Kampanye tribun bebas asap rokok di stadion sepak bola tidak selalu lahir dari regulasi pengelola stadion atau operator kompetisi. Di kalangan suporter Persija Jakarta, The Jakmania, gerakan itu justru berawal dari keresahan sejumlah anggota yang ingin menikmati pertandingan tanpa terganggu kepulan asap rokok.
Pendiri The Jakmania sekaligus penggagas Tribun Tanpa Asap Temmy Meliana mengatakan ia memang tidak menyukai bau rokok di sekitarnya. Ia dan beberapa rekan suporter nonperokok kerap terganggu oleh asap zat adiktif itu saat menyaksikan laga klub berjuluk Macan Kemayoran itu dari tribun Gelora Bung Karno (GBK).
“Dari zaman GBK masih bangku kayu, tiap melihat ada yang merokok, saya selalu kepikiran. Enak kali ya kalau lagi nonton bola di sekitar kita tidak ada asap rokok,” ujar Temmy kepada Prohealth, Jumat 19 Juni 2026.
Momentum yang menguatkan gagasan Tribun Tanpa Asap, kata Temmy, datang saat Persija berlaga di Piala AFC 2018 zona Asia Tenggara di Singapura. Saat menyaksikan pertandingan di Stadion Jalan Besar, Kallang itulah Temmy melihat langsung ketatnya aturan larangan merokok diterapkan oleh steward atau petugas stadion di negara tetangga.
“Waktu itu, di Indonesia belum ada aturan dilarang merokok di tribun, suporter Indonesia kan tidak tahu aturan di sana. Ada yang merokok, langsung ditarik dan disuruh turun dari tribun oleh petugas stadion. Saya pikir keren banget. Ada denda juga bagi yang melanggar. Ternyata stadion bisa benar-benar bebas asap rokok,” kata perempuan yang akrab disapa Bunda Temmy itu.
Tahun 2019, gerakan Tribun Tanpa Asap mulai digaungkan. Alasannya sederhana, stadion bukan hanya diisi laki-laki dewasa tetapi juga perempuan, anak-anak, bahkan bayi yang datang bersama keluarga mereka.
Menurut Temmy, banyak penonton nonperokok terpaksa berpindah-pindah tempat duduk demi menghindari kepulan asap. Kondisi itu dinilai mengurangi kenyamanan menonton dan mengganggu atmosfer dukungan di tribun.
“Yang nonton bola itu berbagai lapisan. Kalau satu tribun penuh orang tidak merokok, semuanya bisa fokus bernyanyi dan mendukung tim satu tribun. Tapi kalau merokok, orang jadi engap dan malas ikut bernyanyi,” ujar satu-satunya pendiri perempuan The Jakmania itu.
Pada awalnya, gerakan hanya dilakukan berupa imbauan. Namun, pendekatan itu, ucap Temmy, tidak cukup efektif bahkan sempat tak berjalan mulus. Lantas, Temmy rutin menyita suporter yang membawa rokok ke dalam tribun. Selain dukungan positif, Temmy mengaku tak sedikit cibiran, hujatan di media sosial, hingga ancaman pembunuhan ia terima. Sepanjang tahun 2019, Temmy berjibaku dengan penolakan sesama suporter Macan Kemayoran.
“Di IG tuh, saya dikata-katain. Belum lagi ancaman dibunuh di stadion. Banyak deh. Tapi saya tidak berhenti, karena concern dengan anak-anak kecil yang nonton bola, ibunya sibuk tukar kursi karena duduk dekat perokok. Bayangkan, 2×45 menit pertandingan anaknya terus menghirup asap rokok,” ucapnya.
Selain serangan digital, Temmy menceritakan kekerasan fisik yang dialaminya ketika menegur suporter yang tengah merokok di tribun. “Si perokok tidak mau matikan rokoknya, dia cuek. Tiga kali saya tegur, dia mendorong saya dari tangga, saya kaget. Tidak jatuh, tapi krek bunyi kaki saya,” tutur Temmy.
Kaki Temmy retak. Ia dilarikan ke rumah sakit dan harus cuti selama tiga bulan karena insiden tersebut. Meski begitu, ia tak jera merazia para penonton yang kedapatan merokok di tribun. Bahkan, dalam beberapa pertandingan, Temi berkeliling membawa kantong plastik untuk mengumpulkan rokok dan korek yang ditemukan.
Di balik konsistensinya terhadap Tribun Tanpa Asap, Temmy menyimpan alasan yang sangat personal. Berangkat dari pengalaman pribadi, ketika sang ayah meninggal dunia akibat kanker paru-paru. Yang membuatnya terpukul, sang ayah tidak pernah merokok. Paparan asap rokok dari lingkungan sekitar sebagai perokok pasif telah memberi dampak besar pada kesehatan ayahnya.
“Tahun 2012 akhir ayah saya kena Efusi Pleura (edema paru), paru-parunya terendam cairan dan harus disedot kurang lebih 1,5 liter tiap hari selama 3 bulan dipasangi selang. Dokternya bilang itu akibat dari asap rokok. Dari sana berkembang jadi kanker paru,” ucap Temmy.
Efusi pleura atau edema paru merupakan kondisi ketika jaringan dan kantung udara di dalam paru-paru yang seharusnya berisi udara, justru dipenuhi oleh cairan. Kondisi ini membuat tubuh kekurangan oksigen, sehingga penderitanya mengalami sesak napas.
“November 2013 ayah saya meninggal, kanker paru stadium 4. Saat itu saya rasa tidak adil. Ayah tidak merokok, terpapar asap teman-temannya yang rutin merokok. Sampai tahun 2019 ada gerakan ini, timbul lagi perasaan itu,” kata Temmy.
Pengalaman itu meyakinkan Temmy bahwa paparan asap rokok bukan persoalan sepele dan dapat berdampak serius bagi kesehatan orang lain. Karena itu, setiap kali melakukan razia rokok di tribun stadion, yang terlintas di benaknya bukan sekadar menegakkan aturan, melainkan melindungi sesama penonton—terutama anak-anak, perempuan, dan mereka yang tidak merokok—agar tidak mengalami risiko yang sama akibat paparan asap rokok.
“Kalau saya bisa bantu anak-anak penerus bangsa dari asap rokok. Kalau saya tidak bisa bantu di rumah, saya bantu dari stadion. Itu yang buat saya berani merazia anak-anak perokok sampai sekarang,” ucapnya.
Kini, seluruh tribun dalam laga kandang Persija menerapkan larangan merokok tanpa pengecualian. Penonton yang ingin merokok diarahkan untuk keluar dari area tribun terlebih dahulu.
Gerakan Tribun Tanpa Asap semakin memiliki landasan hukum yang kuat dengan hadirnya Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta Nomor 7 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Regulasi ini menegaskan bahwa fasilitas umum, termasuk area stadion dan ruang aktivitas publik lainnya, ditetapkan sebagai kawasan yang wajib bebas asap rokok.
Meski masih ditemukan pelanggaran, Temmy menilai perubahan perilaku suporter cukup signifikan dibandingkan tujuh tahun lalu. Banyak penonton yang sebelumnya merokok di tribun kini memilih merokok di luar area stadion atau saat jeda pertandingan.
“Kalau dibandingkan awal kampanye dulu, kemajuannya jauh. Sekarang banyak yang sudah sadar bahwa menonton tanpa asap rokok itu untuk kenyamanan bersama. Yang dibutuhkan tribun bukan asap rokok, tapi suara dukungan suporter. Stadion harus jadi tempat yang nyaman untuk semua orang,” ujarnya.
Dominasi penonton laki-laki kerap membuat kebiasaan merokok di tribun dianggap wajar, padahal dampaknya dirasakan oleh seluruh penonton di sekitarnya. Ketika semakin banyak perempuan dan anak hadir menjadi bagian dari komunitas suporter, kebutuhan akan stadion bebas asap menjadi semakin mendesak. Karena itu, gerakan seperti Tribun Tanpa Asap menjadi langkah penting untuk membangun budaya suporter yang lebih inklusif dan menempatkan kenyamanan bersama di atas kepentingan individu.
Selain Persija Jakarta, klub bola lainnya Persebaya Surabaya juga telah menginisiasi tribun keluarga berupa area khusus di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) untuk memfasilitasi keluarga yang membawa anak-anak mereka menyaksikan laga tim berjuluk Bajul Ijo itu.
Pihak Persebaya telah dihubungi untuk dimintai keterangan terkait inisiasi tersebut. Namun, sampai berita ini diterbitkan, belum ada respons maupun pernyataan resmi yang diterima.
Tribun keluarga ditempatkan di Gate 1 stadion. Tempat yang biasanya digunakan untuk suporter tim tamu ini wajib bebas dari asap rokok, flare, dan ujaran kebencian. Tribun khusus ini digagas sejak tahun 2023.





Comments are closed.