Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Hijrah di Era Digital

Hijrah di Era Digital

hijrah-di-era-digital
Hijrah di Era Digital
service

Bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah selalu hadir sebagai penanda waktu sekaligus ruang perenungan. Ia bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, melainkan momentum untuk menengok kembali salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah peradaban manusia: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.

Dalam sejarah Islam, hijrah bukanlah tindakan melarikan diri dari tekanan. Ia merupakan strategi transformasi sosial yang visioner. Di Mekah, Nabi Muhammad dan para pengikutnya menghadapi intimidasi, boikot ekonomi, diskriminasi sosial, hingga ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy. Situasi tersebut tidak lagi memungkinkan tumbuhnya masyarakat yang sehat, adil, dan berkeadaban.

Madinah kemudian menjadi ruang baru bagi lahirnya sebuah eksperimen sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di kota itu Nabi membangun masyarakat yang berlandaskan persaudaraan, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan agama, serta perlindungan terhadap kelompok-kelompok rentan. Piagam Madinah yang disusunnya bahkan sering dipandang sebagai salah satu fondasi awal masyarakat plural yang menjunjung kesetaraan hak dan tanggung jawab bersama.

Dalam pengalaman Nabi Muhammad, hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi paradigma. Ia merupakan peralihan dari tatanan sosial yang bertumpu pada dominasi menuju tatanan yang berlandaskan kesetaraan; dari budaya penindasan menuju budaya yang menjunjung martabat kemanusiaan. Karena itu, hijrah dapat dipahami sebagai prototipe revolusi kemanusiaan yang mengubah ketakutan menjadi harapan dan keterkungkungan menjadi ruang bagi lahirnya masa depan yang lebih adil dan beradab.

Pemikir Muslim Iran, Ali Syariati, bahkan melihat hijrah sebagai salah satu hukum besar dalam sejarah manusia. Menurutnya, hampir semua peradaban besar lahir melalui proses hijrah. Perpindahan bukan sekadar perubahan tempat, melainkan gerak pembebasan yang melahirkan kesadaran baru dan tatanan sosial baru. Dalam perspektif ini, hijrah Nabi Muhammad bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga titik balik sejarah yang melahirkan sebuah peradaban dunia.

Karena itu, semangat hijrah tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia selalu hadir ketika manusia berusaha keluar dari berbagai bentuk keterbelengguan menuju ruang yang memungkinkan tumbuhnya kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan.

Dari Penindasan Fisik Menuju Penjajahan Kesadaran

Jika pada masa Nabi tekanan hadir dalam bentuk fisik yang nyata, manusia modern menghadapi bentuk penindasan yang jauh lebih halus. Ia tidak lagi datang melalui cambuk atau pedang, melainkan melalui layar, algoritma, dan arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti.

Filsuf Prancis Michel Foucault menjelaskan bahwa kuasa modern sering bekerja bukan melalui paksaan terbuka, melainkan melalui mekanisme pengawasan dan pembentukan kesadaran. Manusia merasa bebas, padahal pilihan-pilihannya secara perlahan diarahkan oleh sistem yang tidak selalu disadarinya.

Di era digital, gejala tersebut hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari perhatian manusia diperebutkan oleh berbagai platform media sosial. Algoritma menentukan apa yang kita lihat, baca, sukai, dan bahkan pikirkan. Waktu dihabiskan untuk menggulir layar tanpa akhir, sementara kemampuan untuk merenung semakin menyusut.

Situasi ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai kolonisasi batin. Pikiran dipenuhi informasi yang tidak selalu penting. Emosi bergerak mengikuti gelombang viralitas. Perhatian berubah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Manusia merasa terhubung dengan banyak hal, tetapi sering kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

Ali Syariati menyebut kondisi semacam ini sebagai istihmar, yakni proses peninaboboan kesadaran manusia. Jika pada masa lalu penindasan berlangsung melalui kekuatan politik dan ekonomi, maka pada era modern ia juga dapat hadir melalui hiburan yang berlebihan, budaya konsumsi, dan berbagai mekanisme yang membuat manusia lupa pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidup.

Akibatnya, manusia tampak semakin sibuk, tetapi kehilangan arah. Ia merasa bebas, padahal tanpa disadari sedang bergerak mengikuti logika dan kepentingan yang dibentuk oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya.

Dalam situasi semacam ini, hijrah menemukan makna baru. Jika generasi awal Islam berhijrah dari tekanan kaum Quraisy, maka manusia abad ke-21 perlu berhijrah dari penjajahan algoritma yang perlahan merampas kemerdekaan berpikir dan kedalaman kesadaran.

Hijrah sebagai Revolusi Kesadaran

Pada lapisan yang lebih mendasar, hijrah dapat dipahami sebagai revolusi kesadaran. Ia bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan transformasi cara manusia memahami dirinya, dunianya, dan tujuan hidupnya.

Filsuf Jerman Martin Heidegger mengingatkan bahwa manusia sering hidup dalam keadaan yang tidak autentik. Ia larut dalam apa yang dilakukan banyak orang, mengejar apa yang dikejar massa, dan kehilangan hubungan dengan suara terdalam dirinya.

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan budaya digital dewasa ini. Banyak orang tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?”, melainkan lebih sibuk bertanya, “Apa yang sedang ramai?” Popularitas menggantikan kebenaran. Viralitas menggantikan kebijaksanaan. Nilai diri diukur dari jumlah pengikut, tanda suka, dan tingkat keterlihatan.

Di tengah situasi demikian, hijrah mengingatkan kembali makna manusia merdeka: manusia yang memiliki kesadaran diri sekaligus kesadaran sosial. Kesadaran yang menjadikannya subjek sejarah, bukan sekadar objek dari berbagai kekuatan yang mengitarinya. Karena itu, hijrah merupakan keberanian untuk berpikir, mempertanyakan, dan menentukan arah hidup secara mandiri.

Ketika kesadaran diri melemah, manusia cenderung menjalani hidup secara reaktif. Ia bereaksi terhadap setiap notifikasi, komentar, dan tren yang berlalu. Padahal kehidupan yang bermakna lahir dari kemampuan mengambil jarak, merenung, dan menentukan arah secara sadar.

Dengan demikian, hijrah berarti keberanian berpindah dari kehidupan yang serba reaktif menuju kehidupan yang reflektif; keberanian menjadi diri sendiri di tengah tekanan budaya digital yang cenderung menyeragamkan.

Hijrah bukan berarti memusuhi teknologi. Ia juga bukan sekadar menghapus aplikasi atau menutup akun media sosial. Yang jauh lebih penting adalah mengubah cara kita berhubungan dengan teknologi: menjadikannya alat yang memperluas kemanusiaan, bukan kekuatan yang mempersempit kebebasan manusia.

Membangun Madinah Digital

Hijrah Nabi tidak berhenti ketika beliau tiba di Madinah. Justru di kota itulah pembangunan masyarakat baru dimulai. Pelajaran penting dari pengalaman tersebut adalah bahwa transformasi pribadi harus berlanjut menjadi transformasi sosial. Sebab transformasi sosial yang berkelanjutan hanya mungkin lahir dari individu-individu yang terlebih dahulu melakukan transformasi terhadap dirinya sendiri.

Tantangan besar masyarakat digital saat ini adalah paradoks kemanusiaan. Teknologi memungkinkan manusia berkomunikasi melampaui batas ruang dan waktu, tetapi pada saat yang sama melahirkan keterasingan yang mendalam. Banyak orang memiliki ribuan teman virtual, tetapi merasa kesepian. Komunikasi semakin cepat, tetapi pemahaman semakin dangkal.

Dalam ungkapan Jawa, manusia modern sering menyerupai gabah diinteri: terus bergerak dan berputar mengikuti arus, tetapi tanpa arah yang jelas. Perubahan berlangsung sangat cepat, sementara makna dan kedalaman hidup justru semakin menipis.

Dalam konteks demikian, semangat hijrah mengajak kita membangun “Madinah digital”, yakni ruang virtual yang sehat, inklusif, dan beradab. Ruang tempat perbedaan dipandang sebagai kekayaan, bukan ancaman. Ruang tempat dialog menggantikan caci maki. Ruang tempat teknologi digunakan untuk memperluas empati dan solidaritas.

Gagasan ini sesungguhnya memiliki akar yang kuat dalam kebudayaan Nusantara. Tradisi gotong royong, musyawarah, tepa selira, dan penghormatan terhadap sesama mengajarkan bahwa kehidupan bersama hanya dapat bertahan apabila dibangun di atas kepedulian dan tanggung jawab bersama.

Nilai-nilai tersebut lahir jauh sebelum era internet, tetapi justru semakin relevan ketika ruang digital sering dipenuhi ujaran kebencian, polarisasi, dan permusuhan. Madinah digital bukan sekadar ruang yang terkoneksi oleh teknologi, melainkan ruang yang dipersatukan oleh etika, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Hijrah Spiritual: Dari Kebisingan Menuju Keheningan

Di balik seluruh dimensi sosial dan intelektualnya, hijrah pada hakikatnya adalah perjalanan spiritual. Para sufi memahami hijrah sebagai perpindahan hati dari selain Allah menuju Allah. Perjalanan fisik hanyalah simbol dari perjalanan batin yang lebih mendalam.

Tantangan spiritual manusia di era digital bukanlah kekurangan informasi, melainkan kehilangan keheningan. Dunia digital menghadirkan kebisingan yang hampir tidak pernah berhenti. Notifikasi datang silih berganti. Berita mengalir sepanjang hari. Percakapan berlangsung tanpa jeda.

Dalam keadaan demikian, manusia sering kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan dirinya sendiri. Padahal dalam tradisi tasawuf, keheningan bukanlah kekosongan. Keheningan adalah ruang tempat manusia mendengar suara hatinya. Di sanalah seseorang mengenali keterbatasannya, menemukan arah hidupnya, dan merasakan kehadiran Tuhan secara lebih intim. Al-Ghazali mengibaratkan hati sebagai cermin. Jika terlalu dipenuhi debu duniawi, ia tidak lagi mampu memantulkan cahaya kebenaran. Karena itu, hati memerlukan saat-saat hening agar kembali jernih.

Pesan serupa disampaikan Jalaluddin Rumi. Penyair sufi besar itu mengingatkan bahwa manusia sering kehilangan dirinya karena terlalu sibuk mengejar gema dunia luar. Menurut Rumi, perjalanan spiritual sejatinya bukan perjalanan mencari sesuatu yang jauh, melainkan perjalanan pulang kepada diri yang paling sejati. “Yang kau cari sesungguhnya sedang mencarimu.”

Di tengah dunia digital yang penuh kebisingan, pesan Rumi terasa semakin relevan. Semakin manusia terhubung dengan dunia luar, semakin besar pula kebutuhannya untuk kembali menjalin hubungan dengan dunia batinnya. Sebab tanpa kedalaman batin, keterhubungan hanya akan melahirkan kesepian yang lebih luas.

Rumi juga mengingatkan bahwa luka dan kegelisahan tidak selalu menjadi musuh yang harus dihindari. Justru melalui celah-celah kegelisahan itulah cahaya kesadaran sering menemukan jalannya. Keheningan memberi ruang bagi manusia untuk mendengar pesan-pesan terdalam yang tenggelam dalam hiruk-pikuk kehidupan.

Karena itu, hijrah spiritual pada era digital berarti menciptakan ruang jeda di tengah banjir informasi: memperbanyak tafakur, melatih disiplin digital, dan menghidupkan kembali dialog batin dengan Sang Pencipta. Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk hening justru menjadi bentuk keberanian yang langka.

Apa yang diajarkan para sufi tersebut sesungguhnya memiliki gema yang kuat dalam berbagai tradisi kebijaksanaan Nusantara. Meskipun lahir dari konteks budaya yang berbeda, keduanya sama-sama menempatkan kesadaran diri sebagai fondasi perjalanan menuju kebijaksanaan.

Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan mulat sarira hangrasa wani, yakni keberanian menengok dan mengoreksi diri sendiri. Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kemajuan sejati tidak dimulai dari menaklukkan dunia luar, melainkan dari kemampuan menaklukkan diri sendiri.

Para wali juga mewariskan prinsip ngeli nanging ora keli—ikut arus tetapi tidak hanyut. Nilai ini sangat relevan dalam menghadapi gelombang teknologi digital. Kita tidak perlu menolak modernitas, tetapi juga tidak boleh kehilangan pusat kesadaran karena arus perubahan.

Masyarakat Jawa mengenal pula prinsip eling lan waspada: selalu ingat dan selalu sadar. Ingat kepada Tuhan, ingat kepada tujuan hidup, dan waspada terhadap berbagai godaan yang dapat menjauhkan manusia dari jati dirinya. Dalam tradisi Sunda hidup ajaran silih asah, silih asih, silih asuh—saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing. Berbagai komunitas adat Nusantara pun mewariskan kesadaran bahwa manusia bukan pusat alam semesta, melainkan bagian dari jejaring kehidupan yang meliputi sesama manusia, alam, dan Tuhan.

Kearifan-kearifan tersebut menunjukkan bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan manusia dengan akar budayanya. Justru di tengah percepatan teknologi, nilai-nilai lokal dapat menjadi jangkar yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah. Dalam khazanah spiritual Jawa terdapat konsep sangkan paraning dumadi, yakni kesadaran tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan. Manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Dalam pengertian ini, hijrah bukan sekadar perjalanan menuju masa depan, melainkan juga perjalanan pulang menuju sumber keberadaan.

Tahun Baru Hijriah kali ini mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki bentuk hijrahnya sendiri. Jika dahulu hijrah berarti meninggalkan Mekah menuju Madinah, maka hari ini hijrah dapat dimaknai sebagai keberanian berpindah dari kebisingan menuju keheningan, dari reaktivitas menuju refleksi, dari kecanduan menuju pengendalian diri, dari kebencian menuju persaudaraan, dan dari kedangkalan menuju kebijaksanaan.

Berhijrah di abad ke-21 berarti berani membebaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan kesadaran yang hadir melalui teknologi, informasi, dan budaya konsumsi. Ia adalah keberanian menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi, hadir di ruang digital tanpa kehilangan kedalaman spiritual, serta terhubung dengan dunia tanpa kehilangan hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan.

Sebagaimana hijrah Nabi melahirkan peradaban Madinah yang agung, hijrah kesadaran pada era digital juga jalan melahirkan peradaban baru: peradaban yang memadukan kecanggihan teknologi dengan kedalaman spiritual, kecerdasan intelektual dengan kebijaksanaan batin, serta keterhubungan global dengan tanggung jawab kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, setiap hijrah adalah perjalanan pulang: pulang kepada kemanusiaan yang lebih utuh, pulang kepada kebijaksanaan yang hidup dalam tradisi dan budaya, dan pulang kepada Tuhan, sumber segala makna dan tujuan kehidupan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.