Kunjungan 4 Ahli Badan Kesenian Malaysia ke Indonesia pada 1968, Terpesona dengan Seni Nusantara
Kesohoran karya seni dari para seniman Indonesia ternyata tidak hanya dikenal di dalam negeri saja. Karya-karya dari para seniman terbaik bangsa juga sudah diakui dalam kancah mancanegara, tidak hanya baru-baru ini saja, tetapi juga sejak lama.
Bahkan ada kalanya Indonesia menjadi salah satu tujuan untuk mempelajari karya seni yang diciptakan oleh para seniman. Salah satu momen seperti ini pernah terjadi pada 1968 silam.
Pada waktu itu, ada empat orang ahli dari Badan Kesenian Malaysia yang datang langsung ke Indonesia untuk mempelajari karya seni yang ada di tanah air. Tidak hanya sehari dua hari, kunjungan yang dilakukan oleh para ahli dari negara tetangga ini berlangsung selama tiga minggu lamanya.
Dalam kunjungan ini, para ahli diketahui sempat berkunjung ke beberapa daerah Indonesia untuk mempelajari karya seni yang ada di sana. Dari tiga minggu kunjungan tersebut, keempat ahli dari Badan Seni Malaysia ini mengungkapkan kekaguman mereka atas perkembangan karya seni yang ada di Indonesia pada waktu itu.
Kekaguman akan Karya Seni Indonesia
Dikutip dari artikel “Tiga Minggu Terpesona oleh Seni Indonesia” yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 2 Januari 1968, pada periode tersebut diketahui pernah terjadi kunjungan dari empat orang ahli dari Badan Kesenian Malaysia ke Indonesia. Kunjungan ini dikirim langsung oleh Kementerian Kebudayaan, Belia, dan Sukan Malaysia pada waktu itu.
Kunjungan ini sendiri berlangsung selama tiga minggu lamanya. Dalam tiga minggu tersebut, keempat ahli ini berkunjung ke beberapa daerah untuk melihat kekayaan kesenian yang ada di tanah air.
Dalam artikel tersebut disebutkan jika keempat ahli ini mengungkapkan kekaguman mereka terhadap karya seni yang ada di Indonesia. Mereka merasa jika setiap karya seni yang dihasilkan, baik seni lukis, tari, hingga ukir memiliki ciri khasnya tersendiri.
Selain itu, kekayaan karya seni yang ada tetap menampilkan kepribadian dari setiap daerah yang ada. Keaslian serta keunikan dari setiap daerah tetap terjaga dalam karya seni yang dihasilkan pada waktu itu.
Keberadaan candi yang ada di beberapa daerah menjadi wujud dari kekayaan seni yang ada di Indonesia sejak lama. Keberadaan situs yang tetap terjaga tersebut menjadi simbol kejayaan serta keberagaman budaya di Nusantara pada masa lalu.
Keempat ahli ini juga menyoroti keberadaan karya seni yang ada di tengah masyarakat. Misalnya, mereka melihat beberapa tugu yang ada di beberapa titik daerah di Jakarta.
Pada waktu itu, ada beragam tugu yang dibuat dari berbagai macam bahan berbeda, baik itu logam hingga batu. Beberapa tugu yang ada juga menggambarkan tentang peristiwa dan semangat revolusi bangsa, seperti Tugu Irian Barat, Tugu Ibu Kartini, dan lainnya.
Pelajar di Bidang Seni
Salah satu hal lain yang juga dikagumi oleh para ahli dari Badan Seni Malaysian ini adalah keberadaan institusi pendidikan yang khusus mempelajari tentang ilmu seni di Indonesia. Ada beberapa institusi pendidikan yang sudah beroperasi pada waktu itu, seperti Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Fakultas Seni Rupa yang ada di Universitas Udayana, Bali.
Keberadaan institusi pendidikan ini menjadi wadah bagi para pelajar Indonesia yang tertarik dengan bidang ilmu seni pada waktu itu. Meskipun profesi seniman masih kesulitan untuk menggantungkan hidup dari hasil karyanya, minat akan dunia seni di kalangan anak muda masih banyak pada waktu itu.
Selangkah Lebih Baik dari Malaysia
Keberadaan institusi pendidikan ini menjadi salah satu hal yang dipandang oleh para ahli dari Malaysia membuat Indonesia selangkah lebih baik dari mereka. Pada waktu itu, keberadaan institusi pendidikan seni di Malaysia belum sebanyak Indonesia.
Selain itu, minat masyarakat Indonesia terhadap seni juga dianggap lebih baik jika dibandingkan dengan Malaysia. Hal ini mereka lihat dari pameran seniman Indonesia yang banyak didatangi oleh para pengunjung, berbeda dengan apa yang terjadi di Malaysia saat itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.