Ditulis oleh Hutama Prayoga •
KABARBURSA.COM – Lembaga indeks global FTSE Russell telah mendepak empat saham Indonesia dari Indeks FTSE Global Equity Index Series.
Dari empat saham tersebut, emiten yang dikeluarkan oleh FTSE Russell adalah PT Hillcon Tbk (HILL). Saham ini dikeluarkan dari kategori micro cap.
Alasan FTSE Russell mengeluarkan HILL dari kategori tersebut karena saham emiten bidang kontraktor ini tengah masuk daftar pengawasan atau pemantauan khusus dari regulator pasar modal.
Adapun rebelencing akan berlaku pada perdagangan 19 Juni 2026 dan efektif pada 22 Juni 2026.
Merujuk situs resmi perusahaan, Hillcon Group bermula dari PT Hillconjaya Sakti yang berdiri tahun 1995. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor pekerjaan sipil dan pertambangan.
Hingga kini Hillcon telah menyelesaikan ratusan proyek baik besar maupun kecil dengan mengedepankan aspek keselamatan kerja, kesehatan kerja, keselamatan operasi dan lingkungan hidup.
“Tiap proyek kami laksanakan dengan mengedepankan kualitas dan kecepatan kerja, serta dukungan tenaga kerja profesional,” tulis manajemen.
Berawal dari bidang konstruksi pada 1995 dan berhasil menyelesaikan ratusan proyek, Hillcon mencoba mengembangkan sayap untuk memasuki dunia pertambangan.
Alhasil, Hillcon kini memiliki empat anak perusahaan di antaranya, Hillconjaya Sakti (kontraktor), Hillcon Mining Indonesia (pertambangan), Hillcon Jaya Land (properti), dan Hillcon Industrial Assets (alat Berat).
Hillcon resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Initial Public Offering (IPO) pada 1 Maret 2023. Di perdagangan perdananya, saham HILL dibanderol Rp1.250.
Di sisi lain, mengutip data Stockbit, PT Hillcon Equity Management masih menjadi pemegang saham pengendali HILL dengan kepemilikan 5,56 miliar saham atau 37,72 persen.
Posisi kedua ditempati oleh masyarakat non warkat dengan porsi 4,24 miliar saham atau setara 28,77 persen.
Di tempat berikutnya terdapat PT CGS International Sekuritas Indonesia yang memegang 2,56 miliar saham atau 17,36 persen. Sedangkan di posisi keempat ada PT Bukit Persada Indonesia yang menggengam 2,38 miliar saham atau 16,15 persen.
Pergerakan Saham
Saham HILL terpantau masih berada dalam tekanan berat. Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat, 22 Mei 2026, saham ini ditutup melemah hingga 6,67 persen ke level Rp14.
Tekanan tersebut memperpanjang tren penurunan saham emiten kontraktor pertambangan itu dalam berbagai periode perdagangan.
Dalam sepekan, saham HILL tercatat turun 22,22 persen, sedangkan secara bulanan terkoreksi 36,36 persen. Bahkan dalam tiga bulan terakhir, saham ini sudah anjlok hingga 72 persen.
Sementara secara year to date (YTD), penurunannya mencapai 90,54 persen dan dalam setahun ambles hingga 95,07 persen. (*)





Comments are closed.