Apabila seseorang menjalankan perintah agama, maka ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya jika seseorang tidak menjalankan perintah agama dalam mengatur kehidupannya, maka ia akan merasakan kegelisahan dan kerugian.
Menurut Sayyidina Ali radhiyallahhu ‘anhu, agama Islam akan tetap tegak berdiri apabila empat pilar utamanya masih kokoh dan tetap diamalkan di dunia ini. Apakah empat pilar yang menopang tetap tegaknya agama yang dimaksud? Berikut penjelasannya:
Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam karyanya Tanbihul Ghafilin Juz 1, halaman 366, mengutip ungkapan Sayyidina Ali RA terkait pilar-pilar yang menopang tegaknya agama Islam. Adapun kutipannya sebagai berikut:
وروي عن على رضي الله عنه، أنه قال: قوام الإسلام على أربعة أركان، اليقين، والعدل، والصبر، والجهاد
Artinya: “Diriwayatkan dari Ali radhiyallahhu ‘anhu, sesungguhnya ia berkata: Islam tegak di atas empat pilar, yaitu; keyakinan, keadilan, kesabaran, dan peperangan.”
Ungkapan Sayyidina Ali RA di atas, memberi arahan kepada kita untuk tetap menjaga agama Islam dengan empat pilar, supaya agama Islam tetap kuat dan terjaga dengan baik. Dan ungkapan Sayyidina Ali RA tersebut, oleh para ulama diuraikan satu persatu. Adapun uraiannya sebagai berikut:
Pertama, keyakinan. Arti keyakinan, yaitu, ketika mengerjakan perintah Allah ia ikhlas, dalam artian segala yang ia kerjakan murni karena Allah SWT, tidak karena tujuan yang lain, seperti ingin memperoleh harta, kedudukan, dan juga tidak mengharapkan rida dari orang lain. Dan juga percaya akan janji Allah, bahwa Allah telah menjamin rezeki hambanya. Kepercayaan tersebut ditanam dalam hatinya, sehingga ia rida terhadap apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Kedua, keadilan. Arti adil, yaitu, apabila mengerjakan perkara yang hak atau kebenaran, ia akan segera mengerjakannya, walaupun tanpa diperintah oleh orang lain. Dan apabila berkaitan dengan hak orang lain, ia bertoleran dan ia bertanggung jawab penuh. Ia tidak mengganggu hak orang lain, dan tidak merugikan orang lain.
Ketiga, kesabaran. Arti sabar yaitu menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Misalnya, kewajiban menunaikan shalat, zakat, puasa, dan haji. Ia tidak akan lalai untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dan juga berusaha untuk menjauhi perkara yang dilarang. Misalnya, membunuh, mencuri, minum minuman keras, semua itu ia tinggalkan.
Keempat, berperang. Arti perang yaitu tidak melupakan bahwa ia memiliki musuh, yaitu, setan. Jika ia lupa, maka setan tidak akan pernah lupa untuk menjerumuskan kepada jalan kesesatan. Oleh karenanya, berhati-hati dan waspadalah agar tidak terjerumus kepada bujuk rayu setan. Dan ketika fitnah telah menimpa manusia, dengan gemerlapnya kesenangan dunia, dan berlomba-lomba untuk memperkaya diri, maka, ia harus rida dengan sedikitnya harta yang ia miliki. Karena orang yang rida dengan keputusan Allah SWT niscaya Allah akan mengasihinya. Wallahu a’lam.





Comments are closed.