisir, terutama terkait kemudahan akses bahan bakar dan perlindungan lingkungan pantai.
“Saya harap nelayan dipermudah dari segi apa pun supaya bisa cepat berangkat melaut lagi,” tutupnya.





Comments are closed.