Haji adalah misi perjalanan ibadah suci dengan berbagai rangkaian kegiatan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Melalui haji, kita diajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, serta kepatuhan kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Dengan hal ini, kita diharapkan bisa menjadi hamba yang sejati di sisi Allah.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Menjadi Hamba Sejati melalui Rangkaian Ibadah Haji.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتُمْ، وَأَتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang di dalamnya disyariatkan pelaksanaan rukun Islam yang kelima yakni ibadah haji. Ibadah yang hanya bisa dilaksanakan di Kota Suci Makkah ini diawali dari hikayat perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ ٢٧
Artinya: “(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik yang dilakukan jamaah menuju Tanah Suci Makkah. Haji adalah perjalanan spiritual yang memerlukan tekad kuat untuk menemukan kembali jati diri sebagai hamba Allah swt. Tidak heran bila haji disebut sebagai ibadah penuh perjuangan yang memerlukan banyak aspek fisik maupun mental serta pengorbanan harta, tenaga, waktu, kesabaran, bahkan pengendalian hawa nafsu.
Haji adalah panggilan langsung dari Allah swt kepada kita untuk melakukan berbagai rangkaian aktivitas ibadah yang mengandung hikmah dan penting bagi pembentukan pribadi hamba sejati. Pembentukan pribadi sejati sudah dimulai sejak berangkat dari tanah air menuju Tanah Suci Makkah.
Ketika kita berangkat haji, kita pasti meninggalkan rumah, pekerjaan, keluarga, dan kenyamanan hidup. Semua itu mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah sementara. Tidak ada yang benar-benar abadi selain Allah swt.
Banyak dari kita yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat. Haji hadir untuk menyadarkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang kekayaan, jabatan, dan kemewahan, tetapi tentang bagaimana menjadi hamba yang tunduk kepada Allah.
Oleh karena itu, penting untuk menata hati agar berhaji murni karena Allah swt. Hal ini telah diingatkan dalam Al-Qur’an:
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِۗ
Artinya: “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS Al-Baqarah: 196)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Selanjutnya, saat mengenakan pakaian ihram, semua jamaah akan berada pada posisi yang sama dan setara. Tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan miskin. Semua memakai kain putih sederhana.
Pakaian ihram juga mengingatkan kita kepada kain kafan. Bahwa suatu saat kita akan kembali kepada Allah tanpa membawa harta dan jabatan apa pun. Yang dibawa hanyalah amal saleh. Karena itu, ibadah haji mendidik kita agar rendah hati, tidak sombong, dan menyadari hakikat diri sebagai hamba Allah.
Kemudian, saat kita melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, sesungguhnya kita sedang menunjukkan cinta dan ketundukan kepada Allah swt. Ka’bah menjadi simbol pusat penghambaan manusia kepada Allah. Sedangkan sa’i antara Bukit Safa dan Marwah mengingatkan kita akan perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk Nabi Ismail a.s. Dari sini kita belajar bahwa hidup membutuhkan ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan pada pertolongan Allah.
Jamaah rahimakumullah,
Puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah, juga menjadi bagian dari pembentukan pribadi hamba yang sejati. Di padang Arafah ini, seluruh jamaah memanjatkan doa, melakukan muhasabah, dan introspeksi diri. Betapa banyak dosa yang telah dilakukan, betapa banyak kewajiban yang dilalaikan, dan betapa sering hati ini menjauh dari Allah.
Hamba sejati adalah orang yang mampu mengenali kelemahan dirinya, lalu bertobat kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ اَلْخَطَّائِينَ اَلتَّوَّابُونَ
Artinya: “Semua manusia melakukan kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah orang yang bertobat,” (HR At-Tirmidzi).
Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam. Di tempat inilah para jamaah beristirahat di alam terbuka, beralas seadanya, dan berhimpitan dengan jutaan jamaah lainnya dari seluruh dunia. Prosesi ibadah ini mengajarkan bahwa kita sesungguhnya lemah dan tidak memiliki apa pun di hadapan Allah swt. Tidak ada kemewahan hotel, tidak ada fasilitas istimewa, semuanya sama di bawah langit Allah.
Di sinilah kita belajar tentang hakikat kehidupan. Bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kemewahan dunia, melainkan pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah swt. Muzdalifah juga mengajarkan kesabaran dalam kondisi sulit dan tetap taat dalam keadaan apa pun.
Lalu, ibadah melontar jumrah di Mina bukan sekadar melempar batu. Ibadah ini adalah simbol melawan godaan setan dan hawa nafsu. Melontar jumrah mengajarkan bahwa kita harus tegas melawan segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah. Hamba sejati adalah mereka yang mampu menjaga iman di tengah godaan dunia yang kuat.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rangkaian ibadah haji ini kemudian ditutup dengan tahallul, yaitu mencukur rambut. Prosesi ini melambangkan penyucian diri sebagai simbol bahwa kita memulai lembaran baru dalam kehidupan. Rasulullah bersabda:
مَنْ حَجَّ، فلَمْ يَرْفُثْ، وَلم يَفْسُقْ، رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدْتُهُ أُمُّهُ
Artinya: “Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia kembali (suci) dari dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya,” (HR Bukhari dan Muslim)
Haji bukan hanya ritual, tetapi momentum perubahan diri. Setelah berhaji, kita harus mampu menjadi pribadi sejati seiring dengan paripurnanya rukun Islam yang telah kita jalani.
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang sejati, yang hidupnya penuh ketakwaan dan kelak dipanggil menuju surga Allah yang abadi. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.





Comments are closed.