Catatan: Artikel ini memuat kisah yang berkaitan dengan kesehatan mental dan pengalaman kekerasan.
Bagi Mutia (23, bukan nama sebenarnya), hidup di balik meja bar jauh dari kata mulia, apalagi tertata (tinoto).
“Tulungagung ayem tentrem mulyo lan tinoto..” (Tulungagung tenang, tenteram, sejahtera, dan teratur) sepenggal lirik yang dibawakan grup hip-hop Baru Klinting, sering kali terdengar sebagai mantra yang menyenangkan.
Cocok untuk menggambarkan mereka yang duduk manis di meja kafe, menikmati sore. Namun, bukan itu yang terjadi pada Mutia.
Di balik senyum yang ia sajikan pada pelanggan bar, terdapat beban hidup yang bertumpuk– antara tuntutan keluarga, tekanan kuliah dan pekerjaan di dunia food and beverage (FnB). Beban itu bahkan sudah melekat sejak ia baru dilahirkan, dimulai sejak identitas yang melekat sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Nama “Mutia” ternyata berasal dari nama mantan kekasih ayahnya. Menyebut namanya sendiri saja, sudah terasa aneh bagi Mutia.
Baca Juga: Terhimpit Di Bulan Ramadan, Nasib Sial Menimpa Kelompok Marjinal
Mutia merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Ia dan adiknya lahir dari ayah yang berbeda, buah dari pernikahan ibunya yang telah kandas. Saat ini, sang ibu sedang berjuang sendirian sebagai single parent sekaligus kepala rumah tangga.
Sebagai anak pertama di tengah dinamika keluarga yang pecah, beban moral itu kian terasa berat.
“Kamu anak pertama harus bisa mandiri. Di kepalaku jadi anak pertama harus membantu membiayai keluarga,” ungkap Mutia, mengulang kalimat yang selalu terngiang di kepalanya.
Tuntutan itulah yang akhirnya membawa Mutia harus mandiri lebih awal, terjun ke dunia (FnB) sejak 2023.
Perjalanan karirnya bermula di sebuah kafe A yang berada di jantung kota Tulungagung. Di sana, ia memegang posisi sebagai frontliner– istilah teknis yang dalam praktiknya merangkap banyak peran sekaligus: barista, kasir dan pelayan yang harus selalu ramah di garda depan.
Sistem kerja di Kafe A dibagi menjadi tiga shift, masing-masing berdurasi delapan jam. Mutia paling sering mengambil jam kerja malam hingga dini hari. Ketika ia harus bekerja hingga dini hari, ini seringkali menguras habis energinya.
Bagi Mutia, lantai kafe yang dingin menjadi saksi bisu sebelum ia kembali bertukar peran menjadi mahasiswi saat matahari mulai meninggi.
Napas yang Terhenti di Ambang Garis Finis
Bagi Mutia, tuntutan untuk hidup mandiri bertolak belakang dengan sikap sang ibu di rumah kala itu.
“Pas balik ke Tulungagung waktu awal kuliah 2021, aku syok karena ternyata Ibu sangat protektif tapi tidak difasilitasi apa pun. Padahal ibuku lah yang memaksaku untuk kuliah,” ungkapnya.
Gesekan itu berakar dari jarak yang telah terbentang sejak Mutia masih kecil. Tuntutan sang ibu membuatnya harus tumbuh besar di bawah asuhan kakek dan neneknya.
“Aku dari kecil sudah ditinggal ibu bekerja, aku dititipkan sama kakek. Nggak pernah hidup serumah sama ibu,” tuturnya mengenang masa lalu.
Absennya sang ibu menciptakan jurang komunikasi, namun di sisi lain justru memberi ruang nyaman sendiri yang tak ia dapat bersama sang ibu.
Tumbuh di luar bayang-bayang ibunya seolah memberikan kebebasan emosional yang ia butuhkan.
“Jadi selama hidup di Malang berasa bebas dan tenang”, tegas Mutia.
Baca Juga: Polemik Subsidi KRL Berbasis NIK, Kelompok Marjinal Sampai Transpuan Paling Terdampak
Sebagai mahasiswi penerima Beasiswa Bidikmisi, Mutia tak lagi repot memikirkan uang untuk membayar uang kuliah. Sayangnya uang itu tak lantas menanggung semua kebutuhan hidupnya. Ia pernah jualan makanan rice ball yang dititipkan pada kantin kampus. Itu semua berjalan selama empat semester, sebelum akhirnya memutuskan masuk dunia FnB.
Pengalaman beratnya bekerja di dunia FnB sekaligus kuliah membuatnya sering membebani tubuhnya. Dalam satu fase magang kuliah, ia pernah harus bolak balik Blitar-Tulungagung. Pergi lebih pagi menuju stasiun, saat tubuhnya sudah letih pulang magang, ia harus lanjut bekerja di kafe A.
Setelah setahun di kafe pertama, Mutia berpindah ke beberapa tempat kerja lainnya. Namun, status kerjanya sering kali tidak menentu, ia sempat menjadi casual walker yang hanya dipanggil saat ada reservasi buka bersama bulan puasa.
Sempat mencoba peruntungan kembali ke Malang. Di sana, ia mengikuti training selama dua minggu di kafe dan diterima sebagai karyawan. Sayangnya, sang ibu memaksa Mutia untuk melepas kesempatan itu dan tetap tinggal di Tulungagung. Ia pun memutuskan menuruti ibunya.
Kondisi finansial Mutia perlahan membaik setelah ia mulai bekerja di kafe B. Niat awalnya bekerja memang untuk menghidupi diri sendiri, sekaligus membantu ibu dan adiknya. Namun, kondisi menjadi sulit tatkala sang ibu kerap meminta uang untuk menutupi jerat utang dan masalah pribadinya.
“Hanya saja dituntut ibuk harus bayar sekian. Sedang aku harus bayar kost 600,” jelas Mutia.
Baca Juga: Gangguan Kesehatan Mental Pada Remaja Dengan HIV: Orang Terdekat Bisa Jadi Pemicunya
Sekalipun tak dekat secara emosional, Mutia tetap berusaha memberikan pada ibunya, karena ia tahu, tak mudah jadi single parents. Gaji yang terbatas memaksanya memutar otak– ia mengupayakan penghasilan tambahan dari jasa desain dan fotografi.
“Ibu minta segini tak kasih dan iku bakal tak usakan,” jelas Mutia menceritakan keputusannya.
Namun kemudian, ini malah mengorbankan pendidikannya. Di semester delapan tahun 2025, Ia harus mengambil keputusan untuk menghentikan studi. Padahal skripsi sudah sampai bab tiga. Niatnya untuk lulus terhenti karena urusan administrasi yang dipersulit oleh pihak kampus.
Kontrak Pembungkaman dan “Suara Berisik” di kepala
Di tengah tekanan hidup yang tak kunjung reda, pertahanan diri Mutia terkikis perlahan oleh suara kebisingan di dalam kepalanya.
Untuk meredam nya, ia memilih cara bertahan yang sederhana namun menyayat: ia bekerja hingga lelah luar biasa, agar tubuhnya jatuh terlelap sebelum suara-suara itu sempat menghakiminya. Tiba-tiba ia sering mendengar suara-suara.
Suara-suara itu membawanya ke titik yang paling gelap, titik di mana ia hampir tak bisa kembali. Kebisingan itu berakar jauh ke masa lalu: dari trauma keluarga hingga lingkungan kerja yang tak pernah benar-benar ia pulihkan.
Saat masih SMK, ia pernah menjadi pelampiasan amarah almarhum neneknya. Ia kemudian menjalani perawatan intensif selama tiga bulan setelah didiagnosa depresi berat. Keluar dari sana, Mutia memilih memutuskan rantai trauma domestik dengan hengkang dari rumah– mengontrak bersama teman demi mencari ketenangan yang gagal didapatkan dari keluarga.
Setelah ia kembali ke Tulungagung, penderitaannya kembali terulang. Di kafe tempat ia pertama kali bekerja, ia justru menghadapi luka yang tak ia duga dari rekan kerjanya sendiri di kafe A. Mutia mengalami pelecehan. Ia kemudian melabeli kafe itu sebagai “setan”. Pelecehan yang semestinya tidak pernah ia tanggung sendiri.
Baca Juga: Lari Baik untuk Kesehatan Mental, Bantu Atasi Stres di Tempat Kerja
Alih-alih mendapatkan perlindungan, ia justru menghadapi pemutusan kontrak saat masa kerjanya berakhir, disertai tekanan untuk diam dan melupakan semua yang terjadi sebagai syarat untuk bisa pergi dengan tenang.
Di tengah upaya memulihkan diri, Mutia mencoba berpegang pada satu hal yang masih terasa miliknya: pendidikan. Namun penghianatan kembali datang dari ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman. Ia kembali mengalami pelecehan, kali ini dari seorang yang semestinya menjadi pembimbingnya.
Trauma yang bertumpuk membawanya mencari celah napas di tempat lain. Untuk sementara, keramaian malam dan musik yang keras adalah satu-satunya hal yang bisa meredam kebisingan di kepalanya. Tapi di tengah semua itu, ada pertanyaan yang terus mengusik diri sendiri — apakah ini benar-benar yang ia butuhkan.
“Aku tidak tahu apakah aku benar-benar senang atau tidak,” ungkapnya dengan suara parau.
Titik balik Mutia akhirnya muncul dari kesadaran tanggung jawab dan masa depan. Ia menolak membiarkan penderitaan ini berlanjut.
“Aku sudah di fase dewasa, aku punya adik yang harus dijaga,” ucapnya.
Baca Juga: ‘Kapan Menikah? Gagal Berumah Tangga Itu Salahmu’: Ucapanmu Mengganggu Kesehatan Mental Perempuan
Adik menjadi alasan mendasar mengubah pikirannya untuk keluar dunia malam. Ia sadar bahwa jejak kepedihan ia lalui hari ini tidak boleh sedikitpun di alami oleh sang adik.
Rentetan luka batin ini meninggalkan jejak klinis yang nyata. Hasil konsultasi dengan psikolog dan psikiater menunjukan ia mengidap Borderline Personality Disorder (BPD) dan Bipolar. Meski sempat mendapat rekomendasi rawat jalan, Mutia menolak karena tuntutan dunia kerja yang tak memberi ruang bagi pemulihan jiwa.
Mutia sempat menjalani pengobatan selama empat bulan sebelum akhirnya berhenti. Bukan karena tidak mau sembuh, tapi karena beban hidup tidak memberi ruang untuk itu. Ia menyadari pemulihan dirinya memang seharusnya berasal dari kemauannya sendiri.
“Kayaknya yang perlu berubah itu aku deh,” jelasnya.
Baca Juga: Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental Remaja Perempuan? Akuilah Pencapaiannya
Di tengah kondisi mental yang kian rapuh, ruang gerak Mutia semakin menyempit. Dukungan teman-teman dekat yang selama ini menjadi tempat ia bercerita perlahan pupus saat terjebak dalam hubungan asmara yang toksik. Pasangannya yang protektif secara berlebihan menciptakan isolasi sosial; ia dilarang bertemu siapapun dan hanya bisa menghabiskan hari-hari terjebak dalam kamar kost.
Kehilangan dukungan sosial dan ruang gerak membuatnya kembali jatuh ke fase tanpa harapan. Di tengah kesunyian kamar kost itulah, ia kembali berada di titik sangat gelap untuk kesekian kalinya. Ada suara-suara yang terdengar di telinganya.
“Di fase tidur semua berisik gitu di kepalaku,” suara Mutia kembali parau.
Memunguti Harapan yang Pernah Patah
Berdamai dengan rumah ternyata dimulai dari pengakuan yang jujur.
Suatu hari ketika Mutia pulang ke rumah setelah bekerja, ibunya melihat bekas luka yang ada di tangannya. Mulai dari sanalah sang ibu tahu bagaimana pengalaman kelam yang Mutia terima di tempat kerja pertama, rasa sakit yang ia tanggung sendiri, hingga keinginan-keinginan yang selama ini ia tak ungkapkan.
Untuk pertama kalinya, sang ibu meminta maaf. Momen itu menjadi pembuka komunikasi yang selama itu tertutup rapat. Mengenai beban domestik, pada pertemuan tersebut sang ibu memutuskan mengambil alih sebagian tanggung jawab yang sebelumnya dilimpahkan kepada Mutia.
“Contoh ibu bayar KPR, aku bayar air dan listrik. Dan mungkin memberi uang saku adik,” ungkapannya
Kini Mutia berani mengambil keputusannya sendiri, sesuatu yang jarang ia lakukan di masa lalu. Ia berencana menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir bekerja di coffee shop. Ia ingin masuk ke FnB korporat dengan jenjang karir yang lebih jelas.
Baca Juga: ‘Papermoon Puppet Theater’, Sembuhkan Kesehatan Mental dan Trauma Lewat Seni
“Aku pengen dan bakal kerja di FnB korporat, karena dia punya jenjang karir. Terlanjur terjun dan terlanjur suka, dan aku tidak mau kehilangan keputusan lagi soale selama ini aku tidak pernah mengambil keputusanku sendiri,”Ungkap Mutia sembari tersenyum.
Padahal, dulu ia tidak pernah membayangkan akan kembali ke Tulungagung. Pengalaman perundungan saat SD sempat membuatnya membenci kota ini, ditambah konflik rumah yang dulu sangat berat. Namun sekarang, segalanya melunak.
“Karena sama orang rumah struggle-nya gila, sekarang bisa ngobrol bisa bareng merasakan masakan rumah bisa bercanda. Soale tempat aman dan nyaman ya di rumah.”
Kini, cara Mutia menghargai dirinya sendiri adalah dengan memberi izin untuk benar-benar berhenti. Di hari libur, ponselnya dimatikan, pintu kamar ditutup dan ia tidur seharian. Makan diantar ibunya jika lapar.
“Tidur sehari penuh,” seru perempuan berambut hitam pendek itu.
Baca Juga: Dipilih Jadi Duta Kesehatan Mental, Sejumlah Anak Perempuan Diduga Malah Dieksploitasi
Cerita Mutia, adalah bagian nyata sisi gelap dari pekerja perempuan. Di kota-kota kecil seperti Tulungagung, kafe adalah salah satu dari sedikit ruang kerja yang terbuka lebar terutama bagi perempuan muda tanpa modal ijazah atau koneksi. Tapi keterbukaan itu berhenti di pintu masuk.
Di dalamnya, hierarki lama tetap bekerja. Perempuan diharapkan ramah, fleksibel, tahan banting dan diam ketika dilanggar.
Ternyata ruang kerja yang tampak merona di balik neon sign dan latte art itu masih jauh dari kata “aman”.




Comments are closed.