Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Ke Mana Larinya Berita Buruk di GNFI?

Ke Mana Larinya Berita Buruk di GNFI?

ke-mana-larinya-berita-buruk-di-gnfi?
Ke Mana Larinya Berita Buruk di GNFI?
service

Ke Mana Larinya Berita Buruk di GNFI?


Ada satu keyakinan lama yang nyaris menjadi hukum tak tertulis dalam kerja media massa: bad newsis good news.

Dalam ekosistem digital hari ini, logika itu bahkan semakin diperkuat oleh algoritma. Semakin membuat orang marah, cemas, atau takut, semakin besar kemungkinan sebuah informasi diklik, mendapatkan respons, lalu viral. Karena itu, dominasi berita buruk dalam media sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh. Ia lahir dari kombinasi naluri manusia, dinamika sosial, sekaligus realitas industri perhatian.

Pers memang memiliki fungsi penting sebagai watchdog. Menggonggong ketika ada yang keliru. Cerewet agar didengar. Menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara. Jurnalisme investigatif, liputan kritis, hingga keberanian mengungkap penyalahgunaan kekuasaan merupakan bagian penting dalam demokrasi yang sehat. Tanpa itu, publik kehilangan alat kontrol.

Pilihan yang Dianggap Aneh

Namun, di tengah lanskap informasi seperti itu, pada 2008 kami menemukan sesuatu yang mengusik.

Hasil sebuah survei yang melibatkan sekitar 4.000 responden – mayoritas berusia di bawah 30 tahun, menunjukkan lebih dari 80 persen pesimis terhadap masa depan Indonesia. Ketika ditanya mengapa, salah satu jawaban yang paling sering muncul adalah karena mereka merasa jarang menerima informasi yang bisa membuat bangga atau optimistis terhadap negerinya sendiri.

Bukan berarti hal baik tidak ada. Masalahnya, hal-hal baik itu jarang mendapatkan panggung utama karena dianggap kurang menjual. Sehingga orang tak melihatnya.

Saat itu kami mulai bertanya: apa yang terjadi jika sebuah bangsa terlalu lama melihat dirinya sendiri hampir semata-mata dari sisi kegagalan? Apa yang terjadi jika ruang publik lebih banyak dipenuhi kemarahan dan kekecewaan tak berujung?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan Good News From Indonesia (GNFI).

Sehingga sesungguhnya, GNFI lahir bukan karena melihat peluang pasar “berita positif” yang akan laku. Sejak awal, secara industri pun kami sadar bahwa kabar baik tak akan banyak menjanjikan trafik. Karena itulah, ketika hadir sebagai blog sederhana pada 2009, lalu berkembang seiring naiknya media sosial seperti Twitter, GNFI kerap dipandang sebagai anomali: “Media (akun) ini kok isinya berita baik semua?”.

Di tengah arus informasi yang didominasi kemarahan, kami juga menyadari satu hal penting: Ternyata publik juga mencari ruang untuk bernapas, ingin dapat informasi yang masih bisa membuat harapan tumbuh kembali.

Kerap Dicurigai

Perlahan, pendekatan serupa mulai bermunculan di berbagai tempat. Tidak hanya melalui media, tetapi juga komunitas, kreator, organisasi, hingga berbagai inisiatif sosial lain. Berita baik tidak lagi sekadar menjadi “cadangan” ketika sedang tidak ada kejadian buruk. Ia mulai dipandang sebagai sesuatu yang memang layak mendapatkan ruang.

Benar, Indonesia masih memiliki begitu banyak persoalan: Ketimpangan, korupsi di berbagai lapisan, kerusakan lingkungan, hingga berbagai masalah struktural lain yang nyata adanya. Menutup mata terhadap itu bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya.

Namun kami percaya, melihat hal-hal baik bukan berarti menyangkal masalah. Justru sebaliknya, harapan sering lahir ketika kita mengetahui bahwa di tengah berbagai persoalan, selalu ada orang-orang yang sedang berjuang membuatnya lebih baik.

Pilihan seperti inilah yang membuat GNFI sering disalahpahami. Masih suka muncul komentar seperti, “Negara sedang tidak baik-baik saja, kenapa GNFI isinya masih positif semua?” Bahkan tidak jarang muncul cemoohan yang lebih heboh: “GNFI buzzer pemerintah.”

Kami memahami komentar-komentar semacam itu sebagai bagian dari dinamika ruang publik hari ini. Di media sosial, ketika kemarahan menjadi diskursus dominan, optimisme sering dicurigai sebagai kepentingan. Seolah-olah jika mengabarkan sesuatu yang baik – apalagi sumbernya pemerintah – maka otomatis kehilangan independensi. Padahal bagi kami, setiap informasi baik (selama benar dan relevan) layak diketahui publik, dari manapun asalnya.

Membaik-baikkan Masalah?

Cara kerja GNFI bukanlah “membaik-baikkan” sesuatu yang buruk.

Kami sadar bahwa di setiap tempat selalu ada masalah. Namun kami juga percaya, di tempat yang sama biasanya selalu ada mereka yang sedang mencoba memperbaiki keadaan, sekecil apapun upayanya.

Jika diperhatikan lebih dekat, cukup sering GNFI mengangkat persoalan yang sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja, kami berusaha tidak berhenti pada masalahnya semata. GNFI biasanya menggunakan sudut pandang: Siapa yang sedang mencoba mengatasinya? Solusi atau harapan apa yang muncul sebagai aspirasi masyarakat? Inovasi apa yang sedang lahir? Komunitas mana yang sedang bekerja? Individu maupun kelompok mana yang sedang berusaha membuat perubahan?

Kami percaya masyarakat sebenarnya bukan hanya membutuhkan informasi tentang apa yang rusak, tetapi juga tentang kemungkinan untuk memperbaikinya. Sebab jika publik terus-menerus diyakinkan bahwa semuanya buruk dan tidak ada lagi yang bisa diharapkan, lama-kelamaan masyarakat bisa kehilangan energi sosialnya sendiri. Karena itu, kami tidak pernah melihat posisi GNFI sebagai berseberangan dari media dan jurnalisme yang kritis. Sebaliknya, GNFI merasa berada dalam ekosistem yang sama.

Kita sedang hidup di era banyak sekali pilihan media dan sumber informasi. Hanya karena GNFI mengangkat sisi positif, tidak membuat publik kekurangan ruang untuk mengakses informasi yang kritis terhadap keadaan. Media yang kritis kita butuhkan untuk mengawasi kekuasaan. Jurnalisme investigatif diperlukan untuk mengungkap penyimpangan. Liputan mendalam dibutuhkan agar publik memahami persoalan secara utuh.

Pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan ruang untuk melihat kemungkinan, kemajuan, dan inspirasi dari hal-hal yang layak untuk diapresiasi.

Akhirnya, untuk yang masih bertanya “ke mana larinya berita buruk di GNFI?”

Hmm… masa, sih, kami harus menjawab lagi?

Karena mungkin, di tengah dunia yang bising oleh hal-hal yang memancing kemarahan dan kecemasan, yang dibutuhkan sesekali adalah ruang untuk percaya bahwa harapan masih ada. Agar kita tak lupa caranya memberikan apresiasi pada hal-hal baik yang masih terus diusahakan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.