Pit viper Himalaya (Gloydius himalayanus) atau ular beludak Himalaya, adalah ular berbisa yang hidup hingga hampir 5.000 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu reptil tertinggi di dunia. Peneliti menemukan bahwa ia mampu bertahan di udara tipis dan suhu dingin ekstrem dengan bersembunyi di celah batu dan berjemur untuk mengatur suhu tubuh. Riset terbaru menemukan variasi genetik besar di antara populasi ular ini. Salah satu populasi bahkan diusulkan sebagai spesies baru bernama Gloydius chambensis, menunjukkan adaptasi cepat terhadap lingkungan pegunungan. Ular ini berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem gunung dengan mengendalikan populasi hewan kecil. Meski habitatnya sulit dijangkau dan masih kurang diteliti, studi lanjutan terus mengungkap rahasia adaptasinya terhadap udara dingin dan oksigen rendah di Himalaya. Di lereng batu Himalaya, tempat udara begitu tipis hingga napas terasa berat, ada kehidupan yang tak terduga. Seekor ular berbisa beradaptasi di antara suhu dingin dan tekanan oksigen rendah. Namanya Gloydius himalayanus, atau pit viper Himalaya, atau ular beludak Himalaya. Ular ini menjadi salah satu reptil yang hidup di ketinggian paling ekstrem di dunia, mendekati 5.000 meter di atas permukaan laut. Benar-benar hidup di atas awan. Bagi sebagian besar reptil, lingkungan seperti itu mustahil untuk ditinggali. Suhu siang hari jarang hangat, malam bisa turun hingga di bawah nol. Namun ular beludak Himalaya justru menjadikannya rumah. Ia hidup di antara bebatuan, padang tinggi, dan tebing terbuka, di mana sedikit makhluk lain sanggup bertahan. Sinar matahari menjadi sumber panas utama, dan celah batu menjadi tempat perlindungan dari udara beku. Ular beludak Himalaya (Gloydius himalayanus) di habitat…This article was originally published on Mongabay
Hidup di Atas Awan, Ular Ini Bertahan di Ketinggian Hampir 5.000 Meter di Lereng Himalaya
Hidup di Atas Awan, Ular Ini Bertahan di Ketinggian Hampir 5.000 Meter di Lereng Himalaya





Comments are closed.